pondok kopi kerinci
cerpen, Lomba

Pondok Kopi Apak

“Diminum Pak kopinya.” Secangkir kopi panas kuhaturkan di atas meja sebagai upeti negosiasi.

“Iya… Terimakasih.”

“Hmmm… Bagaimana Pak dengan tawaran kami untuk tinggal bersama di Jakarta? ” Mas Beno membuka percakapan dengan kikuk.

Apak diam. Pria paruh baya itu asik membuat catatan  di buku besar. Aku dan mas Beno saling berpandangan. Suasana pun makin aneh ketika Apak tekun berdiam. Kami bagai dua penunggu kedai kopi . Setia menanti pelanggan terakhir yang tak mau pulang tapi juga tak memulai  seruput pertama. Lanjutkan membaca “Pondok Kopi Apak”