Suhu di pantai memang panas, jadi ga heran kalo kita pada rame-rame buka baju di sini. Bukannya pengen nyaingin bule di sini atau pamer perut kotak-kotak. Sumpah panas banget di pantai Tanjung Setia.
Dua ekor bebek berenang ringan mencari ikan di tepi danau Ranau. Gayanya tak seanggun angsa tapi pantulan air beriak ringan memunculkan dimensi unik. Rasanya sayang untuk tidak mengabadikannya.
Kabut tipis menyelimuti permukaan danau menebarkan rasa dingin yang teramat sangat. Ujung-ujung jari kaki saya pun mengeriput tanda kedinginan. Rasanya enggan menyambut pagi di danau terluas kedua di Sumatra. Tapi sayang meninggalkan momen yang belum tentu akan saya jumpai tahun depan. Melihat matahari pagi di tepi Danau Ranau.Ketika beberapa rekan masih terlelap di pondok kayu dan tenda, sayapun beringsut memburu sang fajar. Kemilaunya merahnya tidak seindah sunrise di tepi pantai tapi cukuplah untuk sebuah momen berharga. Lanjutkan membaca “Bikepacker Menjelajah Lampung Barat (part 7): Pagi di Ranau”
(18/05/2012)Selepas sholat Juma’t perjalanan dilanjutkan menuju Danau Ranau. Estimasi jarak tempuh kira-kira 90 km lebih. Setelah pamitan dan sesi foto dengan Mas Siwa dan rekan dari komunitas RAKIT, motor kembali kita pacu menembus jalanan berbukit di Lampung Barat.
Rasa lelah dan dinginnya udara malam benar-benar membuai tidur kami semalam. Setelah beramah-tamah dengan mas Siwa dan kawan-kawan dari komunitas Pecinta Alam Lampung Barat-Rakit. Kami berdua belas sukses tewas di teras depan basecamp. Jika pagi ini tidak ada rencana berarung jeram rasanya enggan bangun lebih awal.
Pukul menunjukan 16:00 WIB, suara air sungai Way Besai yang jaraknya beberapa meter dari posko Pecinta Alam Lampung Barat – RAKIT- begitu menggoda. Saya bersama beberapa rekan menyusuri sungai ke arah hulu lalu melewati sebuah jembatan dengan pemandangan sawah.