Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

Malam ini tanggal 26 Desember 2011, kami berangkat menuju kota Banda Aceh dengan menggunakan travel. Menuju kota yang pernah diporakporandakan tsunami tujuh tahun yang lalu. Ada perasaan haru mengingat kenangan memilukan bangsa ini. Di sepanjang jalan terdengar acara doa bersama yang dikumandangkan dari masjid masjid di Aceh.

Menjelang pukul empat pagi sampailah kami di daerah Ulee Kareng. Setelah menitipkan tas di kosan Vira, rekan berkelana di Takengon. Kami  menjelajah kota Banda Aceh dengan berjalan kaki. Ternyata angkutan kota di sini relatif susah dan mahal. Tarif becak motor dipatok Rp 3000 per kilometer. Alternatifnya  mencari sewa kendaraan bermotor. Setelah rekan kami, Oki berputar  kota dan bertanya melalui rekan backpacker di sini, agak sulit mencari sewa roda dua dengan kondisi yang layak.

Di tengah kondisi yang tidak pasti, satu pertolongan Tuhan datang. Teman lama Rahmad dan Jalo yang berasal dari Gunung Tua bersedia mengantar kami berkeliling kota Banda Aceh. Sekitar pukul 10 pagi, Bang Yusup dengan mobil avanza berwarna silver datang menjemput kami.

Kesan pertama berada di pusat kota Banda Aceh  sangat rapih dan bersih. Paska tsunami kota ini benar-benar di tata ulang. Setelah puas berkeliling, tujuan utama kami adalah museum tsunami. Bangunan dengan arsitektur unik yang bersada di jalan Sultan Iskandar.

Museum tsunami merupakan rancangan arsitek indonesia M Ridwa Kamil dengan mengusung konsep Rumoh Aceh as Escape Hill. Rumah panggung  tradisional aceh yang berfungsi  sebagai bukit evakuasi (escape hill) bila terjadi bencana tsunami. Kesan futuristik diperkuat dengan ornamen anyaman segienam di sepanjang dinding bagian luar.

Memasuki museum imajinasi kita akan di bawa ke dalam suasana gemuruh air bah tsunami. Lorong tsunami (tsunami alley) yang gelap dan panjang menyambut pengunjung . Ada perasaan takut dan sedih seolah di bawah gulungan air bah yang dingin membuat bulu kuduk berdiri. Suasana ini membangun rasa bahwa manusia hanya mahluk yang lemah ketika berhadapan dengan kekuatan alam.

Setelah melewati lorong tsunami pengunjung akan memasuki ruangan yang terdiri dari monumen yang di atasnya terdapat LCD yang berisikan foto-foto peristiwa tsunami. Monumen yang tersebar di undakan sekilas seperti deretan batu nisan  di kuburan. Suasana gelap semakin memperkuat suasana mistis.

Suasana haru pun semakin dibangun ketika memasuki ruang sumur berdoa. Deretan nama korban bencana tsunami memenuhi dinding ruangan berbentuk cerobong asap menjulang. Langit-langitnya terdapat mozaik tuliskan arab berlafadzkan Allah. Minimnya cahaya membuat mozaik terlihat dominan namun sangat jauh karena tingginya langit langit. Samar samar terdengar suara orang mengaji dengan gemanya yang memenuhi ruangan.

Pengunjung diarahkan ke lantai dua dengan sebuah jembatan futuristik yang menjadi center point gedung. Di bagian bawah terdapat kolam besar yang dikelilingi tempat duduk. Sedangkan bagian atasnya langit langit transparan berstruktur baja dengan ornamen nama-nama negara yang membantu proses pemulihan  Aceh.

Memasuki ruang pamer temporer , disuguhkan foto pra , saat dan paska tsunami. Foto dengan suasana dramatis menggugah kenangan 7 tahun yang lalu. Apalagi rekan kami Ria asal Takengon merupakan saksi hidup bencana tsunami. Semasa SMA dia menuntut ilmu di Banda Aceh. Dengan detail dia menceritakan bagaimana tsunami menghancurkan kota Banda Aceh. Pengalamannya ikut evakuasi bersama tetangga dan baru bisa bertemu keluarga setelah tiga hari.

Sayang sekali kami tidak bisa masuk ke ruang audio visual yang merupakan mini theater pemutaran film. Dikarenakan waktu yang terbatas menjelang istirahat siang .

Menapaki lantai ketiga pengunjung diajak menyaksikan benda-benda memoribilia setelah tsunami, seperti sepeda motor atau sepeda yang hancur. Beberapa diorama yang menggambarkan bencana tsunami di beberapa daerah menggambarkan betapa dasyatnya bencana ini. Terlihat hempasan air bah setinggi pohon kelapa memporak porandakan kampung penduduk di tepi pantai. Namun ada juga bangunan masjid yang tetap berdiri walaupun dihempas tsunami.

Paska mengalami bencana alam manusia sejogjanya tidak hanya diam dan meratapi kemalangan. Belajar dari semua gejala dan fenomena alam membawa manusia menjadi mahluk berilmu dan lebih mawas diri. Oleh karena itu di lantai tiga terdapat ruangan informasi dan ilmu pengetahuan alam tentang tsunami yang dilengkapi dengan alat peraga dan ruang simulasi.

Sebagai sumber kajian dan literatur museum tsunami dilengkapi dengan perpustakaan dengan buku buku bertemakan tsunami dan bencana alam dari seluruh dunia.

Setelah mengunjungi museum tsunami, saya berpikir  meskipun manusia dan alam hidup berdampingan. Namun terkadang satu dengan yang lain tidak bersahabat. Manusia terlalu sering merusak alam dengan segala kepentingannya dan alampun terkadang merusak kehidupan manusia dengan bencana. Bencana yang terjadi merupakan reaksi alami alam untuk mencapai keseimbangan agar bumi tetap bisa bertahan. Pertanyaannya sekarang, apakah manusia mampu selalu bertahan di kondisi alam yang paling buruk? Hanya waktu dan ilmu pengetahuan yang bisa menjawab.

Jelajah Aceh 2011 (part 1): Awal Yang Tak Selalu Indah

Jelajah Aceh 2011 (part 2) : Lut Tawar Begitu Menggoda

Jelajah Aceh 2011 (part 3) : Uji Nyali dan Dingin.. Brrrr

Jelajah Aceh 2011 (part 4) : Ayo Bergaya ke Burgayo

Jelajah Aceh 2011 (part 5): Labi-Labi Berjodoh

Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

Jelajah Aceh 2011 (part 7) : Tidur Dimana?

Jelajah Aceh 2011 (part 8): Berlayar ke Ujung Barat Indonesia

Jelajah Aceh 2011 (part 9) : Santai di Pantai, Slow di Pulauuuu

Jelajah Aceh 2011 (part 10) : Keheningan Iboih

Jelajah Aceh 2011 (part 11): Check Out!

Jelajah Aceh 2011 (part 12) : Pengelana Senja

Jelajah Aceh 2011 (part 13) : Bukan Wisata Kuliner Biasa

Jelajah Aceh 2011 (part 14): Memburu Sunrise Benteng Jepang.

Jelajah Aceh 2011 (part 15) : Pantai di Kota Sabang

Jelajah Aceh 2011 (part 16) : Dari Off Road Sampai Nol Kilometer

Jelajah Aceh 2011 (part 17): Sabang, Happy New Year!!!

Jelajah Aceh 2011 (part 18) : Pulang dan Berpisah

Jelajah Aceh 2011 (part 19) : Yang Unik Dari Sabang

 

Simak Yuk Serunya #NekadTraveler

 

4 pemikiran pada “Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

    1. berasa bener ce kalo masuk ruangan yg ada nama2nya liat ke atas ada tulisan ALLAH terus denger org ngaji , dikeliling kita ada nama2 korban.. gw rasa kalo sendirian di situ gw bisa nangis… ada nama2 yg sekeluarga karena nama belakangnya sama :((

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s