Nepal Travelling

Flower in The Garden of Dreams

The Garden of Dreams , Kathmandu
The Garden of Dreams , Kathmandu

Peluh mengucur dari  kening  menuju  pipi. Bulir-bulirnya tambah deras setelah saya menggitari Vaisali, Thamel dan jalan Leknath Marg. Berkali-kali mencoba menyeka dengan sapu tangan. Namun tangan saya terlalu sibuk melindungi mulut dan hidung dari paparan debu. Tidak ada tempat nyaman untuk istirahat. Lalu lalang kendaraan berbaur bersama kesibukan kota Kathmandu. Naluri saya menuntun menuju tembok  bertuliskan Garden of Dreams dekat persimpangan Narayanhiti Path dan Kanti Path, Kathmandu.

Suara gemericik tiga air terjun kecil begitu menyejukan, kontras dengan suasana di luar sana. Di atasnya tertulis sepenggal puisi karya Omar Khayyam (1048-1131) yang diterjemahkan oleh Edward Fitzgerald. Kata-kata  terukir manis di lempeng kuningan berkilauan. Saya sempat bertanya dalam hati tempat apa ini. Hati saya tergetar membacanya.

Ah, moon of my delight, who know’st no wane,
The moon of Heaven rising once again:
How oft here after rising shall she look

Through this same Garden after men – in vain!
from the Rubaiyat of Omar Khayyan

Memasuki taman seluas 6895 meter persegi pengunjung disuguhkan  bangunan paviliun , teater outdoor dan patung-patung bergaya neo klasik. Kolam besar bunga teratai dengan air mancur   dikelilingi jalan setapak dan bunga subtropis warna-warni. Pepohonan di pinggir taman membuat taman terasa sejuk. Sesekali terlihat burung gagak hinggap di atasnya. Kalau di Indonesia melihat burung gagak sebanyak ini mungkin taman ini menjadi horor. Tapi berhubung di Nepal , biasa saja.

Taman yang dibangun oleh Kaisar Sumssher Ranadi awal tahun 1920an terinspirasi gaya Edwardian – Raja  Edward VII Belanda.  Memiliki enam  paviliun yang mewikili masing-masing musim di Nepal. Desainnya dipercayakan kepada arsitek bernama Kishore Narshingh, juga membangun Istana Singa atau Singha Durbar tahun 1904 pada masa dinasti Rana. Singha Durbar diklaim sebagai istana terbesar dan termewah di Asia sampai tahun 1973.

Setelah kematian Kaiser Sumsher taman diserahkan kepada pemerintah Nepal dan  terabaikan beberapa dekade. Tahun 2000-2007 dilakukan pemugaran dengan dukungan pemerintah Austria bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan Nepal. Proyeknya dilakukan oleh Eco Himal  menjadi percontohan pembangunan situs bersejarah lainnya.

Jaman dahulu taman ini diperuntukan bagi kaum bangsawan. Tapi  sekarang terbuka untuk umum. Pengunjung dikenakan biaya masuk 200 Rs atau 20 ribu rupiah. Ada potongan harga bagi pengunjung kolektif dan sistem keanggotaan. Di dalam taman terdapat Kafe Kaisar berstandar internasional dan dikelola oleh management hotel Dwarika yang terkenal. Bagi anda yang berkocek tipis jangan khawatir, pengunjung diperbolehkan membawa makanan dan minuman ke dalam taman.

Hari ini Garden of Dreams cukup ramai, bertepatan dengan liburan anak sekolah. Wisatawan mancangera – bule – asik duduk di atas rumput untuk menetralisir kota Kathmandu yang makin panas. Saya  memilih duduk di taman kecil dekat air mancur sambil menikmati makan siang. Mengobrol dengan wisatawan manula asal Inggris dan Amerika. Hampir setiap siang wanita-wanita ini menghabiskan waktu di taman. Melewati makan siang atau sekedar membaca buku. Seandainya saya di Kathmandu sebulan atau dua bulan pasti akan melakukan hal yang sama.

Kaki saya kembali melangkah menyusuri jalan kecil di sisi kolam. Mengamati teratai merah jambu. Sekelebat sebuah keindahan mengundang perhatian. Naluri lelaki saya berkata, dia ada di sana lihatlah. Sebuah bunga membuat langkah terhenti sekaligus tergugup. Bunga yang menebarkan senyum terindah. Seorang gadis berbaju biru duduk di tepi kolam. Sekali lagi kegugupan membuat saya tak mampu berkata-kata. Berharap akan bertemu dirinya di dalam mimpi. Flower in The Garden of Dreams.

Note: Garden of Dreams sangat dekat dari kawasan turis Thamel , bisa dijangkau dengan jalan kaki atau naik becak seharga 150 Rs . Jika dari Durbar Mar sangat dekat , berjalan saja  menuju  Musemum Nasional Narayanhiti  dan Garden of Dreams satu blok di sebelah timur Museum Nasional Narayanhiti.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

8 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.