Pulang

pulang
Kala itu langit jogja begitu berwarna lembayung awanya bergulung-gulung seirama dengan jiwaku yang gamang antara rasa takut dan rindu.
“Mas, besok aku wisuda” Tangan mungil adikku menggengam erat bahuku dan matanya memohon sesuatu yang tidak pernah ia pinta sebelumnya
Aku hanya menghela napas panjang sambil menggeleng tanda tidak setuju.
“Mas Reno masih marah dengan Ibu ya?” Tanya Rina adiku
Lagi-lagi aku tidak menjawab tapi jujur aku benci dengan semua pertanyaan ini. Kuhisap rokok dalam-dalam lalu kuhembuskan kuat untuk mengisyratkan suara hatiku.
“Mas yakinlah ibu sudah melunak, ndak mungkin di momen bahagia ini ibu menghardik mas.” Rina meyakinkan
Aku tetap terdiam……

**********
Jiwaku melewati lorong ruang dan waktu seolah-olah terbentang kisah pahit lima tahun yang lalu ketika ibu menghardiku dari rumah karena kesalahan yang tak termaafkan.
“Pergi yang jauh anak durhaka…!!!! Jerit ibuku di tengah-tengah pemakaman Bapak.
Aku sangat ini minta maaf namun sebelum kata-kata itu terucap tatapan dalam menghakimi dan sinis semua orang membuatku tidak dapat berkata-kata. Hanya tatapan dik Rina yang bersahabat kepadaku, tatapan yang membuat aku yakin tetap melangkah ke rumah ini. Sampai detik ini aku masih merasa bersalah , bayang wajah ayah di saat-saat terakhir sering datang dalam mimpiku. Aku meninggalkan Ayah sendirian di saat-saat terakhirnya hanya karena seorang perempuan yang tidak benar-benar mencintaiku.

Ajeng itulah nama gadis yang menggetarkan hatiku ketika pertama kali aku menjejakan kakiku di kampus biru. Sosok wanita yang selama ini hadir dalam mimpi-mimpiku kini dia menjadi nyata dan hadir sebagai teman satu kampus. Walaupun sulit untuk menumbangkan hatinya dan meminang cintanya ke dalam kehidupanku , akhirnya setelah 3 semester aku dan Ajeng resmi menjadi sepasang kekasih. Perjuangan panjang yang tidak sia-sia gumam sombongku kepada teman-teman. Aku sadar bahwa Ajeng dan aku tidak sebanding denganku tapi dengan cinta dan pengorbananku aku merasa menjadi laki-laki yangpaling  layak mendampingi dia. Setiap hari aku selalu mengantar dan menjemput kemanapun Ajeng pergi. Aku juga selalu berusaha menyenangkan hatinya dan tidak pernah menolak semua keinginannya walaupun terkadang aku harus tidak makan dan berbohong kepada orang tua agar mendapat uang lebih. Meskipun jarak Magelang-Jogja tidak terlalu jauh aku lebih memilih untuk tinggal di Jogja dan jarang pulang ke rumah. Alasan sibuk dengan tugas kuliah dan ujian menjadi senjata pamungkas ketika dik Rina dan ibu memintaku pulang ke Magelang.

Awan mendung menyelimuti kota Jogjakarta, gerimis berjatuhan rindang membasahi jalanan kecil di depan kosanku. Aku mendengar langkah tergopoh-gopoh mendekat. Tiba-tiba pintu kamarku terbuka sesosok perempuan menerobos masuk tanpa permisi.
“Mas… bapak mas….” Rina adikku memeluk tubuhku sambil menangis sejadi-jadinya. Tangisan memecah haru di tengah hujan yang mulai deras.
Bapak mendapat serangan jantung cerita Rina dan sekarang beliau ada di RS Sardjito bersama Ibu. Aku dan Rina bergegas ke rumah sakit menerobos lebatnya hujan di jalanan basah kota Jogjakarta. Kami berlarian bagaikan sepasang anak panah, berhamburan melalui lorong panjang rumah sakit. Ketika memasuki ruang Melati III aku melihat Bapak tergolek lemah badannya di penuhi selang-selang infus dan alat bantu pernapasan sedangkan ibu bersimpuh di samping ranjang sambil berdoa. Kami bertiga saling berpelukan dan aku berusaha menguatkan hati dua wanita yang aku cintai.
“Le , kamu bisa kan jaga Bapak untuk malam ini?” Ibu bertanya kepadaku
“Adikmu Rina besok ujian , ibu dan dik Rina mau pulang ke Magelang sebentar.. Ibu juga mau pinjam uang ke Lek Sobri untuk pengobatan Bapak”… ibu memintaku sambil mengelus pundaku
Aku mengangguk pelan tanda setuju sambil memijat kaki Bapak yang memucat.

Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan kondisi Bapak dan nasib keluarga kami. Tiba-tiba Ajeng datang , aku kira kedatangannya ingin menjenguk bapak tapi ternyata dia ingin menagih janjiku.
“Mas gimana, katanya mau anter aku casting?” ujarnya cemberut suram
“Jeng, maaf aku ga bisa . Aku lagi jaga bapak…” jawabku sabar
“Huh mas… janji yo janji. Lagian di sini kan ada suster”. sergahnya cepat…
Tiba-tiba Ajeng mengambil kunci motor yang ada di meja lalu dia berlari, dengan sigap aku menyusulnya lalu ku tarik tangganya.
“Apa-apaan sih kamu?” tanyaku marah..
Ajeng terdiam lalu memeluku sambil menangis , “Pokoknya aku mau di anter dengan mas Reno, ga lama mas sejam saja” Rayu Ajeng
Aku benar-benar luluh dengan kondisi seperti ini. Akhirnya setelah menitipkan bapak ke perawat jaga aku pergi mengantar Ajeng casting.
Waktu berlalu begitu cepat ternyata setelah menunggu Ajeng juga belum mendapat giliran. Perasaanku benar-benar tidak enak tapi apa dayaku aku harus melayani dan memberikan yang terbaik kepada pujaan hatiku. Setelah menunggu 2 jam lebih akhirnya kewajiban ini selesai juga. Secepatnya ku antar Ajeng pulang lalu aku bergegas ke rumah sakit. Aku berlari masuk ke kamar bapak tapi aku liat semuanya kosong… Yang terlihat hanya hamparan seprai putih dan berjajar rapih bantal di atasnya. Aku bingung dan mencari perawat jaga.
“Sus , pak Sukoco yang ada di kamar Melati III kemana?” tanyaku gugup…
“Lho mas, baru saja tadi di jemput keluarganya pulang?’ jawab prawat jaga yang wajahnya tidak kukenal
“Pulang?” Aku makin bingung…
“Iya tadi mendapat serangan mendadak dan maaf kami tidak menolong lebih banyak.” Jawab perawat senior  lirih mulai memahami situasi
“Hah?” Aku langsung berlari  dan memacu motorku pulang ke Magelang…

**********

“Kring….Kring……” Suara telepon dik Rina membuyarkan lamunanku
“Asslamaualaikum bu…. iya sebentar lagi aku pulang…” Rina menjawab telepon
“Mas aku pamit pulang dulu ya….ibu baru datang dari Magelang” Rina mencium tanganku lalu pergi pulang melangkah keluar. Bayangan tubuhnya semakin menghilang ditelan kegelapan malam. Aku tersadar bahwa rasa benci ini tiba-tiba menghilang menjadi rasa rindu yang luar biasa. Jujur di dalam hati kecilku aku sangat merindukan Ibu. Aku ingin membasuh kaki dan menciumnya. Tapi apakah ibu menerima anak durhaka sepertiku. Anak yang mementingkan cinta semu dibanding kasih yang tulus dari orangtua. Aku merasa sangat naif harus mengorbankan semuanya demi Ajeng. Seorang gadis yang ternyata tidak mencintaiku sepenuh hati dan segenap jiwa. Selepas lulus kuliah Ajeng hijrah ke Jakarta mengejar impiannya untuk menjadi artis dan semenjak itu juga hubungan kami lambat laun memudar lalu menghilang. Kini dirinya benar-benar hanya mimpiku buatku, dirinya tak bisa kukenali lagi yang kutahu aku hanya bisa melihat paras ayunya dirinya dari televisi dengan nama komersil Angel..

Pagi ini kuberanikan diriku datang ke Gedung Serba Guna Graha Sabha Pramana demi permintaan adik tunggalku tercinta , Rina. Hari ini dirinya resmi menyandang gelar dokter, cita-cita yang diimpikannya sedari kecil. Mataku nanar menyapu setiap sudut pandangan keramaian, orang-orang saling berbagi kebahagian dengan keluarga. Terbayang wisudaku beberapa tahun yang lalu yang hanya di hadiri oleh Lek Sobri dan dik Rina. Getir rasanya membayangkan hari bahagia ini tanpa kehadiran orang-orang yang aku cintai. Akhirnya mataku tertuju pada sosok wanita tua yang sangat aku kenal. Aku tak dapat melupakan sosok itu dengan guratan wajah yang semakin dalam oleh beratnya beban hidup. Tanpa sadar kami beradu pandang , sejenak aku ragu untuk menghampirinya karena takut tapi tiba-tiba semuanya menghilang ketika aku melihat senyum bahagia dan mengisyaratkan cintanya kepadaku. Aku tak kuasa untuk menahan diri menghampirinya, kupeluk tubuh tua renta itu dengan penuh haru. Ketika aku ingin bersujud mencium kakinya ibu menarik pundak dan berkata, “Wis le tangis-tangisan ne , neng omah wae”. Tangan ibu kuat menggengam tanganku dan dik Rina rasanya ibu takut kehilangan barang yang paling berharga dikehidupannya. Sepanjang prosesi wisuda ibu tak banyak bicara dia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku semakin erat, tapi aku sadar ada setitik air mata yang mengambang di ujung matanya.
“Bu maafkan aku.” suaraku ku mengawali percakapan
“Sudah le.. ga usah diminta, ibu sudah memaafkan kamu dari dulu-dulu” bisik ibu menyejukan hatiku.
Setelah acara wisuda dik Rina selesai kami bertiga melangkah pulang dengan rasa bercampur antara rindu, bahagia, cinta, dan bangga atas keberhasilan dik Rina dan berkumpulnya keluarga kecil kami.
“Le kamu pulang kan?” tanya ibu kepadaku…
“Hmmm iya bu abis ini aku kembali ke kantor karena aku ijin sampai siang saja.” jawabku bingung
“Bukan le, kamu mau kan pulang ke Magelang? mata ibu menatap bertanya penuh makna
“He eh’ anggukku pelan. Kali ini ibu benar-benar tidak kuasa lagi menahan diri dia meraih pundaku dan memeluku sambil menangis. Dik Rinai ikut memeluk kami dan akhirnya kami bertiga saling berpelukan dan larut dalam keharuan yang begitu dalam. Aku merasa seperti anak hilang yang baru ditemukan . Aku benar-benar ingin pulang ke rumah…

*Kisah Kehidupan untuk Temanku dan Keempat Srikandi Kehidupannya…*

9 pemikiran pada “Pulang

    1. nah itu gan gw memang ada masalah dengan ketelitian ejaan n tanda baca, maklum dulu mata kul bahasa indo ga lulus. tapi makasih gan atas masukannya , abis ini langsung search tatanan eyd. biar tambah ok tulisannya….

      Suka

  1. Wahhh. Fiksi. Kisahnya bagus. Hanya ya seperti komen sebelumnya. Banyak yang salah tanda baca ataupun typo ya.

    Misalnya pas saya baca yang ini:
    Aku sangat ini minta maaf namun sebelum kata-kata itu terucap – agak berulang2. Apa memang ada typo atau tidak.

    Tapi suka kok dg inti ceritanya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s