Leo

“Ooo… Dari Panjang. Itu kan daerah…” Sekonyong gema tawa memenuhi isi kelas 4C. Bingung berdiri di depan kelas. Tidak mengerti apa yang membuat mereka terbahak.

Menjadi murid baru memang tak mudah, apalagi melewati  ritual perkenalan yang tak sempurna. Akan selalu menjadi pusat perhatian dan populer dalam konotasi negatif hingga meninggalkan bangku sekolah dasar kelas enam nanti.

“Panjang tempat pelacuran.”Celetuk anak lelaki di bangku belakang membuat kelas kembali riuh.

Saya mencoba ikut tertawa tapi hanya senyum getir yang tersungging. Pikiran saya melayang jauh. Mengobrak abrik ingatan ketika masih tinggal di kota kecil pesisir Teluk Lampung, Panjang. Hingga akhirnya sebuah nama terlintas. Leo, teman sekelas ketika duduk di kelas tiga.

***

Sesungguhnya kami tak pernah mengerti arti kata pelacur dan prositusi meski jarak tempat kami bermain hanya sedepa dari tempat perempuan berpakaian minim menjajakan diri.

“Mereka itu anak buah Mama.”Leo, anak lelaki yang dulu saya curigai paling bodoh dan nakal di sekolah berujar penuh semangat.

Kami melewati lorong panjang setelah ruang tamu besar. Suasana lengang seolah penghuni rumah sedang tak berada di tempat. Terlihat wanita muda keluar dari salah satu kamar.

“Ayo buruan nanti kita telat.” Jantung saya serasa mau copot membayangkan hukuman yang akan diterima jika terlambat masuk kelas. Belum lagi waktu ujian menggambar akan berkurang

“Santai…. Aku telat dan disetrap tiap hari nggak apa-apa” Celoteh Leo santai membuka lemari kayu dekat meja makan. Rasanya saya ingin turut serta mengobrik-abrik laci lemari mencari crayon.

Leo berhenti sejenak , tubuh jangkungnya berusaha lebih tinggi berjinjit mengintip bagian atas lemari. Tangannya meraba benda-benda di atas sana. “Pluk!” Sekotak crayon jatuh ke lantai.

Tak sabar saya ambil sebelum Leo memungutnya lalu memasukan ke dalam tas selempang di atas meja.

“Bentar ya…”Leo lari ke dapur lalu muncul dengan dua gelas air putih.

Mata saya melotot tak sabar dan sepertinya anak lelaki di depan saya terlalu bodoh untuk memahami situasi. “Leo kita akan terlambat!”

“Kamu ngga haus?”

Dengan cepat saya tarik tangan Leo agar bergegas kembali ke sekolah. Nyaris saja  gelas-gelas bernasib sama dengan crayon tadi. Jatuh ke lantai.

“Ehem… Kok buru-buru” Suara perempuan datang dari balik dapur. Rasanya ada yang memperhatikan kehebohan di ruang makan.

“I…Iya… takut telat.” Mengendurkan tarikan tangan Leo melihat sosok wanita separuh baya. Meski wajahnya mirip Leo tapi tak serupa. Rambut keritingnya mengembang menjulang  ala tahun 70-an.

“Ma… Ini Danan teman Leo.” Wanita yang lebih cocok dipanggil nenek oleh Leo tersenyum lebar menyambut jabat tangan.

“Kapan berangkat?” Berbisik ke Leo.

“Hmmm… Ma, Leo sekolah dulu.”

“Tas jangan lupa.” Melirik tas di atas meja berisi crayon.

Leo pun bergegas berangkat ke sekolah tanpa menjabat atau mencium tangan ibunya.

“Permisi Bude eh Tante….” Mengikuti langkah leo yang panjang tergopoh-gopoh.

Kembali melewati lorong panjang yang kanan kirinya di penuhi pintu bergorden panjang. Salah satu penghuninya keluar sebentar dan lagi lagi perempuan muda. Sambil terhuyung-huyung berjalan melintasi lorong sambil menguap.

“Pagi Kak Lia.” Leo menyapa sambil tersenyum lebar.

“Hoammmm…. Pagi.”

“Itu anak buah mama aku juga.” Bisik Leo bangga.

***

“Sakit ngga disunat”, serius Leo bertanya.

“Sedikit kaya digigit semut.”

“Terus?”

“Ya udah , biasa aja.”

“Bentuknya…”

“Heh… Jadi botak.

“Lihat donk.”

“Jah… Jorok ah.” Kamipun tertawa cekikikan.

Bukan Leo jika hidupnya bisa diduga dan teratur seperti anak sekolah kebanyakan. Rajin belajar, mengerjakan pekerjaan atau berangkat dan pulang sekolah setiap hari

Sudah satu minggu Leo tidak masuk sekolah. “Ada yang tahu Leo kemana? Sakit?”. Suara bu Tuti wali kelas membahana sekali lagi. Tapi tak ada yang menjawabnya. Namun semua anak berpikir sama, penyakit Leo kambuh lagi. Penyakit membolos yang membuatnya tidak naik kelas dua tahun berturut-turut.

“Doni nanti sepulang sekolah kamu ke rumah Leo, berikan surat ini kepada orangtuanya.” Era itu memang tak ada telepon genggam, hanya surat yang menjadi media komunikasi antara orang tua dan murid. Dan biasanya ketua kelas  yang ditugaskan menjadi kurirnya.

“Tapi… Bukankah ibu sudah mengirimkan surat yang sama?”

Bu Tuti terdiam sejenak. “Baiklah kamu kirimkan sekali lagi, pastikan sampai ke orang tuanya”.

***

Anak lelaki itu seharusnya bernama Topan, Badai atau Puting Beliung. Kemunculannya tiba-tiba di depan rumah, jelas membuat heboh.

“Tong, itu kan temanmu Leo. Katanya sudah tiga minggu tidak masuk sekolah kok tiba-tiba ke sini.”

Saya mengintip dari jendela kaca nako. Terlihat Leo mengenakan kacamaa hitam dengan kaos buntung dan celana jeans panjang model baggy.

“Hai kamu kemana saja, ditanyain bu guru. Bahkan satu sekolah.”

“Wah , pokoknya luar biasa deh. Kamu harus dengar cerita aku”, sergah Leo sambil cengengesan.

Leo menarik saya ke bawah pohon. “Tapi rahasia , jangan cerita ke siapa-siapa.”

“Apaan sih. Sok banget.”

“Eh , ini urusan orang dewasa. Aku sudah gede.”

“Iya, apa rahasianya?”

“Hmmm… Aku sudah sunat…” Wajah Leo kelihatan serius sambil membuka kacamata hitamnya.

“Yah kalau sunat, aku kan sudah duluan”, kekeh saya tak tahan melihat tingkah Leo, sok dewasa tapi tiba-tiba terlihat bodoh.

“Hmmmm… Gimana ya?”  Leo kembali kelihatan bodoh ,kali ini ditambah garuk-garuk kepala.

“Jadi rahasianya?”

” Aku sudah gituan?”Leo menunjukan tangannya yang terkepal dengan ibu jari terjepit di antara telunjuk dan jari tangah.”

“Hah apaan, kaya gitu.” Saya mencoba menirukan kepalan tangan leo.

“Itu yang kaya film orang dewasa. Kaya gini.” Leo mengelurakan selembar  kartu remi bergambar pria dan wanita bersetubuh.

“Hah?”

“Iya aku, sudah dewasa”, cerocos Leo lalu menceritakan kisahnya dengan rinci membuat saya ternganga hebat.

Meski katanya rahasia, setiap anak lelaki di kelas kami tahu persis ceritanya. Akhirnya mau tidak mau, kami pun tahu apa “itu”. Tapi kami tidak pernah tahu  apa arti kata pelacur dan prostitusi.

6 pemikiran pada “Leo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s