Kisah Mudik – Kembali Ke Kampung Bersama Ibu Setelah 30 Tahun

Rindu itu datangya tidak tiba-tiba, ia bagai tetesan air  yang jatuh membasahi tanah  lalu  berkumpul  menjadi  genangan. Pelan-pelan menghadirkan pantulan kenangan masa lalu. Jika waktunya tiba-tiba  kamu ingin merengkuhnya, bertemu mereka yang pernah hadir di masa lalu untuk  membasuh rasa.

Ramadan ke 5 ibu bertutur tiba-tiba hatinya  rindu teman masa kecilnya 30 tahun lalu dan sanak saudara di Madiun yang ia kunjungi 13 tahun lalu. Sebagai perantau, hati kami memang terbiasa menawar rasa rindu. Namun kali ini ibu tak kuasa menahannnya lalu terujar sebuah permintaan. “Ibu ingin mudik ke Madiun lho  Tong.”

Kembali Travelling Bersama Ibu

Hampir 20 tahun saya tidak pernah melakukan perjalanan bersama Ibu. Dulu semasa SMA dan kuliah beberapa kali melakukan perjalanan berdua, iya hanya berdua. Dan pilihan kotanya   Jakarta atau Bogor.  Ibu itu teman perjalanan yang menyenangkan dan seorang perencana yang baik. Mulai dari tiket, camilan sampai pakaian yang harus dibawa diatur sdengan sempurna. Sebelum mudik kemarin saya terkagum  melihat  kemampuannya berkemasnya. Untuk perjalanan lima hari kami hanya membawa sebuah travel bag kecil. Dengan seksama beliau menata pakaian yang akan dikenakan saat bersilaturahmi. Masing-masing pakaian dipadupadankan, digulung dan diikat dengan karet lalu diberi label. Ah ibu tidak pernah berubah.

Dan mungkin yang berubah saya. Sebagai anak bungsu yang yang paling dekat ibu selalu mengandalkan beliau. Begitu naik bus langsung tertidur dan tidak pernah tahu apa rencana perjalanan selanjutnya. Naik angkot jurusan A, atau harus menyambung naik kereta api. Dan kala itu yang ada di otak saya adalah  sampai dengan cara paling nyaman. Kalau tak nyaman sepanjang jalan kan merengut ngambek. Duh jadi malu.

Kali ini saya mencoba merencanakan perjalanan sempurna bagi Ibu. Tahun ini beliau usianya 66 tahun dan sudah termasuk lansia. Beruntung ada penerbangan Bandar Lampung-Solo, jadi tak perlu melewati perjalanan darat dan laut berhari-hari. Tapi bagaimana dengan transportasi darat Solo-Madiun. Awalnya saya berpikir gampang, nanti di bandara cari kendaraan / taksi yang bisa disewa atau kemungkinan paling buruk cari bus.

“Dek inget, itu hari pertama Idul fitri. Memang ada bus ke Madiun atau sewa kendaraan di bandara, ” tanya Kakak saya.

“Ya pasti ada, kalau nggak ada ditunggu sampai ada atau ke terminal bus.”

“Eh ini jalan dengan Ibu bukan backpackeran. Cari transportasi yang pasti.” Kakak saya protes.

Baiklah demi kenyamanan saya memesan kereta api Solo-Madiun, nanti dari bandara bisa naik taksi. Tapi ketika tiket kereta sudah dipesan, salah satu keponakan ibu dari Madiun bersedia menjemput ke Solo.

Terbang Pertama  Berdua

Walau dulu sering traveling bersama jarak perjalanan kita hanya sampai Bogor atau Jakarta saja dan rasanya kalau naik pesawat tidak praktis. Dan ibu agak deg-degan karena  pesawatnya dengan baling-baling. Selama ini beliau hanya menumpang pesawat besar yang katanya begitu terbang nggak kerasa apa-apa, “mak wusss… sampai.”

Apa benar mak wus, perasaan saya kalau naik pesawat besar nggak berasa apa-apa karena langsung tidur :D. Tapi ini bukan masalah besar bagi ibu. Yang jadi sedikit masalah adalah jadwal keberangkatannya menjelang orang sholat Ied. Kalau kita ikutan telat pasti ketinggalan pesawat tapi kalau diantar sebelum sholat jelas kepagian.

Ibu yang supel selalu mendapatkan teman di setiap perjalanan
Ibu yang supel selalu mendapatkan teman di setiap perjalanan

Tapi demi kemasalatan umat dan mempertimbangkan jalan yang mungkin macet, saya dan ibu di antar ke bandara pagi. Dan kita memutuskan untuk cari kafe untuk ngopi-ngopi manja. Tapi jelang hari raya begini, kafe mana yang buka? Akhirnya kita kompak duduk di ruang tunggu bandara sambil ngemil.

Hampir dua jam lebih kami berdua setia menanti di ruang bandara dan ibu nggak pernah mati gaya. Dua jam baginya cukup untuk mencari teman ngobrol lalu  mempromosikan anak bujangnya yang harusnya sudah diobral di ruang tunggu bandara.

“Bu soft campaign donk, jangan langsung tembak nanya punya anak gadis.”

“Kalau yang model gini di-soft campaign mau kapan lakunya. Sudah sana cari teman ngobrol, siapa tahu jodoh.”

*hening*

*hening*

Saya pun memilih beringsut menjauh, pamitnya cari jodoh tapi sebetulnya keliling bandara mengambil gambar dan video. Dua jam penantian di bandara tak usai  kala halo-halo petugas bandara mengumumkan bahwa pesawat akan berangkat dua jam lagi.  Delay…

Dua jam delay tak masalah bagi ibu. Wong bertahun-tahun nunggu anaknya telat nikah aja kuat apalagi pesawat. Wajahnya tetap sumringah mengobrol dengan beberapa penumpang. Namun hal yang paling mengusiknya,  ada  rencana yang harus dilewatkan. Awalnya sesampai di Solo langsung ke Madiun dan langsung nyekar Mbak Putri di daerah Mbarat tapi sudahlah karena sudah sore  kita piknik aja ke Sarangan. *eeh*

Alhamdulilah  penerbangan Bandar Lampung – Solo lancar tak ada kendala. Ibu hanya tertawa kecil menumpang pesawat berbaling-baling yang gludak-gluduk,  katanya kita mirip Doraemon naik baling-baling bambu. Ibu  pikir kita nggak mirip. Coba perhatikan badan kita lebih seksama… Apa nggak kaya Doraemon? *zoom in* Tetiba terlihat jelas Doareom dan Giant.

Di tengah penerbangan beliau bertanya  kenapa saya sebentar-sebentar bicara di depan kamera sambil benerin poni *gaya alay*.  Aslinya aku agak males menjelaskan ini ngevlog. Karena sejak memulai ngeblog, beliau tak terlalu merestui hobi baru ini, apalagi ngevlog. Jangan-jangan kalau tahu video anaknya wari-wiri di dunia maya, besok-besok aku dijual (baca dicarikan jodoh) via marketing online.

“Bu jangan jodohkan aku, jangan nikahkan aku, aku masih mau menikmati masa muda…” *lari-lari sok drama* Muda? Udah mau jadi fosil masih ngaku muda.

Edisi Tali Kasih

Ibu itu bungsu dari 12 bersaudara dan keduabelas saudaranya sudah tiada. Jarak umur ibu dengan saudara-daranya cukup jauh. Eh jadi ketahuan kalau sebetulnya ibu produk terakhir kesundulan. Semua saudaranya ini tersebar di seluruh Indonesia, jadi nggak heran kalau semua ponakannya menyebar. Dan biasanya jelang lebaran mereka pulang ke Madiun dan ada beberapa tinggal di sana.

Sejak kakak termuda ibu wafat sekitar 13 tahun lalu, ibu  tidak pernah mudik, alasannya sih karena beberapa keponakan sudah ada di Jakarta. Kalau kangen ngesot dikit ke Lampung sampai. Lalu kok sekarang tiba-tiba pengen mudik?

Menurut analisa saya, anaknya yang paling guanteng sejagad. Ibu tuh aslinya kangen teman-temannya.  Sejak punya smartphone yang bisa video call beliau  rajin mengontak teman semasa kecil. Setelah puluhan tahun tidak bertemu lalu saling mengobrol melaui video call pasti hati rasanya ser-seran apalagi kalau itu mantan.

“Cieee yang punya hape kaya kaca benggala, nggak usah dipandangin gitu-gitu amat kali.”

“Aku cuma kagum… Jaman sekarang walau jauh bisa ngobrol adep-adepan muka.” Ibu ternganga di depan smartphone barunya. Sejak saat itu, entah berapa purnama dan Giga  bite paket data yang dihabiskan untuk bertatap muka dengan teman-teman dan sanak saudara nun jauh di sana.

Duo Soetini - Rekan ibu semasa sekolah di ST Tekstil
Duo Soetini – Rekan ibu semasa sekolah di ST Tekstil

Dan  tiba-tiba orang yang tadinya hanya bisa kamu lihat di layar smartphone, tiba-tiba hadir di hadapan, itu rasanya seperti mimpi bukan? Setelah 30 tahun lebih tidak pernah bertatap muka. Haru bahagia jadi satu, antara tertawa bahagia dan menangis haru itu sulit dibedakan. Apalagi melihat sosok yang dulunya imut-imu  sekarang mirip ande-ande lumut, menggelembung tiga kali lipat.

“Ya ampun Tin kamu besar banget sekarang. Kamu bisa tua juga?” Tumpi seolah tak percaya melihat sosok montok di depannya.

“Lha kamu juga tua… Kita sudah sama-sama tua Je” Ibu tertawa.

Keluarga di Ponorogo
Keluarga di Ponorogo

“Soalnya sifat kamu itu paling ndelodok,  iseng , aku pikir kamu nggak akan bisa tua :D.  Inget nggak mau nyombalingin aku pake surat cinta palsu.” Tumpi tersenyum malu-malu.

“O sama yang anak Madura itu ya?”

“Kok kamu masih inget. Tahu nggak, setelah aku nikah dia datang lho mau melamar aku….” Kisah masa lalupun bergulir tanpa terbendung. Dari semua percakapan malam itu saya  menyimpulkan bahwa ibu memiliki masa muda yang bahagia dan disayangi teman-temannya.

Ya malam itu sesungguhnya saya merasakan roaming beda generasi yang meriah. Apalagi ketika kakak Tumpi menunjukan beberapa foto kelompok musik bambu anak-anak yang anggotanya kakak-kakak ibu dan teman sebayanya.

Kelompok alat musik bambu di desa winongo
Kelompok alat musik bambu di desa winongo

Edisi tali kasih ini terus berlanjut di tempat sanak saudara lain, mulai dari Madiun hingga Ponorogo. Ya, saya hanya jadi tukang foto, sesekali bodyguard dan berkali-kali  jadi tukang makan. Ho… Ho… Ho… *goyangin perut.  Alhamdulilah tak ada soft campaign ataupun hard campign.

Mendadak Piknik Asik

Aslinya jadwal mudik kali ini hanya silaturahmi dan ziarah kubur.  Jadi maaf ya saudara-saudara kalau tulisan kali ini nggak ada ulasan tempat wisata. Pokoknya saya pasrah mau dibawa kemana dengan ibu dan Mas Dendi, sepupu saya yang sudah bercucu.

Ibu bersama keponakan dan cucu di Mbarat
Ibu bersama keponakan dan cucu di Mbarat

Diputer-puterin kota Madiun saya sudah senang banget. Sambil mendengar cerita masa muda beliau, kemana-mana naik sepeda onthel. Ditunjukin sekolahan beliau semasa SD, ST dan STM sampai rumah mantan-mantannya. *eeh*.

Madiun itu kota yang menyenangkan terutama kulinernya. Aslinya saya nggak blusukan cari jajanan tapi jajanan itu yang menghampiri. Sebagai sepupu paling muda aku dimanjah, ditawarin mau makan apa. Aku sih pasrah saja asal perut muat.

Sampai aku juga akhirnya pasrah bongkok-an ketika pulang dari Ponorogo ke Madiun diajak mampir ke Danau Ngebel. Niatnya cuma lewat saja tapi akhirnya kita mampir makan siang dan aku curi-curi bikin video timelapse.

“Itu kenapa kamera dipasangin kaki lalu dihadapin ke Danau. Mending dihadapkan ke kita” Wajah  ibu curiga.

“Buat cari jodoh… !”

“Hah apa?” Tanya ibu dengan wajah berbinar-binar.

“Siapa tahu kamera ini jodoh dengan danau ini, jadi bisa dapat foto bagus.”

*ibu bengong mencoba mencerna kata-kata*

Dan syukurnya pembahasan tentang jodoh, nikah, jomblo dan teman-temannya nggak terdengar selama mudik. Mungkin mereka sudah lelah. Yang disindir dan ditanya malah keasikan makan atau pura-pura tidur.

Jadi kalau dihitung-hitung tempat rekreasi yang kita kunjungin itu nggak sengaja  seperti Tawamangu pas makan siang, lalu Ngebel pas makan siang  juga dan Solo ketika transit sebelum penerbangan  ke Bandar Lampung. Paling seru ketika melewati kawasan wisata danau Sarangan. Beliau menceritakan pengalaman  kerja praktek di sebuah PLTA. Sebagai satu-satunya siswi di antara para siswa. Jelas ada kisah romantis dan gebet-gebetan kaya sinetron jaman sekarang. Tapi prinsip ibu, naksir boleh tapi jangan pacaran dengan  teman sekelas. Nanti nggak ada kangen-kangennya.

Sesunggunya saya kangen momen seperti ini, travelling bersama orang tua,  mengobrol lebih santai dan sangat dekat. Terkadang waktu adalah hal yang mahal ketimbang buget yang harus disediakan. Keegoisan membuat anak terlalu sibuk dengan segala urusan pribadi, mulai dari pekerjaan, urusan keluarga (anak istri)   hingga kesenangan pribadi.  Dan ironisnya  orang tua juga merasa lebih nyaman di rumah, seperti bapak yang  selalu memilih tinggal di rumah ketika diajak makan di luar. Gimana mau diajak piknik kalau selalu ingat kucing dan ayam.

Kalau sudah begini saya hanya bisa menunggu kapan bapak ngajak piknik ke Jogja dan beliau menurunkan ilmu pamungkasnya, menaklukan hati wanita. Eh gini-gini bapak ku dulu banyak penggemarnya. Pesonanya juga masih moncer ketika sudah pensiun. Bayangkan opa-opa berusia kepala enam yang lagi asik menunggu cucu di TK , tetiba mendapat pesan singkat dari janda ngajak kenalan. 😀

Lalu anaknya? Duduk setengah hari di taman kota nggak ada yang nawar apalagi ngajak kenalan.

11 pemikiran pada “Kisah Mudik – Kembali Ke Kampung Bersama Ibu Setelah 30 Tahun

  1. hoahahahaa baca dengan deg2an, penasaran apakah perjalanan ini adalah modus ibunya mas Danan utk menjalinkan ‘tali kasih’ utk putra kesayangannya ini. ;p

    Bapak mas jg sama sih kayak ayah saya, setiap mau pergi ke luar kota yg diinget siapa yg ngurusin ayam, kucing dan peliharaan2nya.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Huaaaaa jd smakin kuat pingin ngajak bonyok pulkam skaligus plesiran jg kak…bapaknya samaan, plg susah kl diajak makan dluar/ jln2 -_-
    “Masing-masing pakaian dipadupadankan, digulung dan diikat dengan karet lalu diberi label.” Ini apik bgt deh kak 😀

    Suka

  3. Hahahaha, sungguh hiburan baca tulisan ini di siang hari. Seru ya mas jalan berdua sama ibu gitu. Macam orang ngedate hwhw. Aku kayaknya gak pernah deh. Baru akan direncanakan bulan depan, main ke pulau tetangga (nyebut pulau Bangka aja ribet banget sih yan! pantes jomblo #lhaaaa) jajajajajaja.

    Untung ya pertanyaan seputar kawin gak begitu menggema pas mudik. 😀 ajak ibukknya main ke Palembang dong sesekali.

    Disukai oleh 1 orang

    1. Hahahaha udah pernah ke Palembang jadi waktu itu tanpa hujan dan angin beliau minta dijemput ke perlambang ( aku dari Jambi dan mau pulang me Lampung). Singgah lah aku ke Palembang dan ternyata aku mau dikenalin dengan cewek, aku dibawakan baju baru dengan ibu demi perkenalan itu . Hahhahaha dan lalu drama dimulai , aku di jodoh in kak

      Disukai oleh 1 orang

      1. Duh ayah ibuku mana berani model begini hahaha. Tapi mereka selalu nyuruh orang lain *jiaaha sama aja dong ya hahaha. Jadi uwakku kadang tempo2 minta dianterin ke satu tempat. Karena gak jelas aku curiga. “Kenapa mau dijodohin ya?”

        Endingnya batal. Pada gak berani sama aku mah hwhwhwhwhwhw.

        Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s