On Wisata Magazine

Majalah Wisata
Majalah Wisata

Perjalanan melintas bumi Serambi Mekah bersama backpacker Medan terbit di majalah Wisata Edisi VII 2013.

Jalan-jalan sederhana alis backapcking mengantar  kami menemui pengalaman unik. Menerima uluran tangan masyarakat setempat, kearifan lokal. Menunduk rendah hati namun tegar menghadapi ketidakpastian. Menengadah memohon perlindungan Yang Kuasa.  Karena kami yakin Tuhan selalu bersama backpacker.

Bus Po Kurnia menurunkan kami di Simpang Warigi, Takengon. Kota kecil di tepi danau Lot Tawar, Aceh Tengah. Aroma pinus puncak Burgayo terbawa dingginya angin pegunungan. Penawar rasa lelah perjalanan Medan-Takengon 18 jam . Bus kami terpuruk di Kreung Simpo 3 jam lebih akibat longsor.

Iwan dan Ria, rekan asal Takengon menyambut , membantu mengurus ijin. Malam ini kami akan bermalam di Atu Tamun, sisi utara danau Lot Tawar. Dari Takengon, Kendaraan umum  hanya sampai Kebayakan dekat kelokan Ujung Karang. Ujung Karang tempat ditemukan fosil manusia purba, mematahkan teori nenek moyang penduduk Indonesia barat berasal dari Austronesia. Di dekat fosil perkakas yang gambarnya mirip gerabah dari Banchiang, Thailand.

Suara deburan ombak memecah keheningan malam di Atu Tamun. Samar kapal nelayan kecil terombang ambing bersama riak. “Ara Gule”, teriak Iwan dalam bahasa Gayo. Berharap malam ini  bisa mencicipi manisnya ikan endemic danau Lot Tawar, depik. Namun dewi fortuna belum berpihak. Malam  ini kita makan mie instant dan telur saja ya, teman.

Hari kedua di Takengon pindah ke sisi selatan danau, Ujung Nunang. Ternyata tidak mudah menemukan kendaraan umum di hari libur. Dari Atu Tamun berjalan kaki menuju kota. Meskipun menemukan angkotan umum di pasar, kami harus menunggu sampai jam 12 siang. Karena hanya ada satu kendaraan lewat Ujung Nunang. Sebagian penumpang harus duduk di atap angkutan umum karena tidak kebagian tempat duduk. Penuh sesak kendaraan membuat lajunya lambat mirip kura-kura. Tidak mengherangkan jika masyarakat setempat menyebutnya labi-labi, artinya kura-kura.

Pak Iwan pemilik tanah lapang Ujung Nunang mengijinkan bermalam. Tenda berdiri tepat di belakang pondok kayu miliknya, menghindari terpaan angin. Dari Ujung Nunang terlihat barisan bukit hijau dengan lereng mengurat. Malam hari kerlip lampu di kota berpendar bersama ribuan bintang di langit. Malam sempurna. Usai makan malam dan mencicipi ikan depik masakan Pak Iwan. Pria asli Gayo melantukan sepenggal syair didong berisi nasihat. Perut kenyang , hatipun riang ujar Oki menggambarkan kesempurnaan malam terakhir di Takengon.

Sinar mentari pagi menembus kisi tenda, mengantarkan kilau magenta. Berpendar cantik di permukaan danau. Geliat kehidupan bangkit, kami harus bergegas bersiap ke  Bur Gayo (artinya : Puncak Gayo). Dahulu orang menyebut puncak ini sebagai Atu Tingok. Namun berubah setelah dibangun tulisan “GAYO HIGHLAND”. Aksesnya cukup mudah, jalan aspal berkelok bisa dilalui mobil. Namun kali ini kami berjalan kaki , mencoba jalur treking favorit wisatawan mancanegara. Jarak Burgayo dari pusat kota Takengon hanya 2 km tapi menanjak, butuh waktu sekitar satu jam berjalan kaki. Dari puncak terlihat kawasan tanggul Boom, perkampungan Pedemun dan teluk One-one  dipenuhi dengan keramba. Derit halus dahan pinus tertiup angin dan kicauan burung menyempurnakan keindahan alam. Jika sekepal tanah dari surga jatuh di Kerinci. Maka kepalan lainnya tercecer  di Takengon.

Kopi Gayo dikenal salah satu  kopi terbaik di dunia. Melengkapi perjalanan kali ini kami singgah di Kantin Batas Kota (BK) , di Paya Tumpi Takengon. Meluruskan kaki  sambil menikmati secangkir kopi pahit arabika. Rasanya lebih asam dari Robusta, tapi aromanya lebih kuat. Disajikan bersama potongan gula jawa. Cara minum kopi yang benar, ujar sang barista. Rekan kami Ria bertutur, hingga saat ini terdapat 48.300 hektar lahan kopi Arabika di Aceh Tengah, rata-rata produksi 720 kg/hektare. Betapa kayanya bumi Gayo.

Tidur Dimana
Menjelang malam kami melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh menggunakan minibus. Rumoh Aceh As Escape Hill , museum rancangan M Ridwa Kamil menjadi persingghan pertama di ibukota propinsi paling barat Indonesia. Dinding luarnya berornaman anyaman terkesan futuristik. Museum tiga lantai tidak hanya berfungsi sebagai memoribilia bencana Tsunami 26 Desember 2004. Tapi merupakan pusat edukasi Tsunami Center dan  difungsikan sebagai tempat evakuasi. Pengunjung diajak mengenal fenomena alam, gempa bumi dan tsunami. Bencana alam tidak untuk ditakuti tapi untuk diwaspadai. Manusia perlu ilmu pengetahuan untuk hidup berdampingan dengan alam.

Ada beberapa tempat ingin kami kunjungi seperti ,  PLTD apung dan pantai cantik di Banda Aceh. Tapi pekerjaan rumah mencari lokasi tenda menanti. Aparat tidak mengijinkan menggelar tenda di ruang publik , taman kota. Alternatifnya malam ini kami akan tidur di pom bensin atau warnet. Beruntung kami bertemu Iqbal , mahasiswa Fisip Universitas Syah Kuala . Pemuda yang sedang bersibaku dengan tugas akhir mengajak kami bermalam di kosannya daerah Darusalam. Malam harinya kami bercengkrama bersama beberapa rekan dari Unsyiah. Berbagi pengalaman dan informasi pulau Weh dan kota Sabang.

Pulau Weh
Pagi-pagi sekali kami meninggalkan kawasan Darusalam menuju Pelabuhan Ulele , agar tidak kehabisan tiket Feri. Penyebrangan murah hanya sekali, lainnya kapal cepat bertarif 3 kali lipat. Meski penyebrangan jam 10:00 pagi , antrian tiket mengular sejak pukul 08:00. Pelayaran dua jam tidak terasa, menyaksikan keindahan alam . Langit biru dengan awan menggumpal bak kapas. Mengingatkan saya kata-kata seorang fotografer profesional, Aceh memiliki keindahan langit luar biasa, awannya unik bagai bulu domba. Dan itu saya buktikan sekarang. Rasa bahagia makin membuncah takala kapal merapat di pelabuhan Bebas, Balohan Pulau Weh.

Penginapan kami tepat di tepi pantai Iboih. Sangking dekatnya, dengan jelas bisa mendengar suara ombak. Pemiliknya bernama Pak Amy, ipar Bang Fauzi yang membantu kami mencari sewa motor. Atas bantuan rekan di dunia maya mendapatkan kontak pria , sehari-hari aktif di Art Shop Ceudah Souvenir. Harga sewanya tetap karena pesan jauh-jauh hari. Biasanya menjelang akhir tahun harganya naik. Dua motor automatik akan menemani hari-hari di pulau Weh.

Iboih dan Rubiah bagai pasangan tak terpisahkan, keindahannya seolah saling melengkapi. Tepat di depan pantai Iboih membentang pulau Rubiah melindungi teluk kecil. Kemarin sore pantai ini terlihat biasa saja. Namun pagi ini bersama mentari kemilau air bagaikan kaca. Ikan warna-warni lincah berenang. Perahu kecil seolah mengambang di atas sutra biru. Tidak berlebihan jika disebut pantai terbaik di Sumatra. Seharian kami bermain air di pantai dan snorkeling, mengintip dunia bawah  laut. Melihat clown fish bersembunyi di balik anemon dan rumput laut. Konon sebelum tsunami dunia bawah laut di sini jauh lebih indah. Tidak terbayangkan betapa indahnya, sekarang saja sudah membuat mata tidak berpaling.

Setelah makan siang menyebrang ke Rubiah. Pemilik kapal menunjukan beberapa spot snorkeling lalu kembali ke pantai. Lelah berenang kami menuju dermaga kecil . Berjalan menyusuri semak belukar , melalui jalan setapak akhirnya menemukan pantai menghadap ke samudra Hindia. Ombaknya bergulung-gulung liar namun tetap indah. Hammock tergantung di antara pepohonan, tempat ideal melepas siang . Suara angin laut mengantar dalam mimpi terdalam, serasa di pulau pribadi. Kawasan perairan Rubiah dikenal dengan taman lautnya. Pulau berjarak 250 meter dari Iboih pernah menjadi persinggahan jamaah  naik haji. Keunikan lainnya, terdapat sumur air tawar yg jaraknya beberapa meter dari bibir pantai.

Hari ketiga di Pulau weh. Jatah tinggal dipenginapan sudaah habis. Sebelum pukul 12 siang harus check out. Beruntung Pak Amy, memberikan kesempatan sampai usai sholat juma’at. Ada beberapa pilihan tempat mendirikan tenda, pertama Krueng Raya tepat di depan pulau Klah tapi jauh dari sumber air. Tepat di belakang warung kopi di Pay Seunara ada tanah kosong tepat di bibir pantai. Pemilik tanah mengijinkan tapi sepertinya sulit mendapatkan ijin dari tetua karena ada rekan wanita. Usai sholat jum’at kami bergerak ke arah Benteng Jepang , Anoi Hitam. Lapangan rumput di bawah benteng ideal untuk mendirikan tenda. Masalahnya tetap sama, wanita tidak diijinkan tinggal ditenda.

Setelah berdiskusi kami putuskan tinggal di Penginapan PUM , depan Gedung Kesenian Sabang. Baru saja check-in , tiba-tiba Bang Ubit ketua pemuda desa Anoi Itam menelepon. Para pria dipersilakan berkemah di dekat benteng , ujarnya. Sedangkan para wanita akan diberikan tumpangan oleh warga setempat. Karena penginapan sudah dibayar penuh sampai dua hari ke depan, kami tidak bisa memenuhi niat baik Bang Ubit. Tapi kami berjanji satu saat akan datang ke Anoi Itam memenuhi undangannya. Lagian siapa yang bisa lupa dengan kelezatan mie dan rujak Aceh di kedai depan pantai, tempat kami bertemu Bang Ubiet.

Malam di kota Sabang berbeda jauh dibandingkan Iboih. Kemeriahan kota lebih terasa. Meskipun buget terbatas kami mencicipi kuliner lokal, sate gurita di Pujasera (Pusat Jajanan Selera Rakyat). Ternyata rasa hewan berordo Octopoda ini mirip daging ayam dan cumi. Pembeli bebas memilih saosnya, bisa bumbu Padang atau kacang. Satu porsi dihargai 15 ribu rupiah , disajikan bersama lontong. Meskipun masing-masing kami hanya kebagian setengah porsi alias sepiring berdua,  kami cukup lahap. Maklum berhari-hari hanya makan mie instant dan ikan kaleng. Demi penghematan.

Off Road Pulau Weh
Kemarin seharian menjelajah sisi utara pulau Weh. Hari ini akan menjelajah sisi selatan .Perjalanan di mulai dari pantai kasih dan Sabang  Fair. Lalu menuju Balohan menjemput Vira dan Edi, rekan backpacker Aceh. Menyusuri Beurawang, Keunekai, Paya sampai Pantai Pasir Putih. Setelah makan siang perjalanan dilanjutkan menuju Lhong Angen. Jalanan di Lhong Angen memacu adrenalin, jalan berbatu curam menghadang. Sesekali motor harus didorong. Seru dan menantang apalagi dikelilingi hutan tropis. Pulau Weh tidak hanya menawarkan wisata bahari. Eksotisme hutan di sebelah barat potensi wisata yang siap digarap dan diperkenalkan kepada wisatawan. Setelah ber-off road ria sampai di Gapang, menikmati sisa sore di pantai dengan spot diving terbaik.

Matahari semakin redup kami memacu motor ke arah barat. Nol kilometer menjadi destinasi pamungkas hari ini. Menyaksikan matahari terbenam di penghujung tahun. Menutup perjalanan panjang menjelajah Bumi Serambi Mekah. Rona mentari memang tidak sempurna tapi puas hati ini bisa menjejakan kaki di ujung barat Indonesia. Kemeriahan malam tahun baru sudah menanti di Sabang. Sabang berubah menjadi kota besar dalam semalam. Gegap gempita suara terompet dan kembang api membahana menyambut pergantian tahun.

Menjelang pagi , sisa kemeriahan menghilang didera hujan lebat. Nadi kehidupan nyaris tidak tampak. Orang-orang masih terlelap dalam mimpi setelah semalaman begadang. Tapi kami harus bergegas ke pelabuhan menanti penyebrangan pertama ke Ulele.  Pelayaran dua jam seolah menjadi antiklimas. Tidak ada semangat berkobar seperti beberapa hari lalu. Oki membagian kue kacang hijau , perayaan terakhir di atas kapal. Kue khas Sabang ini rasanya mirip bakpia berkulit lembut. Manis kacang hijau seolah hambar ketika mengingat kami akan berpisah dan esok kembali beraktivitas.

Masjid Raya Baiturrahman menjadi titik perpisahan. Saya, Oki dan Liza akan melanjutkan perjalanan ke Medan . Edy, Vira dan Ria melepas kepergian kami. Berat rasanya harus berpisah dengan sahabat perjalanan. Sepuluh hari bersama dalam suka suka dan petualangan seru. Mungkin perjalanan tidak seheroik kisah lima sekawan tapi memberikan pengalaman hidup baru. Sambil berjabat tangan , Vira menyerahkan bungkusan nasi. Kalian pasti kangen nasi rendang, ujarnya seraya tersenyum. Komitmen jalan-jalan murah dan gaya hidup minimalis kita tutup sampai di sini. Saatnya kembali ke dunia nyata dan bersyukur.

Estimasi Biaya
Transportasi
Bus Medan -Takengon 110k
Travel Takengon-Banda aceh = 100k
Bus Banda Aceh-medan = 130rb
Penyebrangan orang  Ulele-Balohan = 39k
Travel Balohan-Iboih = 50k
Sewa kapal rubiah 300k :  per orang = 50k
Sewa motor 50k x 5 hari = 250k : per orang = 125k
Bensin 5 hari 50k : per orang = 25k
Total 629k

Penginapan
Iboih 2 malam 300k : per orang = 100k
Sabang 2 malam 120k : per orang = 60k
Total 160k
Grand Total 789k

Tips Backpacking Aman ke Aceh
– Kenali budaya setempat yang identik dengan Syariat Islam
– Kenakan pakaian sesuai Syariat Islam, wanita mengenakan jilbab, pria tidak mengenakan celana pendek
– Bawa kartu identitas diri beserta fotokopinya, jika memungkinkan buat surat jalan di kepolisian sebelum berangkat
– Jauh-jauh hari minta bantuan penduduk setempat (teman ) untuk mengurus ijin jika ingin mendirikan tenda
– Hormati penduduk setempat dengan meminta ijin atau berdialog ketika mengunjungi daerah baru

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

tulisan di majalah melalui proses editing

9 pemikiran pada “On Wisata Magazine

    1. aduh jadi malu nih, sebetulnya tulisan ini pengalaman pertama ke Takengon beberapa waktu yg lalu… ke Takengon yg 2013 malah belum ketulis padahal dpt materi bagus (nyempil ke pabrik kopi, air terjun kece, kuliner, pacu kuda yg tersohor)

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s