Menuntun Sahabat ke Pantai Mutun

Libur Tlah Tiba.. Hore.. Hore..

Awal bulan Juni akhirnya balik ke kampung juga setelah lebih empat bulan ga pulang (saingan ama bang toyib). Dan kebetulan awal bulan ini juga para pegawai se Indonesia sedang menikmati long weekend. Jadi kepikiran buat kumpulin temen-temen kuliah yang masih di lampung dengan menyebar “woro-woro” di facebook.

Ternyata mengumpulkan orang di liburan panjang agak susah , rata-rata sudah punya rencana masing-masing. Meskipun pagi jam 6 saya baru sampai lampung setelah melawati perjalanan panjang 14 jam lebih. Rencana jalan jalan ini tidak boleh gagal.

Setelah tidur sejenak dan makan siang, sayapun bergerak ke pantai yang tidak terlalu jauh dari Bandar Lampung. Kira kira 25 km ke arah barat daya dari kota Bandar Lampung terdapat sebuah bernama Mutun. Sebuah pantai yang berada di kecamatan Padang Cermin kabupaten Pasawaran.

Tepat jam 2 siang sayapun sudah sampai lokasi. Suasan pantai sangat ramai. Sebetulnya agak menyesal juga menolak tawaran rekan saya untuk pagi-pagi ke pantai ini dan bersnokling . Tapi bagaimana mungkin, jam 6 pagi saya baru sampai rumah. Sambil menunggu teman sayapun tidur tiduran di gubuk sambil memandang pantai yang makin mirip cendol. 😦

Tepat jam 3 sore akhirnya 3 orang rekan kuliah sayapun datang dan satu orang membawa anaknya. Thanx God. Akhirnya ada yang datang juga. Melihat pantai yang begitu crowded kamipun langsung menyebrang ke pulau tangkil dengan tarif Rp 10.000,-

Keramaian di pulau Tangkil tidak berbeda dengan pantai Mutun. Akhirnya kamipun menyusuri pantai untuk mencari objek photo. Setelah berjalan sekitar 200 meter melewati tumbuhan bakau sampailah kami spot yang penuh dengan batu coklat menjulang. Ada beberapa batu yang terlihat unik, terdiri dari tumpukan fosil kerang. Cuaca di Pulau Tangkil tidak secerah di Pantai Mutun, terlihat awan mendung.

Beberapa rekan sayapun mulai mengeluarkan perlengkapan “Gear” untuk mendapatkan gambar yang maksimal di cuaca yang buruk seperti triport dan lampu Blitz. Karena saya hanya mengandalkan kamera poket, sepertinya saya harus bermain main dengan siluet untuk mendapatkan gambar yang unik.



Selain bebatuan terjal banyak elemen di pantai  pulau Tangkil yang bisa dijadikan objek foto seperti perahu, dahan serta ranting pohon bakau. Jika ingin sedikit berbasah ria , hamparan rumput laut di jernihnya airpun bisa dijadikan objek yang menarik.

Menjelang sore kamipun kembali ke tepi pantai berpasir , berharap sang surya akan muncul sedikit untuk melengkapi sore ini dengan sunset. Tapi nampaknya sang surya benar-benar enggan untuk muncul, dia hanya menyisakan semburat warna kuning .

Tepat jam 18:00 kapal menjemput kami untuk kembali ke pantai Mutun. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan kapal nelayan pencari ikan.

Ketika menjejakan kaki di Pantai Mutun sayup sayup terdengar kumandang adzan tanda magrib telah tiba. Terimakasih ya Allah hari ini telah mempertemukan aku dengan temen lama di tempat yang indah. Meskipun Mutun tidak seindah Karimunjawa atau Wakatobi tapi aku akan tetap kembali ke sini… Lampung Home Sweet Home

Thanx banget buat : Anton, Cokro, Betty n Agis… next time ke Klara.

7 pemikiran pada “Menuntun Sahabat ke Pantai Mutun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s