Aceh - Bumi Serambi Mekah Nan Elok Travelling

Banyak Islands Trip (part 1): Sevice First Pay Next

Keramba di Pulau Balai
Pulau Banyak

Aceh lagi?. Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Ibu ketika berpamitan ingin ke melakukan perjalanan menuju Kepulauan Banyak, Aceh Singkil. Karena bulan Desember tahun lalu saya baru saja melakukan menjelajah Bumi Serambi Mekah. Kalau dilihat dari geografisnya Kabupaten Singkil terletak di barat daya propinsi Nangro Aceh Darusalam dan berbatasan langsung dengan Propinsi Sumatra Utara.

Beberapa bulan belakangan ini, situasi keamanan Aceh agak sedikit memanas menjelang Pilkada. Beberapa rekan asal Aceh juga sempat memberi informasi bahwa keamanan di sana kurang kondusif dan menyarankan untuk lebih berhati-hati. Mungkin ini yang menjadi alasan utama kenapa tiba-tiba jumlah peserta turun drastis. Dari 13 orang, tiba-tiba menyusut menjadi 6 orang saja. Alasan lain mungkin dibuget, setelah survei ternyata di Pulau Banyak tidak bisa mengggelar tenda. Mau tidak mau kita harus menyewa cottage dan biaya makan relatif mahal, seratus ribu rupiah 3 kali makan.

Makan Malam di Cah Solo
Makan malam di Cah Solo

Pukul 19:00 WIB kami berenam: Saya, Oky. Yuni, Ice, Ervina dan Kety berkumpul di loket PO Himpak yang berada di Jalan Tritura Simpang STM, kota Medan. Setelah memesan tiket travel dan memastikan jam keberangkatan kamipun bergeser ke warung makan Cah Solo di depan jalan. Sambil menikmati pecel ayam dan soto ayam acara dilanjutkan dengan Dugem “Duduk Gembira”. Berkenalan dengan beberapa wajah baru diperjalanan ini sambil mengumpulkan “saweran” biaya transportasi dan akomodasi.

Kami berangkat lebih awal 30 menit, tepat pukul 20:30 meninggalkan kota Medan menuju Singkil. Mobil L300 yang kami tumpangi bergerak ke kawasan perbukitan Brastagi. Sebetulnya ada transportasi yang lebih nyaman dibandingkan travel berpenumpang 11 orang ini, yaitu dengan mengendarai mobil kijang yang ongkosnya lebih mahal 35 ribu.Tapi demi asas filosofi jalan-jalan murah transportasi Rp 75000 ini yang menjadi pilihan.

warung di kawasan Merek
warung di kawasan Merek

Meskipun mobil yang kami tumpangi tidak menggunakan pendingin udara, malam terasa sangat dingin. Dengan lincah L300 menerobos sedikit kemacetan di jalan. Tepat dinihari kami singgah sejenak di sebuah kedai yang berada di kawasan Merek. Segelas bandrek susu dan roti ketawa menemani istirahat malam ini. Sebetulnya agak aneh juga mendengar nama roti ketawa. Karena ketika dimakan tidak bisa bikin tertawa , teksturnya cukup keras. Baru bisa dikunyah setelah direndam di dalam air. Tapi sudahlah , lumayan untuk mengganjal perut di malam hari.

Pecel Ayam VS Roti Ketawa
Pecel Ayam VS Roti Ketawa

Setelah istirhat 30 menit perjalanan dilanjutkan kembali. Tapi tepat satu jam berikutnya sang supir menghentikan mobilnya di depan pintu gerbang Taman Iman. Awalnya sempat bingung, tapi belakngan tahu kalo sang supir mengantuk dan ingin tidur sejenak. Ok deh… kami pun berjalan-jalan sebentar di sepanjang jalan sambil menikmati musik dan foto narsis. Karena merasa kantuk yang semakin dalam, diperjalanan sayapun teridur dengan pulas. Maklumlah ini malam saya yang kedua di jalan setelah melewati 27 jam perjalanan bus Jambi-Medan. Antara sadar dan tidak sayapun sempat mendengar suara ribut-ribu beberapa rekan. Sepertinya mereka mengeluhkan sesuatu tentang sang supir. Oh ternyata sepanjang saya tidur tadi sang supir sempet berhenti selama beberapa kali dan tertidur beberapa jam.

Sinar matahari pagi membangunkan saya bersama derungan suara mesin yang dipacu kencang. Arloji menunjukan pukul 7 kurang 15. Seharusnya pukul 5 pagi kami sudah sampai di pelabuhan Pulok Saro , Aceh Singkil. Rumah-rumah sederhana di tepi pantai sudah terlihat dan aroma laut sudah tercium. Sepertinya pelabuhan sudah dekat tapi tetap saja ada rasa kekhawatiran tertinggal kapal.

Pelabuhan Pulo Sarok
Pelabuhan Pulo Sarok

Tepat pukul 07:30 kami sampai di sebuah pelabuhan kecil di tepi jembatan. Beberapa kapal kayu tertambat menunggu penumpang. Kesibukan memuat barangpun sudah terlihat, beberapa sudut kapal dipenuhi barang. Tanpa komando kami langsung naik ke atas kapal dan mencari tempat duduk di antara tumpukan barang. Setiap harinya ada dua penyebrangan kapal kayu menuju Pulau Balai yaitu pukul 08:00 dan 13:00. Sedangkan penyebrangan kapal Feri hanya ada di hari selasa. Dari pelabuhan ini juga ada kapal menuju Pulau Nias.

Pelabuhan Lama
Pelabuhan Lama
sisa bencana Tsunami
sisa bencana Tsunami

Beberapa menit kapal akan berangkat tampak dua wisatawan mancanegara tergopoh-gopoh menaiki kapal. Barang bawaannya berupa papan selancar membuat kapal ini semakin sesak. Rasanya baru pertama kali ini saya naik kapal kayu yang dimuati banyak penumpang dan barang. Pelan-pelan kapal meninggalkan pelabuhan menyusuri muara.Tampak beberapa bangunan pelabuhan besar sisa bencana tsunami.

penyebrangan 3.5 jam
penyebrangan 3.5 jam
burung camar
burung camar

Penyebrangan selama 3,5 jam cukup membosankan. Setelah mencoba tidur sejenak ternyata mata susah untuk dipejamkan. Beberapa rekan sayapun juga sibuk mencari kesibukan. Ada Oki yang mengobrol dengan seorang bapak penduduk lokal. Di sisi lain Kety rekan backpacker asal Jakarta sibuk mengobrol dengan dua wisatawan asal Australia. Mendekati Pulau Balai pemandangan mulai tampak indah. Iringan awan putih di atas langit dan laut biru sangat kontras. Burung camar bergerak lincah mencari ikan di birunya. Samar-samar terlihat gugusan pulau yang dipenuhi rumah penduduk. Pulau Banyak sudah terlihat, beberapa penumpang pun bersiap-siap untuk turun.

pulau-pulau kecil
pulau-pulau kecil
Pulau Balai
Pulau Balai

Ketika ingin turun , tiba-tiba saya dan Oki teringat sesuatu. Sepertinya kami belum membeli tiket dan membayar penyebrangan. Setelah bertanya kepada penumpang lain barulah kami tahu bahwa pembayaran penyebarangan setelah sampai di Pulau Balai. Wah ternyata kepuasaan konsumen di sini sangat dijaga. Mungkin mereka memiliki slogan ” service first pay next”

 

RELATED STORIES
Sevice First Pay Next
Transit di Pulau Balai
Jejak Besar di Palambak Besar
Ngintip Cottage di Palambak Besar
Sore Hingga Malam di Palambak Besar
Pagi… Berburu Sunrise di Palambak Besar
Island Hopping sampai Hopeless

6 komentar

  1. keren catpernya gan… ini yang menang sayembara kaskus travelsita itu kan?hahahah
    kalo boleh tau, jambi-medan sama medan-singkil nya pake travel apa ya? rencana mau pergi juga ni 😀

    Suka

    1. kalo dari jambi medan kmrn naik rapi terus tarnsit bentar di rumah temen malemnya naik himpak … kalo travel himpak kontkanya ada di thread kaskus… asli mana gan? jambi juga?

      Suka

  2. Tahun Baru Kemarin sy Ke Pulau Banyak..hem..ternyata Bng erwin itu sudah menjual Cottage nya dengan orang asing…trus sy jalan2 ke bangkaru..asyik..ke tailana, ujung sialip bagus bngt bung…lain kali kesana…nge camp di Pulau asok ajib deh..

    Suka

    1. juni yukkkk pas festival penyu , saya belum ke bangkaru… kalo ngecamp ijin dengan siapa?
      kalo cottage dah dijual yg kelola asing berarti tarif dollar or euro donk

      Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.