Catatan Empat Perempuan

H-28, Pantai Mutun
Sekali lagi kutatap wajahnya, senyumnya dan hatinya. Rasanya tak ada alasan untuk tidak mencintai lelaki ini . Aku masih sangat mencintainya dan akan tetap mencintainya walaupun kita tidak akan bersama lagi.


Yoga teman terbaik yang akhirnya menjadi kekasihku. Tepat empat tahun kami merajut tali kasih dan akhirnya harus berpisah karena beribu alasan yang bernama logika. Logika bahwa di usia sekarang seharusnya aku sudah menikah , aku sudah punya anak, aku sudah memberi cucu kepada ayah dan ibu. Ada satu rasa kekecewaan ketika pria yang aku cintai tidak memperjuangkan cinta yang kami memiliki, selalu ragu melangkah dengan alasan ekonomi. Menjadi anak lelaki tertua dari lima saudara membuat mas Yoga memiliki tanggung jawab yang besar di keluarganya.
Atas izin mas Doni tunanganku, hari ini aku pergi bersama Yoga ke pantai Mutun. Aku berjanji dengan calon suamiku ini adalah pertemuan terakhir sebelum menikah . Aku beralasan ingin mengucapkan perpisahan kepada orang yang pernah menjadi bagian kisah hidupku.
Aku berharap perpisahan ini menjadi satu momen yang haru dan penuh kenangan seperti satu babak dalam sinetron . Tapi aku salah besar, Yoga sepertinya telah mengikhlaskan rasa cintanya dan diriku. Sikap sayang yang ia tunjukan hari ini seperti empat tahun ketika kami belum menjadi sepasang kekasih. Rasa sayang seorang seorang sahabat terbaik . Diapun sempat bercanda bakal ikut membantu persiapan pernikahanku.
Lega rasanya bisa melangkah ke jenjang kehidupan baru tanpa menyakiti siapapun . Aku berharap Yoga segera menemukan perempuan yang bisa mendampingi dan membuatnya bahagia.

H-14, Metro-Lampung
Putra Pertamaku, Malaikat kecilku tercinta…
Yoga adalah putra kesayanganku. Kehadirannya adalah hadiah Tuhan terbesar atas doa-doaku di setiap malam. Tuhan menganugrahinya fisik seindah sifat dan budi pekertinya. Anak lelakiku yang selalu membuatku tertawa bahagia dan tersenyum ketika menghadapi beratnya kehidupan.
Bagi kami , keluarga petani sederhana menyekolahkan Yoga ke bangku kuliah adalah sebuah perjuangan. Tapi kerja keras dan doa kami terbayar akhirnya Yoga menjadi seorang sarjana Teknik Mesin. Hari ini tepat setahun Yoga bekerja di perusahaan ekplorasi minyak. Kondisi ini membawa perubahan besar di keluarga kami. Yoga mampu membiayai adik-adiknya sekolah untuk menggapi cita-cita tertinggi. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan atas semua rahmat dan rezeki dari Tuhan yang diberikan melalui putra kami Yoga.
Hari ini jadwal Yoga masuk kerja setelah melewati libur dua minggu. Ada rasa kekhawatiran melepas kepergian putra tersayangku ke tempatnya bekerja yang jauh berada di hutan. Namun rasa ini coba kusembunyikan dalam-dalam. Aku memohon dan berdoa kepada Tuhan untuk melindunginya. Tapi mengapa hari ini aku benar-benar merasa takut?
Sebelum berangkat aku sempat bertanya keinginanannya untuk segera menikah. Sebetulnya ini adalah sebuah kiasan kecil atas pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Aku ingin Yoga menceritakan tentang kisah cintanya yang gagal demi impiannya memberikan pendidikan terbaik buat adik-adiknya. Tapi kali ini Yoga hanya tersenyum dan dengan bercanda menjawab ingin menikah dengan perempuan secantik bidadari .

H, Palembang
Kupandangi langit kota Palembang yang makin gelap, rasanya rencana jalan-jalan menikmati keindahan Jembatan Ampera soreini bakal gagal. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke ke BBku berisi pesan
SUDAH MAKAN? OBATNYA JANGAN LUPA DIMINUM
Kulihat pengirimnya dari nama yang sangat aku kenal. Yoga, seorang sahabat yang sampai detik ini aku belum pernah temui di dunia nyata. Berawal dari perjodohan di dunia maya oleh seorang rekan kerja yang berdomisili di Lampung. Akhirnya aku mengenal Yoga . Awalnya aku tidak tertarik dengan perjodohan ini karena jujur Yoga bukan tipeku. Walaupun temanku bilang Yoga itu tipe laki-laki baik dan penampilan fisiknya di atas rata-rata. Tapi rasanya sulit bagiku untuk membuka hati setelah kegagalan cintaku yang terakhir.
Untuk menyenangkan temanku akhirnya aku memberikan pin BBku kepada Yoga. Berawal dari chatting yang isinya basa basi akhirnya aku bisa mengenal sosok Yoga. Mungkin Yoga bukanlah sosok pria ideal untuk dijadikan kekasih tapi dia adalah teman curhat terbaik yang pernah aku miliki.
Dan ternyata kehadiran Yoga menjadi begitu sangat berarti ketika satu cobaan hidup menghampiriku. Aku divonis dokter menderita penyakit kanker darah. Sejumlah proses pengobatan yang menyakitkan harus aku hadapi. Proses kemoterapi yang berulang-ulang membuat fisik dan mentalku rapuh. Tak kusangka pria yang dulu pernah aku tolak, kini hadir bagai malaikat pelindungku. Setiap waktu Yoga selalu menguatkanku dan memberikan semangat. Rasanya satu detik saja tanpa pesan atau telepon dari Yoga hidup ini ada yang kurang. Aku menemukan sosok ayah yang telah tiada pada diri Yoga. Aku bisa terlelap tidur ketika mendengar suaranya , persis seperti ketika Ayah berdongeng sebelum tidur.
Kini masa-masa berat telah aku lewati dan aku makin dekat dengan Yoga. Jujur aku sayang dengan dia tapi rasa ini bukan cinta. Karena aku tahu hanya ada satu perempuan yang ia cintai. Wanita yang pernah menjadi bagian hidupnya selama empat tahun. Dan kini harus ia lepaskan demi kebahagian sang wanita dan keluarga yang ia cintai. Kadang aku berpikir dijaman modern seperti ini masih ada pria lugu dan baik seperti Yoga. Pria yang mampu berkorban demi orang yang ia cintai , meskipun dia harus tersakiti.
Lagi-lagi sebuah pesan singkat dari Yoga meluncur, kali ini sebuah janji kalau esok kami akan bertemu. Rencana sore ini dia akan pulang dari site tempatnya bekerja dan keesokan harinya dengan penerbangan pertama akan menyusulku ke Palembang. Rasa penasaran dan bahagia bercampur aduk. Kira-kira bagaimana ya rupa malaikat pelindungku. Kalau kata teman-teman yang sudah pernah bertemu, aslinya jauh lebih keren dari di foto.
Akhirnya mendung siang ini berakhir dengan hujan deras yang membuatku benar-benar enggan untuk keluar dari kamar hotel. Tiba-tiba sebuah nomor yang sangat aku kenal memanggil dari ponselku, nomor Yoga. Tapi setelah aku angkat yang terdengar hanya suara keramaian dengan latarbelakang suara ambulan. Aku tertegun, berkali kalii kupanggil nama Yoga tapi tidak ada yang menjawab. Kupanggil kembali nomornya, akhirnya ada suara yang menjawab. Tapi itu bukan suara yang aku kenal. Suara itu nampak bingung lalu dia berujar bahwa pemilik handphone ini mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Aku sangat marah dengan si penelpon, bercanda sangat keterlaluan dan tidak tahu tempat dan waktu. Tapi lagi-lagi sang penelpon meyakinkan bahwa pemilik telepon sudah meninggal dunia.
Antara percaya dan tidak percaya aku telpon rekan kerja Yoga. Berkali –kali nada sibuk yang aku terima. Tapi aku tetap berusaha untuk meyakinkan bahwa semua berita ini tidak benar.
Akhirnya aku bisa menghubungi rekan kerja Yoga dan di sana hanya ada nada keharuan. Yoga memang benar-benar telah pergi dalam satu kecelakaan lalu lintas ketika ia pulang menuju rumah sore ini.
Aku benar-benar lemas , serasa sebagian hidupku hilang. Aku merasa seluruh badanku digerogoti kembali kanker stadium akhir. Hatiku bagai ditusuk beribu-ribu jarum berisi cairan kimia untuk terapi kemo. Aku ingin Yoga kembali untuk menyemangatiku. Aku ingin dia kembali.

H+7, Metro-Lampung
Kugandeng tangan adikku Sri, dan Tari. Kami melangkah khusuk menuju pemakaman umum yang berada di sebelah utara sawah milih Ayah. Sri membawa sekeranjang bunga sedangkan Tari menggendong si bungsu Rina.
Gundukan tanah itu masih berwarna kemerahan , kembar mayang di atasnya pun belum tampak terlalu kering. Tapi rasa kehampaan ini begitu lama dan menyesak dada. Mungkin satu-satunya cara untuk menghilangkan rasa ini dengan mengunjungi makam mas Yoga dan membersihkannya setiap hari. Karena air mata dan kesedihan tidak akan membuat kami kuat. Kekuatan menghadapi kenyataan yang diperlukan untuk melanjutkan kehidupan segetir apapun.
Dengan sigpanya RIna , adikku yang berusia 6 tahun itu turun dari gendongan. Tangan-tangan mungilnya memungut bunga kamboja yang tersebar di pemakaman dan meronce menjadi sebuah rangkaian indah. Aku dan Tari mencabuti rumpu-rumput liar yang mulai tumbuh di sekitar makam mas Yoga sedangkan Sri mulai menaburkan bunga dan menuangkan air mawar.

Terimakasih Tuhan . Engkau telah memberi kan kakak lelaki berhati malaikat . Jika sekarang Engkau mengambilnya kembali kami ikhlas. Karena apa pun yang menjadi kehendakMu adalah yang terbaik. Meskipun terkadang yang terbaik terlalu getir untuk dirasakan oleh manusia.

4 pemikiran pada “Catatan Empat Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s