Sumatra Utara Travelling

Horas Medan 2012 (part 12): Istana Maimoon

Istana Maimoon - Masterpiece Kejayaan Kesultanan Melayu-Deli
Istana Maimoon

Saya, Lilia dan Al dari menyusuri Jalan Sisingamangaraja menuju pertigaan Jalan Brigjen Katamso. Menuju bangunan  kuning kontras di atas lapangan rumput hijau. Istana Maimoon salah satu landmark kota Medan, peninggalan Kesulatanan Melayu-Deli. Jaraknya  100 meter dari Masjid Raya atau Kolam Raya Sri Deli. Tiga buah kubah besar gaya Persia Curve pengaruh Timur Tengah.

Berjalan menyusuri Kompleks istana  seluas 4 hektar. Dekat pintu gerbang sebelah kanan istana terpakir kereta kuda dominan warna hijau kuning. Hiasan warna emas di bagian atas memberi kesan mewah. Teringat informasi rekan BPM medan. Kemaren ada acara kesenian di sini, panggung di sebelah kiri istana masih berdiri tegak. Akhir-akhir Kesultanan Melayu-Deli aktif melakukan pentas budaya.  Generari muda keturunan Sultan ingin melestarikan peninggalan leluhur dan  mengembalikan kejayaan tempo dulu.

Bangunan limas  terbalik beratap trapesium mengundang perhatian kami. Kisi-kisi kuning dan tiang menutupi bagian dalamnya. Tempat potongan meriam “puntung” besemayam. Sebuah dongeng menceritakan meriam ini merupakan penjelmaan dari adik Putri Hijau yang waktu itu menjelma jadi meriam karena Kerajaan Deli diserang oleh Kerajaan Aceh akibat pinangan terhadap Puteri Hijau ditolak. Dikisahkan meriam tersebut menembak dengan terus menerus, meriam itu pun akhirnya patah jadi dua (puntung) dan konon katanya juga potongan dari meriam itu terlempar sampe ke daerah tanah tinggi karo (yang jaraknya kurang lebih 70-an km dari tempat istana maimoon ini berada).

Memasuki istana lengkungan (arcade) pengaruh Islam menyambut, berikutnya 28 anak tangga marmer diimpor langsung dari Italia. Memasuki ruangan dua buah plakat marmer pada pilar mengingatkan tanggal diresmikan bangunan ini, 26 Agustus 1888. Masing-masing menggunakan aksara berbeda, Arab disebelah kiri dan kanan aksar latin bahasa Belanda. Tiga ruang utama dinaungi bangunan berbentuk limas dan kubah besar. Ruang induk (balaiurang) seluas 412 meter persegi diapit dua ruang sayap. Singgasana kuning menyala menjadi pusat perhatian balaiurang berhiaskan kristal dari Eropa. Merupakan ruang protokoler Sultan menjamu tamunya. Dindingnya dipenuhi foto sultan-sultan Deli beserta permaisuri.

Selain singgasana, ruangan yang berhias ornamen dengan warna-warni yang indah ini juga terdapat beberapa benda peninggalan Kesultanan Deli, seperti sejumlah keris, pedang, payung kerajaan, tombak, lima buah gebuk (tempat air untuk membasuh tangan dan kaki sultan), dan tepak sirih. Semua benda tersebut masih terawat cukup baik. Dari ruangan ini, dapat disaksikan ukir-ukiran Melayu, seperti motif pucuk rebung pada pinggiran atas lesplank.

Setelah bersalin dengan baju Teluk Belanga . Saya keluar menuju balkon dari pintu besar berdaun gaya Spanyol. Menyusuri balkon dan berdiri di sisi tiang . Bagai seorang Sultan memandang keluar istana. Mengagumi istana yang dibangun oleh arsitek Belanda Kapten Th. van Erp . Istana ini begitu kokoh ditopang 82 tiang batu berbentuk segi delapan dan 43 tiang kayu dengan lengkungan-lengkungan yang berbentuk lunas perahu terbalik dan ladam kuda.

Kehadiran istana yang berjaya pada masa kekuasaan Sultan Makmun al-Rashid Perkasa Alam (1873-1924). Mengingatkan pada Mansion Tjong A Fie dibangun di waktu berdekatan . Membuktikan bahwa alkutrasi budaya memangbterjadi dan memberikan pengaruh bagi gaya  arsitektur. Seni merupakan bahasa universal dapat berkomunikasi dan bersatu dengan beragam budaya menghadirkan masterpiece.

Kereta Kencana Kesultanan Melayu-Deli
Kereta Kencana Kesultanan Melayu-Deli
Kubah Istana Gaya Persia Curve
Kubah Istana Gaya Persia Curve
interior balaiurang - keindahan lukisan langit-langit
interior balaiurang – keindahan lukisan langit-langit
lantai marmer di pesan khusus dari Italia
lantai marmer di pesan khusus dari Italia
lampu kristal - unsur Eropa mewarnai interior Istana
lampu kristal – unsur Eropa mewarnai interior Istana
penulis narsis - mengenakan baju khas Melayu
penulis narsis – mengenakan baju khas Melayu
Istana Maimoon dikunjungi pelancong
Istana Maimoon dikunjungi pelancong

Horas Medan 2012 (part 1): First Food , First Step
Horas Medan 2012 (part 2): Stop di Tip Top
Horas Medan 2012 (part 3): Bertandang ke Rumah Tjong A Fie
Horas Medan 2012 (part 4): Petang di Masjid Raya
Horas Medan 2012 (part 5): Pan Cake Durian Plus
Horas Medan 2012 (part 6): Merapat di Perapat
Horas Medan 2012 (part 7): Air Terjun Situmurun
Horas Medan 2012 (part 8): Menuju Taman Eden 100
Horas Medan 2012 (part 9): Kebersamaan Backpacker
Horas Medan 2012 (part 10): Air Terjun Penutup
Horas Medan 2012 (part 11): Pelajaran Pagi Hari
Horas Medan 2012 (part 12): Istana Maimoon
Horas Medan 2012 (part 13): Harmoni Religi,Alam dan Kuliner

6 komentar

  1. Bangunan tempat potongan meriam “puntung” besemayam di Istana Maimoon menggunakan bentuk rumah khas Karo. Sementara, di Karo, potongannya ada di dalam bangunan berbentuk rumah khas Melayu,

    *talking about harmonization in culture ya..

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.