Nusa Tenggara Timur Travelling

Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando

Jeremias - sang maestro sasando
sasando tiga batang – memiliki 45 sampai 57 senar

Sekitar satu jam perjalanan , teka-teki tujuan terakhir terjawab. Malam ini kami mengunjungi Maestro Sasando Indonesia, Jeremias Ougust Pah (74). Rumahnya di Jalan Timor Raya Kilometer 22 Desa Oebelo, Kabupaten Kupang Tengah.

Pria asal Rote menyambut ramah ketika kami menjejakan diri di ruang tamu rumahnya. Wajahnya makin sumringah ketika El memberikan harian nasional (Kompas, 31 Agustus 2012) memuat berita putranya Bertho Pah, sukses berkolaborasi dengan orkestra membawakan lagu perjuangan. Matanya berbinar lalu berujar rasanya tak sia-sia usahanya meninggalkan kampung halaman Rote tahun 1985 memperkenalkan Sasando. Dengan bangga beliau bercerita akan tampil di Labuan Bajo tanggal 4 September 2012 dengan sasando tiga batang dan 57 tali. Beberapa lagu sudah dipersiapkan dengan bait yang diubah sesuai konsep acara. Lagu-lagu akan menceritakan 4 babak cerita: kekayaan alam nusantara, masa penjajahan , perjuangan dan ditutup dengan kemenangan serta kemakmuran.

Kembali pria ini mengurai rasa bangganya bisa melestarikan alat musik tradisional yang hampir punah. Apalagi dua anak lelaki, Djitron dan Bertho mampu memperkenalkan sasando dengan sentuhan moderen. Pada tahun 1996 bersama Djitron, Jeremias mengembangkan sasando elektrik. Pada bagian pangkal sasando disambungkan kabel listrik ke sound system atau pengeras suara. Maka, nada-nada yang dikeluarkan sasando pun dapat diperdengarkan sampai jarak lebih jauh dari sekadar 10 meter. Sedangkan Bertho Pah mampu membawakan lagu-lagu pop populer dengan menggunakan sasando di ajang Indonesia Mencar Bakat. Sehingga sasando bisa bersanding dengan alat musik moderen dan makin dikenal masyarakat.

Melihat bentuk fisik sasando sangat sederhana, terbuat dari bilah bambu dan daun lontar sebagai wadah resonansi. Awalnya alat musik ini hanya memiliki 5 tali. Lalu berkembang menjadi 15 hingga 57 tali, untuk melengkapi nada-nadanya. Modifikasi juga terjadi pada lontar resonansi. Agar tidak mudah rusak bahan daun lontar dibuat permanen melengkung seperti kayu. Namun bentuk ini tidak praktis jika dibawa. Akhirnya Pak Jeremias mendesain lontar resonansi dapat dilipat seperti kipas.

Pak Jeremias tiba-tiba masuk ke kamar ketika kami meminta untuk memainkan sasando. Muncul dengan topi ti’ilangga dan tenun ikat khas Rote hasil kerajinan tangan Dorce Pah Ndoen, istrinya. Tangannya lincah memetik dawai sasando di atas bilah bambu, sejenak terdengar nada merdu mengalun bening. Sebait lagu dinyanyikan seirama dengan denting sasando. Kami terpukau melihat daun lontar bisa mengalunkan nada indah.

Usai berdendang Pak Jeremias kembali bercerita , momen membahagiakan dalam hidupnya adalah ketika diundang ke Yokohama, Jepang . Sang istri pun didaulat untuk memperlihatkan kemampuannya membuat tenun ikat. Sambutan masyarakat Yokohama yang luar biasa, membuat pria tamatan sekolah rakyat terharu meneteskan air mata.

Hingga sekarang banyak wisatawan mancanegara bertandang ke rumahnya untuk belajar memainkan sasando. Kamipun bertanya kira-kira berapa lama untuk bisa memainkan sasando. Satu minggu cukup untuk belajar memainkan sebuah lagu sederhana ujarnya lugas.

Jika besok pagi tidak ada rencana ke Dili, mungkin malam ini kami akan bermalam di rumah Pak Jeremias. Semakin malam obrolan semakin seru, Pak Jeremias menunjukan beragam jenis sasando sambil menyanyikan beberapa bait lagu.

Terimakasih Pak Jeremias atas waktu dan inspirasinya mencintai budaya Indonesia. Selamat Malam. Suatu saat kami akan kembali untuk berdendang sambil memetik sasando.

metarmofosis - lontar resonansi sasando mengalami beberapa perubahan
metarmofosis – lontar resonansi sasando mengalami beberapa perubahan
penghargaan - piala dan piagam milik keluarga Jeremias
penghargaan – piala dan piagam milik keluarga Jeremias
pakaian kebesaran - ti'ilangga dan tenun ikat Rote
pakaian kebesaran – ti’ilangga dan tenun ikat Rote
Jeremias - Sang Maestro Sasando
Jeremias – Sang Maestro Sasando

(Tulisan ini memenangkan lomba blog Mahakarya Dji Sam Soe 2012)

 

RELATED STORIES

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

6 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.