
Kabut tipis menyelimuti permukaan danau menebarkan rasa dingin yang teramat sangat. Ujung-ujung jari kaki saya pun mengeriput tanda kedinginan. Rasanya enggan menyambut pagi di danau terluas kedua di Sumatra. Tapi sayang meninggalkan momen yang belum tentu akan saya jumpai tahun depan. Melihat matahari pagi di tepi Danau Ranau.Ketika beberapa rekan masih terlelap di pondok kayu dan tenda, sayapun beringsut memburu sang fajar. Kemilaunya merahnya tidak seindah sunrise di tepi pantai tapi cukuplah untuk sebuah momen berharga. Lanjutkan membaca “Bikepacker Menjelajah Lampung Barat (part 7): Pagi di Ranau”



