Impian Film dan Persahabatan

film (sumber:http://unik.inibaru.com)
film

Berawal dari ide cerita setengah halaman polio berjudul PIP. Kami bertiga – saya, Era Hani Medisa, Hendra Sinata – mahasiswa tahun ke enam Jurusan Teknik Elektro terjebak proses kreativitas tanpa batas di dunia yang tidak seharusnya. Meninggalkan sejenak deretan angka – angka  fisika listrik serta keluar dari rutinitas “tugas akhir”. Pelarian? Tidak juga, tapi ini impian menjadi yang kenyataan. Bisa juga godaan jelang  meraih gelar sarjana teknik.

Ajang Close Up Planet Movie Competition 2004 menobatkan PIP menjadi 10 finalis ide cerita. Suprising. Satu-satunya finalis dari luar pulau Jawa yang didominasi mahasiswa jurusan komunikasi dan seni . Tiap finalis diberikan workshop   pembuatan film , mulai dari pra sampai produksi. Selanjutnya  finalis mendapat seorang mentor, sutradara terkenal yang akan membimbing langsung. Semua biaya produksi tentu saja ditanggung oleh pihak sponsor, produsen pasta gigi bersegmentasi pasar remaja.

PIP , plesetan Very Important People (VIP). Menggoda Nia Dinata, sutradara film Arisan mendampingi proses produksi kami. Sutradara muda ini mengatakan , idenya cukup unik dan sangat Indonesia. PIP berkisah tentang keberadaan WC Umum di kawasan urban. Impian ibu-ibu penggemar sinetron Indonesia, penggila kemewahan di layar televisi. Idenya hanya setengah halaman polio saja, dituturkan dalam bahasa sederhana. Tapi kental dengan kritik sosial sesuai dengan kondisi tahun 2000-an. Dimana sinetron Indonesia menjual kemewahan yang nyaris tidak bisa diterima akal tapi cukup digemari.

Sepulang workshop di Jakarta. Proses pra-produksi dimulai. Era sang produser mengurus segala sesuatu berhubungan dengan perlengkapan teknis produksi termasuk bugeting. Mencari peralatan syuting , seperti : kamera, lampu dan mic boom sampai mengatur jadwal dan konsumsi. Sedangkan saya dan Hendra mulai mensurvei lokasi dan mencari pemain yang tepat untuk film pendek. Sembari mengembangkan ide cerita menjadi skenario kami berdua bergerilya ke kampus-kampus melakukan proses casting. Awalnya kami ingin menggandeng rekan Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Universitas. Tapi tidak ada yang percaya dengan proyek ini. Respon yang tidak jauh berbeda juga kami terima ketika meminta bantuan Dewan Kesenian Daerah. Alasan mereka cukup masuk akal. Apa mungkin anak teknik membuat film?

Ide cerita mengusung perkampungan kumuh di pinggir kota membutuhkan banyak cameo wanita. Tidak mudah mencarinya di kampus teknik. Beruntung tahun ini kampus membuka Program Studi Teknik Kimia, didominasi kaum hawa. Satu masalah selesai. Tokoh sentra, Bu RT wanita muda bertubuh super tambun akhirnya bisa ditemukan.  Kru film melibatkan beberapa orang junior dan rekan satu angkatan .

Hari H pun tiba. Syuting pertama dilakukan indoor, berlokasi di kamar mandi hotel yang hampir  tutup karena bangkrut.  Proses syuting dimulai pagi hari  dan  selesai esok pagi tanpa jeda. Hingga semua kru dan pemain lelah tertidur di lokasi. Kendala teknis membuat jadwal syuting ngaret lebih dari 10 jam. Pengambilan gambar harus diulang dari awal karena terjadi kesalahan pencahayaan dan posisi lampu. Menjelang pengambilan gambar adegan terakhir sang sutradara, Hendra sadar bahwa semua gambar berwarna kemerahan. Untung kru dan pemain  bisa menerima dengan legowo – besar hati – semua ini bagian proses belajar.

Pengambilan gambar hari kedua tidak terlalu ada kendala karena dilakukan di luar ruangan. Mengambil gambar dengan pencahayaan alami – matahari – ternyata lebih mudah. Untung ada jeda sehari antara jadwal syuting , semua pemain dan kru kembali bersemangat. Lokasi syuting di perkampungan mahasiswa – Kampung Baru – mengundang beberapa penonton. Awalnya sulit menertibkan penonton anak-anak yang terlalu banyak ingin tahu dan berlarian di lokasi. Namun  sang sutradara kreatif, para penonton diajak menjadi pemeran pembantu untuk adegan pembukaan WC Umum.

Lega rasanya bisa melewatkan dua proses produksi. Tinggal satu lagi, paska produksi. Sebetulnya tidak ada kendala yang terlalu berarti. Tahap ini tidak melibatkan banyak orang, namun membutuhkan banyak waktu dan energi. Hendra bersama Ronald sang editor harus begadang semalaman meramu adegan , musik dan suara menjadi komposisi yang pas.

Panitia menetapkan durasi film tidak boleh lebih dari 15 menit. Rasanya akan terlalu banyak adegan yang dibuang. Kembali pra produksi diurai , memotong kembali adegan-adegan. Ada adegan yang hilang membuat cerita tidak utuh. Perdebatan kecil terjadi antara saya penulis naskah dan Hendra sang sutradara. Era pun kadang ikut ambil bagian, tidak rela rasanya adegan dengan properti mahal dan butuh perjuangan membawanya ke lokasi tiba-tiba hilang. Ketegangan semakin memuncak tak kala sebuah ujian mental datang di saat tidak tepat. Sura Cinta – Pra Drop Out – dari Dekan menyambangi kami bertiga dan kru seangkatan. Sebuah sentilan telak menyadarkan bahwa harus kembali ke kampus. Konflik batin pun membuncah menjadi pertengkaran hebat tiga sahabat . Deadline pengiriman film sudah di depan mata. Waktu tenggang tugas akhir juga tidak bisa ditoleransi. Membuat kami panik dan tidak bisa mengontrol diri. Emosi dan air mata akhirnya tumpah mewaranai proses paska produksi.

Diam memang tidak menyelesaikan masalah tapi menenangkan hati. Setelah tiga hari kami berusaha menyelesaikan pribadi , menjawab interogasi orangtua tentang  tugas akhir.  Kembali menyelesaikan impian besar yang tinggal selangkah lagi. Film berformat Betacam SP akhirnya sampai di meja panitia tepat waktu.

Acara nonton bareng meluruhkan rasa “sakit” di antara kami bertiga. Tidak percaya rasanya film diputar di TV 7 dan ditonton orang se-Indonesia. Tawapun makin berderai menyaksikan beberapa rekan berakting di layar kaca, mirip bintang sinetron. Sepuluh finalis kembali diundang ke Jakarta untuk menghadiri malam anugrah penghargaan bergaya festival film. Beberapa artis kenamaan menghadiri ajang ini, mimpi rasanya bisa duduk bersama artis ibukota. Meskipun beberapa rekan tertahan di luar studio karena memakai sendal jepit dan kaos oblong, mereka tetap bahagia bisa berpapasan langsung dengan artis.`

Satu persatu penghargaan dari berbagai kategori dibacakan. Bukannya pesimis, tapi melihat pesaing dengan latarbelakang pendidikan sinematografi dan seni akan sulit bagi kami untuk menang. Namun tiba-tiba aktor kawakan Alex Komang menuju panggung, dengan lantang dia mengatakan akan ada sebuah penghargaan khusus diajang ini. Terinspirasi dari sebuah ide cerita yang  membumi dan sangat Indonesia. Penghargaan Best Original Script jatuh kepada film PIP.  Apakah ini mimpi. Kembali saya bertanya kepada Era dan Hendra. Mereka menggeleng sambil tersenyum lebar. Sebuah piala kami genggam bertiga, ini bukan sekedar simbol kemenangan. Tapi juga simbol persahabatan sejati setelah melewati ujian panjang.

Delapan tahun telah berlalu.Kami bertiga bisa meraih gelar sarjana teknik dan memilih jalan hidup masing-masing. Era dan Hendra menjadi PNS sedangkan saya memilih bekerja di Perusahaan Swasta dan menjalani hobi travelling. Tidak ada yang menjadi sineas. Pengalaman membuat film indie mengajarkan banyak hal tentang kerja keras mewujudkan impian.  Jangan pernah takut untuk bermimpi. Terkadang mimpi datang menjadi kenyataan disaat yang tidak tepat. Namun tetap fokus karena kesempatan tidak pernah menghampiri dua kali.

(Artikel pilihan Freez Kompasiana dan terbit  di harian kompas tanggal 7 November 2012)

4 pemikiran pada “Impian Film dan Persahabatan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s