Jelajah Flores Bersama Avanza

destinasi wisata pertama  pantai Kajuwulu , Maumere
destinasi wisata pertama pantai Kajuwulu , Maumere

Roda Avanza berputar menyusuri pulau bertajuk Flores sepotong surga di timur nusantara. Tak ada jeda untuk menunda asa. Mari sambangi keindahannya dan ceritakan melalui kata.

***

Saya dan Elyudien berencana menjelajah Flores bersama emak-emak backpacker. Rosi, Evi dan Herlina wanita 40 tahunan yang memilih menggendong ransel dibandingkan menjinjing tas Hermes. Awalnya berniat menumpang kendaraan umum. Namun dengan pertimbangan efisensi waktu dan tenaga kami menyewa kendaraan. Pilihannya jatuh pada Avanza G yang hemat bahan bakar , tangguh di segala medan dan nyaman.

1387518413517621222
singgah sejenak di rumah makan Resto 78 menikmati kuliner lokal

Avanza G melaju tanpa henti menuju pantai Kajuwulu , Maumere , Nusa Tenggara Timur. Untuk kesekian kalinya decak kagum keluar dari bibir melihat keindahan pertama di Flores. Setelah menapaki puncak bukit decak kagum berubah jadi jeritan histeris. Flores oh Flores surga tersembunyi.

13875185211979047662
menjelang sore sampai di Wolofea

Fidel juru kemudi mengantar ke desa Poma melalu jalan Maumere-Ende. Sesampai di Wolofeo aspal mulus bergnati jalan berbatu, sesekali melewati sungai kecil berarus deras. Meski saya ragu , Avanza G mampu melewati tanpa kendala hingga menjelang malam kami tersesat di pertigaan Loke , pasar Situmage. Beberapa penduduk menyarankan bermalam di komplek Paroki Wolofea karena desa Poma masih jauh dan tidak bisa dilalui kendaraan roda empat.

13875185831086308261
simpang Loke , siang hari menjadi pasar kaget Situmage

Tersesat bukan hal buruk , di sini kami menemukan kearifan lokal pasar Situmage. Berdendang bersama anak-anak SD Inpres Detunaka desa Poma dan akhirnya melihat keajaiban alam air terjun kembar Murusobe. Rasanya ini bukan perjalanan biasa , mirip dengan mengunjungi kerabat yang sudah lama tak bertemu. Ada keramahan dan senyum dimana-mana.

13875186781878452025
tetap semangat – Bu Herlina trekking menuju air terjun kembar Morusobe

Menjelang siang kembali ke Maumere menjemput Lusi sahabat Rosi dan Evi. Dengan pertimbangan keamanan dan kenyamanan kami menyewa satu unit lagi Avanza . Rosi , Evi dan Lusi menumpang Avanza yang dikemudikan Fidel. Sedangkan Avanza saya , Elyudien dan Bu Herlina dikemudikan Boni, pemuda asli Maumere berusia 25 tahun. Sekarang dua Avanza meluncur di jalanan Maumere-Ende.

Rencananya sebelum malam sampai di Moni agar cukup istirahat karena besok pagi trekking ke danau tiga warna Kelimutu. Namun estimasi waktu bergeser gara-gara singgah sejenak di bangunan bersejarah saksi perkembangan agama Katolik di Flores , gereja Sikka dekat pantai Sawu.

13875187651830992202
interior Avanza nyaman – Elyudien terkantuk-kantuk sebelum berburu sunrise di Kelimutu

Rasa kantuk luar biasa menggelayut di pelupuk mata dalam balutan udara dingin Moni membuncahkan kerinduan akan peraduan. Hanya tidur 3 jam saja sebelum melanjutkan perjalanan ke danau Kelimutu. Beruntung interior Avanza G luas dan nyaman, bisa mencuri tidur beberapa menit. Kasihan Boni tetap membawa kendaraan . Sabar ya Bon, akan ada banyak waktu nanti menjelang kami trekking di Kelimutu.

Tidak sia-sia trekking dalam balutan udara dingin di ketinggian 1700 mdpl, menyaksikan kilau jingga menerawang di angkasa, lambat laun menerangi tiga danau berwarna putih, hijau dan hitam. Tak banyak kata terucap mengungkapkan kekaguman, semua hening berdiri menikmati keajaiban alam Flores yang mendunia danau Tiga Warna Kelimutu.

13875188711667312797
keluar dari pintu gerbang danau Tiga Warna Kelimutu

Bukan Flores namanya jika di sepanjang perjalanan tidak mendapatkan bonus alias destinasi wisata dadakan di luar itinerary. Siapa yang tidak akan tergoda melihat pantai berbatu hijau di jalan lintas Ende-Bajawa. Belum lagi keunikan desa Wologai mempersiapkan ritual Gawi dan upacara pengangkatan Mosolaki, tetua adat. Pertemuan dengan Clement di Kelimutu memberi warna perjalanan ini. Karena pria asal Perncis memutuskan bergabung bersama kami menjelajah Flores.

13875189341073475557
Avanza dan Elyudien dengan latarbelakang pantai batu hijau

Penginapan Nirwana Riung menjadi persinggahan selanjutnya, hanya untuk tidur beberapa jam lalu pagi hari island hoping di Taman Nasional 17 Riung. Lagi-lagi estimasi sampai di Riung meleset, beberapa titik jalan rusak berat. Minimnya lampu jalan membuat mobil yang dikemudikan Boni terpuruk ke dalam lubang besar.

1387518993649884982
Rosi , Evi dan Lusi bersiap hopping island – Hotel Nirwana

Taman Nasional 17 Riung pernah masuk nominasi warisan dunia UNESCO tahun 2005. Keindahan dunia bawah laut berbanding lurus dengan kecantikan 20 kecil di atasnya. Perahu kayu kami melaju ringan lalu singgah di pulau berpasir putih Tepa dan Rutong.

1387519100985677182
kondisi jalan ekstrim di bumi Flores

Perjalanan panjang overland Flores membutuhkan performa kendaraan yang prima. Tidak salah menjatuhkan pilihan kepada Avanza. Gunung dan pantai menjadi menu wajib harian. Setengah hari di daerah pantai Riung berikutnya menuju pegunungan di Bajawa untuk bermalam. Pagi harinya mengunjungi kampung Bena dan rumah Retret Mataloko. Kemudian turun ke pantai selatan menuju kota Aimere dan kemudian ke kota di balik awan, Ruteng. Bonusnya mengunjungi tempat pembuatan Sofi minuman tradisional, danau Ramanese dan gua manusia purba Liang Bua.

13875191991283307479
berhenti sejenak di pinggir jalan menikmati keindahan gunung Irene

Flores tidak hanya identik dengan sabana kuning emas. Melewati kabupaten Manggarai , lumbung padi Flores terlihat petak hijau royo-royo. Tapi yang paling unik sawah berbentuk sarang laba-laba di Cancar. Inilah Lingko , merupakan sistem pembagian areal persawahan yang sarat filosofi dan kearifan lokal.

Perjalanan antara Cancar dan Dintor melewati pegunungan dan pantai selatan. Pulau Molas terlihat indah dari penginapan bapak Martinus tapi bukan itu tujuan kita . Rumah-rumah berbentuk kerucut di Wae Rebo menjadi peraduan malam ini tapi harus dibayar dengan hikking dan trekking selama 3 jam menyusuri sungai dan tebing terjal.

13875192861240268721
melalui jembatan kayu perjalanan menuju Dintor

Bermalam di Mbaru Niang – rumah adat yang mendapatkan penghargaan tertinggi konservasi bangunan tua oleh UNESCO – merupakan destinasi pamungkas perjalanan ini selain Taman Nasional Komodo. Senyum ramah warga Wae Rebo mengingatkan malam di Faroki Wolofeo ketika tersesat menuju desa Poma. Bercengkrama mengelilingi pelita kecil sembari sesekali mengecap nikmatnya kopi Flores.

1387519351180844046
saatnya berpisah dengan Boni dan menyelesaikan uang sewa

Labuan Bajo tujuan akhir Avanza tapi bukan penutup perjalanan. Kami berpisah dengan Figel dan Boni sebelum menjelajah Taman Nasional Komodo. Terimakasih Figel dan Boni yang telah mengantar menjelajah Flores dari timur ke barat bersama Avanza.

13875193981896657643
bagasi luas – Avanza benar-benar jadi rumah selama perjalanan di Flores

Meski kami semua baru saling mengenal , perjalanan ini menyatukan hati dan pikiran. Ada kerinduan ketika harus berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Avanza bagai rumah berjalan yang menaungi keluarga baru di Flores. Keluarga yang memberi kekuatan melewati berbagi rintangan di perjalanan.

138844088891746611
garis ungu – rute perjalanan menjelajah Flores bersama Avanza

Kenangan tentang Flores selalu membuat saya tersenyum sekaligus rindu. Berharap satu saat bisa kembali menjelajah bersama Avanza menyusuri pulau-pulau di nusantara sekaligus menyaksikan keindahan alam dan keunikan budaya Indonesia.

***

21 pemikiran pada “Jelajah Flores Bersama Avanza

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.