Hati Versus Logika

Logika Versus Hati
Logika Versus Hati

Mahluk berkromosom XY  lebih dominan menggunakan logika daripada hati,  terkadang tanpa toleransi. Sejenak kupandang lelaki di ujung meja makan . Otakku berputar mempersiapkan pembelaan atas paparannya tadi malam yang mencedrai  hakku sebagai manusia dan perempuan.
“Mas aku ingin melanjutkan obrolan kita tadi malam.” Nada suaraku melembut sambil meletakan secangkir teh manis hangat di depannya . Permulaan baik sorakku dalam hati untuk sebuah perang argumen di pagi hari.  Wanita selalu memiliki cara  indah  menalukan lelaki.

 
“Oke 15 menit.” Wajahnya menyembul sejenak dari balik surat kabar menyeruput teh manis, lalu melirik arloji. Matanya menatapku dalam , tersenyum datar.

 
Dengan tegas kutolak keinginan mas Beno – suamiku – untuk berhenti bekerja. Alasan Mas Beno cukup sederhana, tidak efisien dan pemborosan. Gaji tenaga honor Pegawai Negero Sipil tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan setiap bulan.

 
“Tujuan bekerja  bukan hanya finansial tapi kesempatan untuk berkembang dan mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun. Dan dampak secara ekomomis memerlukan proses  panjang dan pengorbanan, termasuk materi” , ujarku berbicara mantap tanpa jeda.

 
Secarik kertas aku keluarkan dari dalam tas. Mengajak mas Beno berpikir logis. Menghitung keuntungan yang akan didapat jika tahun depan aku diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil dengan sedikit pengorbanan, uang pelicin. Dalam waktu sekian tahun akan mencapai titik “Break Event point”. Serta gambaran peluang lain yang mungkin bisa memberikan kontribusi bagi keuangan keluarga. Sekali lagi kulirik mas Beno matanya tak bergeming memandangku sambil tersenyum. Aku mencoba fokus dan serius.

 
“Saatnya berangkat kerja. Akan aku pelajari dulu.”   Mas Beno Bangkit dari kursi  lalu menarik kertas ditanganku berlahan. Sebuah ciuman lembut di kening menahanku untuk protes. Tapi aku yakin pembelaan kali ini tepat menyentuh garis logikanya yang terlalu keras.

***

Kemenangan sudah di depan mata. Sejak pulang kantor Mas Beno sama sekali tidak membahas masalah tadi malam. Malah asyik bermain dengan Amira , putri tunggal kami. Hingga buah cinta kami tertidur lelap. Aku bisa bernapas lega

“Gimana mas?” Kalimat pembuka memastikan bahwa semua baik-baik saja. Masalah sudah selesai dan semua pihak puas.
Tapi laki-laki ini tetap dengan gaya sok misterius, diam seribu bahasa. Enam tahun yang lalu gaya ini terlihat sangat keren. Membuatku bertekuk lutut dalam cintanya tanpa rayuan secuilpun. Tapi sekarang , tidak sama sekali.

“Mas?” Nada bicaraku meninggi. Mas Beno pergi meninggalkanku, masuk ke kamar. Sejenak keluar membawa amplop berwarna putih. Tak banyak bicara kuraih amplop lalu kubuka. Jujur, deretan angka-angka ini membuat pusing. Tapi aku tahu pasti ini apa?

“Ini tagihan kartu kredit bulan lalu. Sepertinya tidak banyak untuk keperluan rumah tangga.” Kalimat terpanjang Mas Beno  meluncur lugas lalu dengan telak menamparku. Menyadarkanku bahwa terlalu banyak yang harus dikorbankan demi sebuah status, wanita karir. Pendapatanku tidak sebanding dengan biaya operasional tiap bulan. Terutama pengeluaran  penampilan dan biaya “bergaul, ” Mengikuti beragam jenis arisan dan klub keanggotaan  demi eksitensi diri.  Aku terdiam, dalam rasa bersalah dan harga diri tertinggi. Rasanya tak dapat kubendung luapan emosi. Meretas dari ujung mata menjadi butiran hangat, meluncur deras. Aku menangis.

“Haruskah begini mas? Mas mulai keberatan memikul tanggung jawab ekonomi keluarga?” Tangisku meledak menahan rasa malu. Mempertanyakan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Sebuah jurus terakhir yang mampu aku kerahkan. Kubangkitkan kenangan perjuangan kami membangun biduk rumah tangga bersama. Berharap hati Mas Beno luluh mengalahkan logikanya. Tapi pertarungan hati versus logika ini terhenti, takala Amira terbangun dan menangis.

***

Dingin. Kutuangkan teh manis ke dalam cangkir tanpa kehangatan, apalagi kata-kata. Mataku masih sembab setelah nangis semalaman. Tapi inilah cara terbaik meluapkan emosi . Sekam di dada masih membara, apalagi melihat wajah datar Mas Beno.

“Rin kamu masih marah. Maafkan ya.” Suara Mas Beno terdengar begitu tulus. Wajanya mengendur, tak ada lagi senyum keangkuhan. Tiba-tiba lelaki ini menjadi banyak bicara. Dengan seksama dia menjelaskan rencana pendidikan Amira. Niat baik Mas Beno memberikan pendidikan terbaik bagi putri kami, sedikit meredakan emosi. Mas Beno mengingikan pos tabungan pendidikan. Dengan neraca keuangan sekarang hal itu sulit terwujud. Satu-satunya jalan harus memangkas pos yang lain. Ya intinya, efisiensi dengan memangkas aktivitas yang membutuhkan cost.

“Tak ada pilihan lain?” Kritis menanggapi penjelasan Mas Beno.

“Ada. Jika bisa membuat neraca keuangan surplus.Tapi saya tidak tahu caranya. Ada Ide?” Matanya melirik mesra penuh  arti. Aku mencoba memutar akal, tapi selalu mentok. Meskipun titelku Sarjana Ekonomi tapi masalah keuangan selalu bergantung dengan suami.  Kendali  kartu kredit agar tidak over limit ada di tangannya. Naluri belanja perempuan selalu mengalahkan logika.

“Oke. Saya menyerah. Siap berhenti bekerja tapi dengan satu syarat, ” ujarku pasrah. Mas Beno tersenyum sejenak lalu melotot menanggapi kalimat terakhir.

“Jadikan saya manager keungan rumah tangga. Jadi kalo ada surplus bisa langsung buat belanja,” celotehku penuh canda.

“Hmm. Maaf ya . Penggunaan kelebihan uang rumah tangga harus seijin pemegang saham.” Mas Beno kembali mencibir dengan senyum angkuhnya.

“Ya sudah jadikan saya istri pemegang saham saja,” ujarku asal. Menanggapi senyum angkuhnya.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Rina binti Sasmita dengan mas kawin tagihan kartu kredit dibayar hutang.” Tangan  Mas Beno menyalami saya dengan kuat. Derai tawa mengakhiri prosesi ijab kabul istri pemegang saham. Sekaligus mengukuhkan hilangnya satu profesi saya, wanita karir. Tapi untung saya masih punya profesi lain. Ibu Rumah Tangga.

-Tamat-

6 pemikiran pada “Hati Versus Logika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s