suka duka tinggal di batam

Suka Duka Tinggal di Batam – Bagian Pertama

Bulan depan saya memasuki tahun ke tiga tinggal di pulau Batam. Pulau yang menjadi impian penduduk Indonesia usia produktif. Konon di pulau yang pertumbuhan penduduknya 158  kali lipat dalam kurun waktu 5 dekade ini surganya dunia. Banyak lowongan kerja , gampang mencari uang dan banyak hiburan (terutama dunia malam)

Tapi apakah yang dilihat orang sama dengan yang saya  rasakan? Baiklah saya akan mencoba menguliknya , paling tidak apa yang saya rasakan selama 3 tahun ini. Di bagian pertama curhatan ini saya akan berkisah tentang dukanya tinggal di Batam.

  1. Merasa Homeless

Tiga puluh tahun lebih hidup saya tinggal di pulauSumatra dengan budaya antara propinsinya hampir-hampir mirip. Meski saya sempat bekerja  di jambi 4 tahun tapi hampir tiap bulan pulang ke rumah orang tua . Tapi ketika di Batam saya tidak memiliki kesempatan sering pulang ke rumah dan benar-benar merasa jauh dari rumah.

Ini pertama kali dalam hidup merasa homeless , tidak punya tempat tinggal. Apalagi rumah-rumah di Batam status tanahnya bukan hak milik. Andai kamu membeli rumah kamu tidak akan memiliki sepenuhnya sebagai barang yang bisa diwariskan.

2. Biaya Hidup Mahal

Sebetulnya mahal dan murah itu relatif tapi kalau dibandingkan di kota kelahiran saya Lampung, biaya  hidup di Batam lumayan mahal tapi wajar sih karena hampir semua sembako  – terutama beras – didatangkan dari luar pulau seperti Jawa dan Sumatra. Jadi sudah pasti harganya tinggi karena ada biaya transportasi lintas pulau.

3. Sayuran dan Buah  Ditimbang

Di kampung saya sayuran biasa dijual dengan satuan ikat: seikat bayam, seikat kangkung dan segombyok kacang panjang. Tapi di Batam semuanya dijual dengan satuan kilogram atau ons. Bayangkan , batang kangkung yang keras dan tidak dapat dimasak harus kamu bayar juga.  Ini berlaku juga untuk kulit buah seperti rambutan, bengkoang dan lainnya.

4. Taksi Bersama

Kata teman saya yang lahir dan besar di Batam, fasilitas transportasi umum di Batam sekarang sudah lumayan dibandingkan belasan tahun lalu. Dulu satu-satunya alat  transportasi umum di Batam adalah taksi . Keren bukan?

Walau judulnya taksi tetap alat transportasi masal karena satu taksi diisi banyak penumpang dengan tujuan berbeda. Dan ironisnya kehadiran taksi alias plat hitam mendominasi tempat umum .

5. Taksi Tanpa Argo Musti Nego

Karena didominasi taksi tak resmi , di Batam agak sulit mendapat taksi dengan argo. Mau tak mau penumpang harus memiliki kemampuan negosiasi kalau tidak ingin tertipu.

Taksi berargo seperti si burung biru tak diijinkan menjemput penumpang di area umum seperti : pelabuhan, bandara dan hotel. Kalaupun ada taksi dari bandara dengan argo, penumpang tetap harus kritis bertanya kepada sang supir karena tak jarang ada biaya siluman yang bisa muncul.

6. Batam Mulai Macet

Kehadiran transportasi masal di Batam sepertinya hanya syarat saja. Meski ada beberapa trayek baru tapi  Trans Batam tidak beroperasi selama 24 jam. Padahal kota ini dulunya  diproyeksi akan menjadi Singapuranya Indonesia.

Dan kendaraan pribadi menjadi solusi atas semua masalah ini yang mengakibatkan masalah baru. Di jam-jam sibuk Batam sudah mulai macet seperti Jakarta.

7.  Pengangguran Tinggi Kriminalitas Meningkat

Pertama kali ke Batam 6 tahun yang lalu saya terkagum dengan keamanan kota ini. Motor teman saya yang diparkir di depan rumah dan ditinggal berminggu-minggu oleh pemiliknya tidak hilang. Tapi jangan tanya sekarang, motor yang dipakai bisa dibegal lalu pengemudinya dibunuh.

Kok beda banget? Konon  ini terjadi karena tingginya angka pengangguran.  Banyak perusahaan asing yang hengkang dari Batam karena iklim investasi  tidak kondusif.

Belum lagi kompetisi tenaga buruh murah di Vietnam dan China membuat PMA memindahkan pabrik mereka dari Batam.

8. Tukang Ojek Agresif

Secara pribadi saya tidak terlalu nyaman dengan tukang ojek yang selalu menawarkan jasanya dengan agresif sampai memanggil peunumpang dan bertepuk tangan. Padahal sudah jelas-jelas saya sering jalan kaki melewati pangkalan mereka.

Apakah mungkin ini imbas dari tingginya angka pengangguran di Batam sehingga tukang ojek juga harus agresif menjemput rejeki.

9. Tidak Ada Gunung

Saya ini bukan pecinta gunung tapi tinggal di Sumatra membuat saya mulai mendaki gunung dan pada akhirnya jatuh cinta. Tapi cinta saya harus kandas ketika dipindah ke  Batam . Jadi impian saya untuk menjejakan atap Sumatra saya hapus.

Ada sih beberapa bukit di Batam dengan pemandangan tak kalah indah tapi satu per satu bukit di Batam harus tumbang dan runtuh. Maraknya  bisnis properti  membuat bukit harus diratakan menjadi area perumahan.

10. Tak Ada Bus Jarak Jauh

Salah satu  yang saya rindukan dari semua perjalanan di pulau Sumatra adalah menumpang bus antar kota berhari-hari. Tapi di Batam rasanya mustahil saya bisa mendapatkan kesempatan itu. Untuk mengeliling pulau Batam hanya butuh waktu 4 jam saja dengan menggunakan sepeda motor.

11. Cuaca Tak Bisa Ditebak

Iklim di pulau kecil seperti Batam sangatlah berbeda dengan pulau-pulau besar. Hujan panas bisa datang tiba-tiba tanpa diundang namun paling sering cuaca panas. Dan yang paling mengerikan adalah angin puting beliung yang dapat merobohkan pohon. Sudah dua kali pohon di depan kosan saya tumbang karena angin besar.

12. Elektronik Murah

Ketika saya pindah ke Batam banyak teman atau kerabat yang minta dicarikan barang elektronik murah, mulai dari ponsel , kamera, komputer sampai televisi.

Dan asli saya kebingungan karena untuk membeli asesories kamera  saya malah belanja online dari toko di luar kota Batam .

Jadi sebetulnya belanja barang elektronik di Batam nggak murah-murah amat dan variannya juga tidak terlalu banyak. Jikalah mau mumgkin bisa menyebrang ke Singapura yang kalau dihitung-hitung harganya sama saja bahkan bisa lebih mahal.

Tapi meskipun ada dukanya hidup harus dijalani dan manusia seharusnya mampu bertahan di kondisi seburuk apapun. Agar berimbang di tulisan bagian ke dua  Suka Duka Tinggal di Batam , saya akan membahas sukanya tinggal di Batam.

13 pemikiran pada “Suka Duka Tinggal di Batam – Bagian Pertama

  1. Bener banget mas, semenjak pengangguran meningkat, kriminalitas dimana2
    Saya suka kasihan sama yg blm dpt pekerjaan, kalau masih ad saudara di Batam masih aman, kalau nggak ad sama sekali, pasti berbagai cara dilakukan untuk mencari sesuap nasi

    Disukai oleh 1 orang

  2. Kalo aku memang lebih concern ke masalah keamanan mas. Sejak tinggal di Batam th 2006, kriminalitas memang meningkat.

    Dulu, iseng keliling Batam jam 2 pagi pun ngga waswas, padahal lewat Tanjung Riau, jalur mata kucing yang dulu belom ada lampu, trus Sei Ladi, aman-aman aja, ngga waswas.

    Sekarang mah boro-boro. Lampu terang benderang aja masih lirik-lirik takut kena begal kalo udah lewat dari jam 9 malam.

    Suka

  3. Batam = Baru Tiba Anda Menyesal, wkakaka.. Dulu aku juga hampir kepikiran mau tinggal di Batam mas, udah sempet nyari kerjaan juga eh belom jodoh jadinya belum pindah2 deh.. Malah balik Jakarta. Anyway bosku yg sekarang juga orang Batam, keturunan Chinese, suaminya resign dari perusahaan lama eh gataunya gak lama setelah itu perusahannnya diakuisisi trus banyak karyawannya yang di-PHK, termasuk dari divisinya suami bosku ini. Lumayan lah dia statusnya resign jadi bisa angkat dagu dikit. Ngeri juga ye

    Disukai oleh 1 orang

  4. Dulu, dulu sekali. Ketika masih jadi mahasiswa di Teknik Kelautan, Batam adalah pulau impian bagi kami. Lulusan dari jurusan kami banyak yang berlabuh kesana sebab disana ada shipyard, fabrikasi yang membutuhkan tenaga kami.

    Tapi sekarang banyak yang sudah meninggalkan Batam, karena lesunya industri oil and gas dan perkapalan. Termasuk adik sepupu saya.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s