Sang Underdog

Anak lelaki itu datang sebagai anak baru di kelas kami. Penampilannya biasa saja, tak ada yang istimewa. Sepasang sepatu kanvas tersandang dengan kaos kaki hampir sebetis. Mata kecilnya tenggelam tertutup kacamata super tebal. Meski tubuhnya menjulang tinggi, nyatanya terlihat sangat rapuh, ketika bicara selalu terguncang seolah badan kerempengnya tak mampu menopang kepala besarnya.

Berasal dari luar kota kehadirannya tak pernah diperhitungkan oleh siapapun. Meski konon orangtuanya saudagar, ia tak bepenampilan seperti anak orang berpunya. Ada yang bilang, ia hanya anak kampung yang tersasar masuk sekolah elite.

Hari ini saya melihatnya tersedu di pojok kelas. Saya tak tahu apa yang mengusiknya, sebab sebelum air mata itu jatuh , ia menghapusnya dan berusaha tersenyum. Menjadi anak baru memang berat, semua orang memperhatikanmu dan belum tentu menyukaimu. Jika terlihat pandai  dianggap saingan berat, jika  kurang menarik tak banyak yang ingin mendekat.

Akhirnya saya tahu apa yang membuatnya bermuram durja tempo hari. Sepasang sepatu kanvas. Beberapa teman selalu mencibir sepatunya yang tak bermerk, yang mungkin tak pernah dijual di toko. Itu sepatu cuma ada di pasar ikan. Bagi murid SMP Terkadang sepatu  menunjukan status sosial dari keluarga mana ia berasal.

Namun ketika sepatu kanvas itu diganti, tetap tak banyak yang mau mendekat. Karena memang kehadirannya tak pernah dianggap.

***

Hampir sepuluh tahun saya tak berjumpa dengan anak lelaki itu. Kini ia jauh di benua lain. Pertemuan kami pun tak sengaja ketika sama sama terjerat di dunia maya lalu berkeliaran di forumnya anak Indonesia, kaskus.

Waktu itu ia sedang menyelesaikan paska sarjananya di kampus terkenal di luar negeri. Sedangka saya sedang menguliti skripsi s1 yang tak kunjung selesai di kampus negeri lokal di ujung selatan Sumatra. Sebuah ironi, tapi sesungguhnya kami tak pernah merasakan jarak itu. Karena  nasib kami sama, mahasiswa jomblo yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer dan laboratorium. Bedanya dia mahasiswa rajin breprestasi dan saya mahasiswa abadi terancam drop out.

Internet benar-benar mendekatkan yang jauh. Saya tak pernah sedekat ini dengannya. Ada perasaan bersalah kenapa dulu tak mau mendekat. Meski selalu menyapa, namun terkadang tak pernah merasakan kehadirannya sebagai teman apalagi sahabat.

***

Kemunculannya di televisi sebagai penggagas organisasi  ilmuwan Dunia Indonesia menghebohkan kota kelahiran kami.  Profilnya berkali kali muncul di koran lokal dan nasional membuat beberapa teman sekolah bertanya. Siapakah dia, memang dulu satu angkatan dengan kita?

Melalui obrolan di dunia maya saya akhirnya tahu, anak lelaki itu aktif belajar berorganisasi ketika duduk di bangku  kuliah. Kini Bahasa tubuh dan gaya bicaranya tak merncerminkan anak kampung yang kesasar di sekolah elite. Banyak yang ia pelajari dari berorganisasi, hingga akhirnya mendapat beasiswa dan kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Mengumpulkan ilmuwan indonesia di seluruh dunia dalam satu wadah organisasi.

Kepulangannya ke kota kami dieluk-elukan semua orang, sebagai anak muda yang inspiratif. Kini kehadirannya tak pernah terabaikan. Mereka yang dulu tak pernah menyapa kini merasa paling dekat. Namun anak lelaki itu tetap bersahaja, tak pernah sekalipun memendam rasa apalagi dendam.

Malam ini saya tersenyum membaca tulisannya bertajuk The power of the underdog. Mungkinkah ia membayangkan kejadian bertahun tahun silam, dimana orang hanya memandangnya  sebelah mata. Tak pernah mendengar suaranya, apalagi ide-idenya yang brilian. Dua bait  kutipan Gandi menutup tulisannya yang ringan bersahaja namun bernas.

First they are against your word
Second they fight you
And last they will follow you

So when you feel, you are underdog, when you feel the world can’t accept your idea and innovation, no worries 10 years from now you will change the history.


And people will (as always) look back and think

11 pemikiran pada “Sang Underdog

  1. Perihal masa depan siapa yang tahu ya, selain Tuhan.

    First they are against your word
    Second they fight you
    And last they will follow you

    Suka dengan kalimat terakhir…”So when you feel, you are underdog, when you feel the world can’t accept your idea and innovation, no worries 10 years from now you will change the history.
    And people will (as always) look back and think.”

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s