Aceh - Bumi Serambi Mekah Nan Elok Travelling

Jelajah Aceh 2011 (part 4) : Ayo Bergaya ke Burgayo

Tidur kami di Takengon  agak kurang nyenyak setelahh kejadian dengan WH semalam. Tapi sudahlah jadikan ini pelajaran tapi “show must go on”. Tujuan berikutanya adalah Burgayo merupakan kawasan tertinggi di Takengon. Setelah packing kamipun bergegas meninggalkan kawasan Jung Nunang untuk mendaki Burgayo.

Sarapan pagi ini tanpa nasi ataupun mie instant. Segelas teh atau kopi cukuplah untuk mengganjal perut. Tapi sebetulnya ada sarapan pengganti sebagai menu wajib pagi ini yaitu foto-foto di tepi danau. Kilau matahari kekuningan dan barisan awan di atas bukit sangat sayang untuk dilewatkan.

Sayang sekali Vira rekan asal Banda Aceh tidak bisa ikut bergabung karena pagi ini dia harus pulang. Labi-labi ke arah kota pun tak tampak, padahal matahari sudah muncul. Setelah sekian lama akhirnya teman Vira , bang  Afif datang untuk mengantar Vira ke pool travel yang ada di kota. Alhamdulilah ada tumpangan lagi, tapi kami tidak langsung ke Burgayo. Rencana diubah setelah menitipkan tas di rumah Ria barulah kami mendaki Burgayo.

Sebuah tulisan “GAYO HIGH LAND” tampak bertengger manis di puncak bukit, mengingatkan saya dengan tulisan HOLLYWOOD di LA. Itulah puncak Burgayo. Meskipun matahari sudah agak tinggi kami tetap menuju puncak tertinggi kota Takengon. Dengan menggunakan labi labi kami menuju pasar inpres. Sesampi di sana kami menyebrang simpang lima menuju jembatan Bele alias jembatan Galau. Lho kok Galau? Soalnya ketika melewati jembatan tersebut kami berpapasan dengan sepasang kekasih yang sedang merajuk di jembatan. Adegan dramatis ini mirip cerita FTV pun terpapar sangat jelas. Jadilah jembatan Galau…

Sebetulnya puncak Gayo bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, tapi lagi lagi karena kami backpacker “irit” ya jalan kaki. Kata Ria , rekan backpacker asal Takengon mendaki puncak Gayo kurang lebih memakan waktu satu jam dengan kecepatan sedang. Kalo full speed? Silakan coba sendiri, naik ke bukit siang bolong dengan berlari.

Waktu menunjukan pukul 10:30 matahari sudah muncul tapi  hawa di Takengon tetap sejuk. Kamipun melangkah pasti menuju puncak tertinggi. Dan tentunya diselingi acara foto-foto. Beberapa motor yang dikendarai anak SMA melintasi kami. Seandainya ada 6 motor yang lewat tanpa membawa penumpang dibelakngnya. Mungkin acara pendakian ini berubah jadi ngojek gratis ke Burgayo.

Kurang dari satu jam kami sampai diperhentian puncak. Dari sini perjalanan dilanjutkan kembali dengan 220 anak tangga. Kok tahu 220? He he he kalo ini sih kerjaan si Jalo. Peserta ngiritpacker termuda yang rajin bantuin saya ngitung.

Ternyata di puncak Burgayo dah rame anak-anak SMA yang tidak ngebalap kita pake motor. Tanpa basa-basi langsung deh kita promosi backpacker Medan. Bentang spanduk terus tanpa malu-malu ambil posisi di samping buat foto.

Kelar promosi dan bercengkrama dengan anak SMA yang “unyu unyu” , kita naik lagi ke tempat tulisan “GAYO HIGHLAND”. Ternyata pemandangan di sini jauh lebih indah. Terlihat kota Takengon dan danau Lut Tawar. Agak disayangkan tulisan yang menjadi icon baru Takengon ini menghalangi pandangan.

Setelah bergaya di Burgayo kamipun bergegas turun kembali menuju kota. Tujuan selanjutanya adalah berwisata di kota Takengon sambil mencari makanan lokal untuk dinikmati sebagai menu makan siang. Selamat tinggal Burgayo…

Jelajah Aceh 2011 (part 1): Awal Yang Tak Selalu Indah

Jelajah Aceh 2011 (part 2) : Lut Tawar Begitu Menggoda

Jelajah Aceh 2011 (part 3) : Uji Nyali dan Dingin.. Brrrr

Jelajah Aceh 2011 (part 4) : Ayo Bergaya ke Burgayo

Jelajah Aceh 2011 (part 5): Labi-Labi Berjodoh

Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

Jelajah Aceh 2011 (part 7) : Tidur Dimana?

Jelajah Aceh 2011 (part 8): Berlayar ke Ujung Barat Indonesia

Jelajah Aceh 2011 (part 9) : Santai di Pantai, Slow di Pulauuuu

Jelajah Aceh 2011 (part 10) : Keheningan Iboih

Jelajah Aceh 2011 (part 11): Check Out!

Jelajah Aceh 2011 (part 12) : Pengelana Senja

Jelajah Aceh 2011 (part 13) : Bukan Wisata Kuliner Biasa

Jelajah Aceh 2011 (part 14): Memburu Sunrise Benteng Jepang.

Jelajah Aceh 2011 (part 15) : Pantai di Kota Sabang

Jelajah Aceh 2011 (part 16) : Dari Off Road Sampai Nol Kilometer

Jelajah Aceh 2011 (part 17): Sabang, Happy New Year!!!

Jelajah Aceh 2011 (part 18) : Pulang dan Berpisah

Jelajah Aceh 2011 (part 19) : Yang Unik Dari Sabang

 

Simak Yuk Serunya #NekadTraveler

7 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.