Dendang SD Inpres Detunaka, Flores

Selamat Pagi ! - sapa murid SD Inpres Detunaka, Nusa Tenggara Timur
murid SD Inpres Detunaka

Perjalanan panjang menuju air terjun Murusobe di desa Poma, kecamatan Paga, Kabupaten Sikka,  Flores Nusa Tenggara Timur. Menuntun kami melihat potret kehidupan masyarakat di timur Indonesia dari dekat. Kehidupan sederhana tapi tidak membuat masyarakatnya merasa kekurangan karena alam telah menyediakan segalanya.

Meskipun tidak memiliki keyakinan religi sama, malam ini kami bermalam di kompleks Paroki Wolofea. Awalnya berniat menginap di Poma, desa terdekat dari air terjun. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi terpuruk di simpang Loke dekat pasar Situmage. Berdasarkan informasi masyarakat lokasi desa Poma masih sangat jauh, sekitar 1,5 jam mengendarai sepeda motor. Kontur ekstrim jalan perbukitan  tidak bisa dilalui pada malam hari. Untung saja kami bertemu dengan Romo Anis, dengan tangan terbuka beliau menerima kami sebagai tamunya malam ini.

Usai makan malam kami  bercengkrama dengan warga sekitar dan Romo Anis di ruang makan sambil menonton televisi. Mungkin inilah satu-satunya hiburan yang bisa dinikmati sebelum tidur. Pembangkit listrik swadaya (genset) mensuplai listrik hingga jam 10 malam saja. Sinyal telepon seluler pun jauh dari genggaman, jika memaksa harus naik ke tempat yang lebih tinggi.

Menjelang pagi kami bergegas menuju Poma dengan menggunakan jasa ojek. Melalui jalanan terjal menyusuri bukit , pemandangan memukau sekaligus menguras adrenalin. Lengan saya kuat menggapit pinggang Yohanes, sang pengendara ojek. Seolah tak ingin terlontar jatuh ketika motor berusahan mendaki jalanan curam.

“Bagaiman jika musim hujan tiba?” tanya saya  kepada Yohanes. Yohanes pun menjawab jika musim tiba, jalan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki saja . Masyarakat sudah terbiasa berjalan kaki menuju Wolofeo, karena di sanalah satu-satunya pasar mingguan  dan sekolah setingkat SLTP. Jadi tidak mengherankan jika pagi ini kami berpapasan dengan para Mama pergi ke pasar . Jalan ini tidak hanya  berfungsi sebagai sarana transportasi, tapi juga pendukung kegiatan ekonomi. Jika kondisi jalan rusak parah , terkadang masyarakat memperbaiki secara swadaya. Namun jika musim hujan datang timbunan tanah semi permanen akan hanyut terbawa air.

Ucapan selamat pagi diiringi senyum selalu terlontar dari  penduduk  kami jumpai di jalan. Kearifan lokal sederhana namun sulit dijumpai di kota besar. Anak-anak berseragam merah putih menyapa  penuh kecerian, berangkat menuju sekolah. Terkadang hanya beralaskan sendal jepit tanpa membawa banyak buku .

Sesampai di Poma kami  berhenti di depan SD Inpres Detunaka. Bangunan sederhana dengan  tiga  ruang kelas dan satu ruang kepala sekolah berdiri menghadap jalan kecil.  Beberapa anak melongok dari balik jendela kelas dan lainnya memandang kami dari balik pagar bambu di depan sekolah. Mereka mengira kami wisatawan mancanegara. Karena lokasinya yang sulit dijangkau, air terjun Murusobe lebih diminati wisatawan asing dibandingkan wisatawan domestik. Satu persatu murid yang ada di lapangan menghampiri lalu  mengucapkan selamat pagi. Ketika mereka tahu kami bisa berbicara bahasa Indonesia, komunikasi terjalin makin akrab. Keakraban  menawarkan rasa tegang setelah ber-off road ria di atas motor. Kembali melanjutkan perjalanan,  trekking menuju air terjun kembar nan eksotis di Poma , Murusobe.

Sepulang kami dari air terjun sambutan para murid lebih ramai. Beberapa guru ikut datang menyalami dan berkenalan. Salah satunya Ibu Maria, dengan ramah beliau bercerita bahwa murid-murid di sini berasal dari desa sekitar. Untuk sampai di sini terkadang mereka harus berjalan belasan bahkan  puluhan kilometer. Begitu juga dengan tenaga pengajar, seperti Romo Anis yang  mengajar seminggu sekali. Jika musim hujan tiba jalan tidak bisa dilalui sepeda motor. Maka Romo Anis harus berjalan kaki dari Wolofeo sekitar 3 jam . Inilah potret nyata pendidikan di negeri ini. Minimnya infrastruktur jalan atau jembatan mengharuskan murid dan guru berjuang lebih untuk sampai di sekolah. Tapi semua rintangan bukanlah penghalang  meraih cita-cita. Mereka tetap beresemangat sekolah di tengah keterbatasan. Sebelum berpamitan , kami bernyanyi bersama dengan anak-anak SD Inpres Detunaka. Mendendangkan lagu wajib nasional Padamu Negeri.

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Lagu karangan Kusbini menjadi begitu bermakna dilantunkan anak-anak ini. Menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme. Mereka berjanji akan  melakukan yang terbaik bagi negeri Indonesia. Tiba-tiba sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya. Kita sama-sama berada di pangkuan Ibu Pertiwi. Tapi mengapa mereka  tidak memiliki kesempatan yang sama. Sebuah pertanyaan yang harus kita jawab bersama.

SD Inpres Detunaka, Desa Poma, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka
SD Inpres Detunaka, Desa Poma, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka (sumber:koleksi pribadi)
swadaya -  secara mandiri warga memperbaikin jalan rusak
swadaya – secara mandiri warga memperbaikin jalan rusak (sumber:koleksi pribadi)
Ibu Maria - pengajar di SD Inpress Detunaka
Ibu Maria – pengajar di SD Inpress Detunaka (sumber:koleksi pribadi)
dendang - bernyani bersama murid SD Inpres Detunaka
dendang – bernnyanyi  bersama murid SD Inpres Detunaka (sumber:koleksi pribadi)
bonus - keajaiban alam air terjun kembar Murusabe (sumber:koleksi pribadi)
bonus – keajaiban alam air terjun kembar Murusobe (sumber:koleksi pribadi)

5 pemikiran pada “Dendang SD Inpres Detunaka, Flores

    1. iya biasa aja kyknya mrk ga pake sepatu… tapi anak sana ramah2 dan sopan2 , ketemu ortu di jalan langsung berhenti n kasih salam.

      ini anaknya masih bersih2, kmrn nemu ada yg ingusnya meler2

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.