Acara, Papua

Nostalgia Tanah Surga di Wonderful Papua Online Blogger Gathering

Sekotak hampers berisi tote bag, block note dan kopi Wamena mengugah rasa ketika aroma kopi arabika khas pegunungan menyeruak.

“Tuhan, ini firasat apa? Kenapa harus aroma ini yang mengingatkan saya kembali dengan tanah Papua”, saya berujar liri.

Kenangan Wamena betul-betul melekat di ingatan saya. Bagi seorang traveler kere jalan-jalan ke Papua sebuah impian besar yang tergantung tinggi dan harus diusahakan dengan sepenuh jiwa dan raga. Bagaimana tidak? Harga tiket pesawat dari Sumatra ke Papua tidaklah murah. Tapi beruntung beberapa tahun lalu memenangkan lomba menulis dan hadiahnya menyambangi Habema, danau tertinggi di Indonesia yang ada di Wamena.

Penyelenggara berkata bahwa harga paket perjalanan seminggu di Wamena sama dengan jalan-jalan ke Eropa. Untuk sesi pemotretan kami dibuatkan tari perang khusus dengan pemandangan lembah dan sungai Baliem. Makanya saya hapal benar dengan aroma kopi Wamen, setiap pagi cairan hangat ini yang pertama kali masuk ke tenggorokan.

Blogger Gathering

Sejatinya saya tak sabar turut hadir di Wonderful Papua Online Blogger Gathering yang digagas oleh EcoNusa & Blogger Perempuan. Melihat pembicara yang akan hadir rasanya tak sabar mendengar kisah terbaru tentang tanah Papua. Kira-kira bagaimana Papua saat pandemi? Apakah kami masih bisa berwisata ke sana. Kira-kira daerah apa saja yang wajib disambangi ketika ke Papua, secara saya baru menyambangi Jayapura dan Wamena saja. Apalagi ada Bapak Kristian Sauyai sebagai Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat. Kata Raja Ampat mengingatkan dua tiket penerbangan ke Sorong yang hangus karena maskapainya bangkrut. Yup saya dua kali gagal ke Raja Ampat.

Berkali-kali saya menengok jam di laptop memastikan agar tidak terlambat hadir di zoom. Walau hari ini lumayan sibuk, setelah menghadiri dua kelas online dan rapat internal kantor, saya kembali duduk di depan laptop dan menyalakan aplikasi zoom. Tapi sepertinya kali ini saya harus menyalakan ponsel karena masih kelas zoom di laptop saja walau mengisi kuisioner kelas.

Tepat pukul 15:00 Kakak Jeni Karay sang moderator hadir di webinar, membuka gathering online. Tapi tunggu dulu sebelum acara dimulai ada kuiz yang menguji wawasan tentang Papua dan tentu saja semua dilakukan secara online. Duh ternyata banyak banget lho hal tidak aku ketahui tentang Papua.

Sebelum ngobrol santuy tentang Papua dimulai kita diajak untuk menyimak video bertajuk “Hutan Kami Hidup Kami” tentang desa wisata bernama Malagufuk. Kisah orang -orang yang kini mendapatkan rejeki dari eco wisata, sebuah konsep industri pariwisata yang bersinergi dengan alam. Membuat alam tetap terjaga tapi juga memberikan manfaat kepada manusia yang berada di sekitarnya.

Eco Village Malagufuk menawarkan atraksi birding atau melihat burung di hutan hijau Papua. Bagi beberapa penghobi alam atau fotografi, Papua adalah tempat terbaik melakukan birding karena keanekaragaman species unggas yang luar biasa banyakanya dan unik.

Saya jadi teringat seorang turis Jepang yang akhir memutuskan untuk tinggal di Wamena dan menghabiskan waktunya untuk berburu foto burung di kawasan danau Habema. Duh kapan ya saya bisa memfoto burung-burung indah Papua.

Video – Parodi Protokol Kesehatan The New Normal

Pandemi masih menjadi bagian dari kehidupan kita, jangan sedih gaes. Mari kita beradaptasai hidup bersama dengan senantiasa menjalan protokol kesehatan The New Normal. Memang semua tidak mudah apalagi bagi kamu suka berpergian atau aktif di luar rumah, tapi selama belum ada vaksin kita tidak bisa manjalani hidup seperti biasa.

Beri peringkat:

Menyelamatkan Alam Papua Melalui Ekowisata

Sebagai pembuka sesi Bustar Maitar dari CEO EcoNusa Foundation memaparkan mengapa kita harus menjaga Papua sebagai satu-satunya pulau di nusantara yang masih memiliki hutan otentik. Keunikan dan keanekaragaman flora dan sebagai sebagai kekayaan yang harus senantiasa dijaga. Untuk menjaganya EcoNusa memperkenalkan konsep wisata hijau, yaitu konsep wisata yang senatiasa menjaga keseimbangan antara alam, manusia dan mahluk hidup yang ada di dalamnya.

Tak mudah memang untuk senantiasa menjaga alam Papua tetap hijau karena selalu bersebrangan dengan industri lain seperti perkebunan dan penambangan. Tapi yang perlu kita renungkan bersama, bagaimana kita harus kehilangan semua kekayaan alam ini untuk selamanya, hanya untuk keuntungan sementara.

Tidak dapatkah kita berpikir bijak bahwa dengan ecowisata, kita tidak hanya menangguk untung tapi juga menjaga alam Papua tetap terjaga dan iniindustri ini juga memberikan manfaat bagi warga lokal.

Saya rasa ini juga bukan tanggung jawab pelaku bisnis pariwisata tapi juga para traveler yang tetap mengedepankan konsep berwisata hijau. Agar pulau terbesar di nusantara yang kaya dengan keindahan alam budaya dapat menjadi warisan berharga bagi anak cucuk kita.

Menerapkan Ekowisata di Tanah Papua

Berdasarkan informasi dari Kristian Sauyai, Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat ternyata banyak tantangan untuk menerapkan Ekowisata di Raja Ampat. Salah satunya persaingan tidak sehat dari pemodal besar dengan memberikan tarif sewa yang lebih rendah dari harga pasaran. Sehingga mematikan pemilik homestay lokal yang seharusnya mendapatkan manfaat dari industri ini.

Belum lagi kemampuan berbahasa asing yang kurang mumpuni bagi para pemilik hometstay lokal. Mungkin ini pekerjaan rumah kita bersama untuk mengasah hard skill dan soft skill penduduk lokal pelaku industri pariwisata. Oleh karena itu secara berkala dilakukan pelatihan melalui kelompok kelompok kecil dan sharing session.

Homestay yang tidak memiliki peralatan selam tidak banyak dilirik oleh wisawatan karena Raja Ampat identik dengan wisata bawah laut. Pemodalan sering menjadi masalah klasik bagi pengusaha lokal dan seharusnya ada lembaga keuangan yang mampu memberikan softloans.

Dan ketika melakukan aktivitsa wisata di laut, lagi-lagi pelaku wisata wajib mengedukasi wisawatan yang belum paham konsep wisata hijau. Contoh kecil bagaimana snorkeling yang benar agar tidak merusak terumbu karang dan mengganggu biota laut.

Anak Muda Penggerak Wisata Hijau Papua

Akhir sesi menghadirkan Kak Alfa Ahoren anak muda Papua yang mendedikasikan hidupnya untuk wisata hijau. Bagaimana dengan setia mengkampanyekan wisata hijau dan mengedukasi warga lokal.

Anak muda merupakan tonggak penggorak industri pariwisata di negeri ini. Pernah melihat instagram anak anak milenial , bagaimana mereka aktif membagikan keindahan nusantara melaui foto traveling. Namun di balik keindahan ini harus ada pesan positif yang juga dibagikan, bagaimana seharunya traveler berprilaku. Agar semua keindahan ini tetap terjaga dan bisa dinikmati oleh orang lain.

Video perjalanan Kak Alfa Ahoren di Pegunungan Arfak yang ditayangkan benar-benar membuat saya kangen dengan Papua. Tuhan kapan saya bisa birding dan menyaksikan “The Bird of Balerina”

Mungkinkah bujet perjalanan ke Eropa tahun depan saya alihkan ke Papua. Bukankah sekarang tidak mudah untuk berpergian ke luar negeri bukan?

2 tanggapan untuk “Nostalgia Tanah Surga di Wonderful Papua Online Blogger Gathering”

Tinggalkan Balasan ke Dedew Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s