Memaknai Hand in Hand Dari Sebuah Perjalanan

hal kecil bermakna

Tangan kecil itu menyambut uluran tangan kami dengan erat. Awalnya mereka ragu tapi ketulusan membuat senyum mereka mengembang. Mungkin yang kami berikan tidak seberapa tapi mampu membuatnya bahagia.

Travelling memberikan kesempatan saya untuk melihat sisi lain kehidupan, menyambangi langsung saudara-saudara kita di pedalaman bumi pertiwi yang kurang beruntung. Dan akhirnya menumbuhkan rasa empati yang besar sekaligus memaknai perjalanan bukan hanya tentang saya , tapi juga orang tentang orang lain. Bagaimana perjalanan ini memberikan manfaat bagi orang lain yang membutuhkan .

“Tapi saya tidak punya apa-apa untuk diberikan kepada mereka”. Sebaris kalimat terucap dari bibir saya.

” Berbagi tidak harus dimulai dengan hal-hal yang besar”, ujar Bu Herlina (50) rekan perjalanan ketika menjelajah bumi Flores. Seorang ibu rumah tangga  yang mendidikasikan kehidupannya untuk kegiatan sosial. Banyak inspirasi yang saya dapatkan dari beliau.

Pengobatan gratis di Dintor - Flores Nusa Tenggara Timur
Antusias warga pengobatan gratis di Dintor – Flores Nusa Tenggara Timur

Ketika kami di Dintor, Nusa Tenggara Timur tanpa segan dirinya  bergabung dengan aksi sosial yang diadakan persatuan ikatan dokter setempat. Sepulang dari Wae Rebo , kami melihat Si Mami (panggilan kami untuk bu Herlina) sudah berbaur dengan relawan di depan gereja tempat pengobatan gratis berlangsung. Kebetulan Si Mami tidak ikut naik ke Wae Rebo karena fisiknya yang tidak mendukung paska operasi tulang belakang beberapa tahun yang lalu. Jadi waktu jalan-jalannya diganti dengan kegiatan sosial.

Melihat antusiasme warga di acara pengobatan gratis menunjukan betapa minimnya pelayanan kesehatan di sini . Warga harus berjalan belasan kilometer untuk sampai ke puskesmas . Begitu juga dengan fasilitas pendidikan , tidak ada tempat bagi anak-anak usia pra sekolah untuk bermain sambil belajar mengenal huruf dan angka lebih awal. Dan yang lebih memprihatinkan masih ada anak usia sekolah bermain di rumah karena terbatasnya jumlah sarana pendidikan.

Prihatin akan fenomena di atas, Si Mami berinisiatif mendirikan tempat belajar pra tk dan SD bagi anak-anak Dintor. Tepat satu bulan kemudian sebuah taman belajar sederhana berdiri dengan memanfaatkan bangunan semi permanen di samping penginapan milik Bapak Martinus Ango. Pengajarnya istri dan adik Bapak Martinus, Ibu Veronika dan Ibu Fransiska. Untuk Alat peraga dan fasilitas pendidikan mendapat bantuan dari Lions Club Jakarta Anjelier dan Medika Media serta donatur perorangan.

Penginapan Bapak Martinus Ango
Penginapan Bapak Martinus Ango

Materi bukan satu-satunya cara untuk berbagi, kita bisa berbagi keceriaan . Seuntas senyum dan keramahan bisa sangat berarti bagi orang lain. Masih dari perjalanan di bumi Flores kami singgah sejenak di SD Inpres Detunaka Poma  ketika menuju air terjun Murusobe. Menyambangi sebuah sekolah sederhana berpagar bambu,lalu bercengkrama dengan anak-anak dan guru serta bernyanyi bersama. Hal yang sama juga kami lakukan ketika singgah di sekolah seminari Mataloko. Pengalaman backpacking bersama ibu-ibu sangat berbeda dibandingkan dengan anak muda. Kepekaan hati kaum hawa mengantarkan saya memaknai sebuah perjalanan dari sudut yang berbeda. Lebih menggunakan hati.

murid SD Inpres Detunaka, Poma
Bernyanyi bersama murid SD Inpres Detunaka
Bercengkrama bersama murid-murid seminari Mataloko
Bercengkrama bersama murid-murid seminari Mataloko

Semangat ini terus tumbuh seiring berjalannya waktu. Saya tidak memiliki banyak uang untuk berbagi tapi bermimpi suatu saat menerbitkan buku yang hasil penjualannya seratus persen untuk kegiatan sosial. Namun berbagi tidak hanya impian besar saja. Perlu tindakan nyata dan konkrit walaupun kecil. Jadi jangan heran kalau dalam setiap perjalanan , ransel saya berisi berisi gula-gula , pensil dan buku mewarnai. Biarlah beban di pundah lebih berat dari biasanya tapi saya bisa melihat senyum bahagia.

Apakah kamu ingin berbagi
Bagi kamu yang ingin berbagi dengan adik-adik di Nias, Sumatra Utara tapi tidak memiliki kesempatan kesana. Silakan bergabung di program Hand in Hand bersama Tango Wafers. Dengan mengirimkan barang-barang layak pakai ke Gedung Orang Tua, Lingkar Luar Barat kav. 35- 36, Jakarta Barat atau kantor Female Daily Network di Kemang Raya No. 2, Jakarta Selatan.

Tango Hand in hand  merupakan lanjutan Program Tango Peduli Gizi Anak Indonesia (TPGAI) yang dijalankan sejak tahun 2010 berfokus pada perbaikan gizi anak Indonesia, terutama daerah terpencil. Tujuan utamanya mengukir senyum wajah anak Indonesia.Rencananya beragam bantuan akan langsung diserahkan kepada anak-anak di Nias bulan Oktober 2013 mendatang.

Jadi mari  berbagi dengan memberikan buku, mainan dan pakaian layak pakai sebelum 30 Agustus 2013. Jangan lupa sebarkan semangat ini dengan menginformasikan program Hand in Hand  ke  teman atau kerabat kamu. Bisa  lisan maupun  melalui media sosial. Mari lakukan hal kecil yang bermakna bagi orang lain.

May be we don’t have much money . But let’s together, make them smile in a simple way.

Tango

14 pemikiran pada “Memaknai Hand in Hand Dari Sebuah Perjalanan

  1. bener2 inspiratif. saya suka perjalanan semacam ini. banyak pelajaran yg bisa didapat. terima kasih mami herlina atas semangatnya. saya yakin indonesia pasti bisa keluar dari keterpurukan ini,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s