Jelajah Aceh 2011 (part 5): Labi-Labi Berjodoh

Kalo jodoh ga mungkin kemana, tetep aja dapet labi-labi yang sama….

Mungkin ada yang bingun apa itu labi labi. Di Takengon alat transportasi umum yang biasa digunakan adalah labi labi. Sejenis angkutan beroda empat seperti angkot pada umumnya. Tapi posisi duduknya saling berhadapan dan bagian belakang kendaraannya terbuka. Dalam bahasa Gayo labi labi artinya kura-kura.

Takengon merupakan kota kecil , jadi wajar jika jumlah transportasi umum tak terlalu banyak. Tidaklah heran kendaraan yang kecil nan imut ini selalu padat sesak dimuati penumpang, terkadang sampai naik ke atap. Efeknya labi labi pun berjalan pelan bagai kura kura.

Puas mendaki bukit Burgayo, selanjutnya wisata kota Takengon sebelum nanti malam berangkat ke Banda Aceh. Tujuan pertama adalah Kantin Batas Kota. Sebuah kafe yang berada di perbatasan kota dan menyediakan menu khas Gayo. Kata Ria kafe ini sering menjadi tujuan tamu yang berkunjung ke Takengon. Dengan menggunakan labi labi, dari pasar inpres kamipun melaju ke sana.

Kantin yang berada di ruas jalan utama ini menghadirkan konsep rumahan sengaja dibuat agar pengunjung merasa nyaman. Awal melihat bangunan eksteriornya saya kira ini rumah penduduk. Namun setelah masuk ke dalam interiornya menegaskan bahwa ini adalah kafe. Kursi bergaya minibar hadir disudut sebelah kanan kafe. Jika anda berniat kumpul bersama dengan kerabat anda dapat memilih ruangan di sebelah kiri yang lebih luas. Kantin yang dilengkapi wifi ini juga menawarkan beragam menu dari makanan berat sampai makanan kecil.

Jika dua hari yang lalu saya sudah menjajal kopi Gayo ala warung di Atut Tamun, sekarang saatnya mencoba kopi Gayo ala kafe. Pilihan saya jatuh pada secangkir capucino panas. Di temani sepotong donat rasanya tidak kalah dengan yang disajikan kafe  kota besar. Saya juga sempat mencicipi kopi hitam pesanan rekan. Gayo memang surganya pecinta kopi, tidak berlebihan jika menjadi tujuan wajib bagi anda pecinta kopi.

Puas bersantai di kafe bernuansa homey, kamipun bergerak kembali menuju arah kota. Tepatnya ke daerah simpang lima untuk berburu kerajinan khas Gayo yaitu bordir Kerawang Gayo. Setelah menunggu lama di jalan akhirnya kami mendapatkan tumpangan labi labi. Ada yang aneh dengan labi labi yang kami kendarai. Ternyata ini kendaraan yang sama ketika menuju kantin Batas Kota.

Malang tak dapat ditolak mujur tak dapat raih. Ketika sampai di art shop yang berada di simpang lima ternyata tutup. Atas saran Ria akhirnya kami kembali ke arah batas kota mencari art shop lain. Lagi-lagi ada yang aneh ketika menumpang labi labi yang mengantar kami ke art shop yang berada tah jauh dari simpang Warigi. OMG.. ini kan labi labi yang kita tumpangi tadi. Rasanya seperti berjodoh dengan labi labi bernomor plolisi  BL 1202 G. Sang supir pun mengenali kami dengan baik, sampai dipemberhentian terakhir kami mendapatkan potongan sebesar 2000 rupiah. Makasih pak supir…

Puas berbelanja dan melihat orang belanja kerajinan khas Gayo, kami kembali ke rumah Ria. Bersiap-siap untuk perjalanan menuju Banda Aceh pukul 8 malam.

Menikmati pesona alam dan budaya tanah Gayo membuat saya berjanji akan kembali ke kota ini. Berada tiga hari dua malam di kota berhawa dingin ini rasanya belum puas. Banyak tempat yang belum kami kunjungi karena keterbatasan waktu.

Kalo joodoh ga bakal kemana, mungkin bisa ketemu labi labi bernomor  BL 1202 G di lain waktu dan kesempatan. Selamat Tinggal tanah Gayo, Takengon!!!!!

Jelajah Aceh 2011 (part 1): Awal Yang Tak Selalu Indah

Jelajah Aceh 2011 (part 2) : Lut Tawar Begitu Menggoda

Jelajah Aceh 2011 (part 3) : Uji Nyali dan Dingin.. Brrrr

Jelajah Aceh 2011 (part 4) : Ayo Bergaya ke Burgayo

Jelajah Aceh 2011 (part 5): Labi-Labi Berjodoh

Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

Jelajah Aceh 2011 (part 7) : Tidur Dimana?

Jelajah Aceh 2011 (part 8): Berlayar ke Ujung Barat Indonesia

Jelajah Aceh 2011 (part 9) : Santai di Pantai, Slow di Pulauuuu

Jelajah Aceh 2011 (part 10) : Keheningan Iboih

Jelajah Aceh 2011 (part 11): Check Out!

Jelajah Aceh 2011 (part 12) : Pengelana Senja

Jelajah Aceh 2011 (part 13) : Bukan Wisata Kuliner Biasa

Jelajah Aceh 2011 (part 14): Memburu Sunrise Benteng Jepang.

Jelajah Aceh 2011 (part 15) : Pantai di Kota Sabang

Jelajah Aceh 2011 (part 16) : Dari Off Road Sampai Nol Kilometer

Jelajah Aceh 2011 (part 17): Sabang, Happy New Year!!!

Jelajah Aceh 2011 (part 18) : Pulang dan Berpisah

Jelajah Aceh 2011 (part 19) : Yang Unik Dari Sabang

 

Simak Yuk Serunya #NekadTraveler

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.