Curahan

Antara Kesepian dan Lebaran Tahun Ini

“Kapan Mas nikah. Apa tidak takut nanti di masa tua sendiri, tidak ada anak-anak yang mengurus atau pasangan yang mendampingi?”

Begitulah pertanyaan paling ampuh untuh membuat jomblowan dan jomblowati galau. Diseret ke masa depan dihadapkan pada sebuah ketidakpastian. Padahal kalau mau dipikir apakah anak merupakan investasi yang dapat dijadikan jaminan hari tua. Bukankan mereka memiliki kehidupan sendiri?

Begitu juga pasangan, pastikah mereka yang akan menemani kita hingga akhir hayat. Jangan-jangan kita berangkat dulu. Pada intinya jangan pernah memberikan tanggung jawab besar tentang masa depanmu kepada orang-orang yang kamu cintai. Karena belum tentu dapat menjadi orang yang mereka harapkan.

Sejujurnya merasa sendiri dan kesepian itu benar-benar menyiksa. Walau terlahir dari keluarga kecil saya cukup mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Rasanya saya tidak pernah benar-benar merasa sendiri apalagi kesepian. Setidaknya saya punya orang tua yang selalu siap kapan diajak bicara, dari hal-hal receh sampai obrolan serius.

Sejak sekolah di TK hingga kuliah, setiap hari ibu selalu mendengarkan pengalaman seharian saya. Jadi tidak mengherankan jika ibu hapal teman-teman saya. Hingga ketika masuk dunia kerja saya lebih selektif. Karena ibu semakin tua, saya harus bijaksana menyaring hal-hal yang dapat menggangu pikiran dan kesehatannya.

Merasa Kesepian

Mungkin saya adalah orang ekstrovert karena pada akhirnya saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan banyak orang dibandingkan diri sendiri. Tapi juga tidak bermasalah jika harus di kamar sendiri berhari-hari untuk mengerjakan hobi.

Walau tidak setiap detik bicara, teknologi semakin membuat lebih banyak bicara. Aplikasi chating membuat kita lebih berisik walau hanya tulisan serta memupuk kemampuan menyampaikan suara. Saya benar-benar bisa bersuara ketika bergabung dengan radio online. Kemampuan komunikasi saya meningkat tajam, dari yang gemetaran bicara di muka kelas, jadi percaya diri bicara di depan umum.

Setelah bertahun-tahun hidup dengan internet berkecepatan tinggi, saya menghadapi kenyataann harus bekerja di hutan tanpa koneksi internet. Saya benar-benar merasa kesepian walau sebenarnya ada teman kerja satu shift. Saya seperti kecanduan internet, saya ingin chating dan berbicara dengan orang-orang di seluruh dunia.

Satu bulan saya merasa kegelisahan yang luar biasa dan benar-benar merasa kesepian. Kalau sudah begini biasanya akan lebih aktif mencari pasangan hidup. Tapi namanya juga belum rejeki, diusahakan sekuat apapun belum berhasil.

Setelah lebih 10 tahun, kesepian luar biasa ini saya rasakan kembali ketika pertama kali mutasi ke Batam. Saya yang konon ekstorvert nyatanya bisa kesepian dan tidak mudah mencari teman. Mungkin ini hanya masalah psikologis, ketika dimutasi tanpa tahu penyebabnya, ada perasaan dibuang, dijauhkan dari teman-teman dan yang paling menyedihkan adalah dijauhkan dari hobi. Empat tahun saya menjalani hobi traveling dan ngeblog dan ketika sedang moncer-moncernya semuanya seperti diambil begitu saja. Tidak banyak waktu jalan-jalan.

Iklas menerima adalah pelajaran paling penting dalam hidup. Tidak sampai setahun saya menemukan komunitas dan teman baru di Batam. Apa yang saya pikir buruk ternyata tidak buruk. Meski pola kerja office hour, saya tetap bisa jalan-jalan dan ngeblog. Banyak berkah yang saya terima di sini, tidak hanya materi juga networking yang membuat pekerjaan utama dan hobi bisa berjalan selaras.

Kehidupan juga berubah dari anak kos yang setia di kamar, jadi anak nongkrong yang juga nggak gaul-gaul amat. Saya punya beberapa kelompok teman nongkrong, dari lingkungan kerja dan hobi. Meski nongkrong kami masih produktif dan positif walau ada sedikit gosip dan ghibah. Hidup memang terasa lebih cepat karena tidak ada waktu yang tersisa. Kalau tidak bekerja, ya membuat konten, kalau tidak membuat konten yang nongkrong, kalau tidak ya jalan-jalan. Begitu saja seterusnya.

Corona Datang Saat Lebaran

Saya memiliki rencana spesial Lebaran tahun ini karena bertepatan dengan hari jadi. Saya ingin menyisipkan rencana liburan bersama keluarga walau hanya styacation. Tapi siapa menyangka semua rencana ambyar bersama datangnya corona.

Sejak ditetapkan WFH dan social distancing saya benar-benar mati gaya. Terbiasa sarapan, makan siang dan makan malam di tempat tongkrongan tiba-tiba ada larangan dari pemerintah daerah untuk nongkrong.

Saya pikir, saya cukup adaptif menghadapi social distancing. Pola hidup saya berubah 180 derajat, dari yang biasa makan di luar jadi masak di rumah, dari yang terbiasa me-laundry pakaian kotor jadi mencuci dan menggosok sendiri. Dari yang paling sering jalan-jalan, jadi paling setia di kamar. Beruntung banyak kegiatan dan komunitas yang membuat saya jinak di rumah. Tapi apakah saya mampu sendirian saat lebaran?

Saya jadi teringat pertama kali dalam hidup melewati lebaran tanpa keluarga. Tahun 2010 saya pindah bekerja di Jambi dan sebagai anak baru saya kebagian tugas saat lebaran. Awalnya saya dengan teman shift saya baik-baik saja, tapi ketika mendengar suara takbir kami kompak menangis bersama.

Baiklah saya mencobar berdamai dengan kesepian, sejatinya rasa itu hadir karena kita merasa sendiri, jauh dengan orang orang yang dicintai. Mungkin secara fisik memang tapi orang-orang yang saya cintai masih di hati ini bukan?

Hari terakhir puasa saya mencoba mempersiapkan diri seperti lebaran di rumah. Walau tidak selengkap di rumah, menu lebaran dihadirkan di meja makan, lengkap bersama kue-kuenya. Sehingga saat berbuka terakhir bisa menikmati ketupat opor seperti di rumah. Saya buka layar ponsel lebar-lebar, walau dari jauh saya tetap bisa berbuka puasa dan mengobrol dengan keluarga di Lampung.

Begitu juga keesokan paginya, dengan pakaian terbaik duduk di depan laptop dan menikmati menu lebaran. Saya mencoba berdamai dengan rasa sepi. Berikutnya silih berganti mengucapkan selama hari raya melalu video call kepada teman dan kerabat. Mungkin secara visual saya duduk sendiri di ruangan tapi secara hati saya jauh berkelana bersilaturahmi ke orang orang yang saya cintai.

Lalu pertanyaannya apakah saya kesepian karena sendiri? Tiba-tiba sebuah suara berkata, kamu tidak benar-benar sendiri, masih ada Allah bersamamu. Ia yang selalu akan menuntunmu untuk tidak merasa kesepian.

Saya jadi ingat betapa banyak berkah yang saya terima di Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini. Saya ingat benar bagaimana semua kebaikan itu dibalas kontan. Baru saja satu kebaikan selesai dilakukan, tanpa menunggu hari, kebaikan lainnya datang tanpa diminta. Saya semakin yakin bahwa Allah bersama saya.

Jadi sebetulnya kesepian itu hanya rasa ketika kita merasa sendiri. Yakinlah kita tidak benar-benar sendiri. Kadang ketika merasa begitu egois karena merasa kesepian dalam kesendirian. Padahal bisa jadi ketika kita sendiri masih ada yang menyayangi dan merindukan kita.

Saya tidak tahu sampai kapan akan berdiam di rumah karena sebetulnya kita belum patut untuk bersama karena pandemi COVID-19 masih ada di luar sana. Jangan sampai rasa kesepianmu membuat mu kehilangan logika untuk melakukan hal-hal yang merugikan orang lain.

Stay Safe Stay at Home.

(Curhat di hari jadi dan Idul Fitri 1441 H)

9 tanggapan untuk “Antara Kesepian dan Lebaran Tahun Ini”

  1. Saya tahun ini tidak mudik, menepi di kosan sambil lebih banyak berkomunikasi dengan emak. Terlepas apapun itu, orang yang sering bertanya kapan kamu bla bla bla itu lebih banyak tidak tahu apa yang kita hadapi.

    Suka

  2. selamat lebaran mas Danan..

    tahun ini banyak bgt yang ngga bisa mudik lebaran, termasuk mas Danan dan juga saya.. sedih lebaran jauh dari keluarga, bener2 beda bgt suasana lebaran tahun ini dibandingkan biasanya.. walaupun terasa sepi, tapi jika berpikiran positif ternyata hati kita juga bisa tentram walaupun jauh dari keluarga ya, terasa seperti bersilaturahmi antara hati ke hati..

    semoga tahun depan kita bisa kembali lebaran bersama orang-orang terkasih.. aamiin..

    -traveler paruh waktu

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s