Nusa Tenggara Timur Timor Leste Travelling

Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam

dipisahkan - jembatan antara wilayah Indonesia dan Timor Leste
dipisahkan – jembatan antara wilayah Indonesia dan Timor Leste

Kegaduhan kamar Evi dan Rosi membangunkan saya . Jam 5 pagi, rasanya tidur malam ini belum puas. Setelah dinihari berkeliling mencari tempat cuci cetak foto digital. Panik rasanya ketika tahu syarat VOA di perbatasan harus menggunakan pas foto. Dengan kertas seadanya akhirnya pas foto dadakan siap.

Terhuyung-huyung begerak duduk di teras hotel. Segelas teh hangat dan roti selai nanas dihidangkan petugas hotel. Tak berapa lama sebuah minibus bertuliskan “Timor Travel” menjemput kami. Inilah kendaraan yang akan mengantar kami menuju “kampung baru” Diva Indonesia , KD.

Agusto sang driver menyapa selamat pagi dengan dialek khas timur. Dalam perjalanan Agusto menjelaskan, sampai diperbatasan mobil akan berhenti dan penumpang berjalan kaki menyebrang jembatan. Kira-kira 100 meter dari perbatasan mobil dari Dili akan menjemput. Dan ingat nama supir yang di sana Agustinus. Jadi akan dihantar dan di jemput oleh duo Agus, candanya terkekeh.

Mobil singgah sejenak di pool , menyelesaikan administrasi pembayaran tiket, seharga 185 ribu rupiah. Minibus memiliki tiga larik kursi, masing-masing dimuati oleh tiga orang. Celah blower pendingin udara di langit-langit ternyata hanya hiasan. Mari menikmati keindahan alam dan suha udara antara Kupang dan Dili.
Selama perjalanan Rosi dan Evi protes , semalam tidak diajak ke rumah Pak Jeremias, apalagi mobil kami tumpangi melintas di depannya. Untuk menetralisir suasana hati keduanya, El pun mengusulkan membeli kue khas Kupang, perut ayam. Sesampai di daerah Bau-Bau mobil berhenti di depan kios kecil. Pilihan kami jatuh pada kue serabi dan perut ayam. Kue perut ayam berasal dari tepung terigu yang diberi soda kue dan santan. Kemudian adonan digoreng secara berjonjot sehingga membentuk jerohan ayam. Rasanya sekilas mirip kulit pisang goreng namun lebih tebal dan gurih.

Sekitar pukul 10:00 WITA sampai di kota kecil Soe. Yang unik dari kota ini , ketika mobil berhenti beberapa wanita berkebaya dengan logat jawa medok datang menawarkan jamu. Atribut dan dagangannya lengkap mulai dari bakul gendong sampai botol wadah jamu. Nusantara memang unik, dari Sabang sampai Merauke pasti ada keragaman dan alkuturasi budaya.

Sepanjang perjalanan penumpang lebih suka tidur ketimbang menikmati pemandangan. Tidur merupakan cara paling efektif mensugesti agar tidak mabuk kendaraan. Kondisi jalan berliku ekstrim menyusuri perbukitan cukup mengguncang lambung. Bocah di samping kiri saya terkulai lemas sambil memegang kantong asoy. Tak ada tenaga lagi, tapi sekali lagi satu belokan memaksanya muntah. Di belakang kursi Evi dan Rosi pura-pura tidur, tidak kuat melihatnya.

Pukul 02:00 WITA sampai di Atambua, kota kecil sebelum memasuki perbatasan Indonesia Dili. Penumpang disarankan mempersiapkan paspor dan uang dollar. Pilihannya bisa melalui money changer atau calo di pinggir jalan. Jangan heran jika uang dollarnya tidak semulus money changer Indonesia.

Sampai diperbatasan penumpang diwajibkan turun mengisi dokumen imigrasi dan wawancara. Para calo berdatangan, menawarkan jasa menulis dokumen dengan tarif 5 ribu rupiah. Setelah itu penumpang berjalan melewati jembatan perbatasan di tepi pantai dengan membawa barang bawaan masing-masing. Sesampai di Timor Leste wajib membayar VOA sebesar 30 dollar. Proses ini membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

Agustinus sudah menjemput kami di ujung jalan. Mobil digas kuat-kuat seolah tidak sabar menanti kami yang sedang asik berfoto di perbatasan. Mungkin bagi penduduk setempat melewati perbatasan hal yang biasa. Tapi bagi kami “turis mancanagera” momen ini cukup langka dan wajib diabadikan. *Catet ya, kalau di sini kita bukan turis lokal :D.

Satu jam pertama perjalanan di bumi Leste tidak terlalu menarik. Deretan pohon meranggas dan tanah kering begitu suram serta seragam. Debu di jalan semakin tebal menyesakan dada dan mengaburkan pandangan. Tapi setelah mobil kami menyisir bukit dipinggir pantai. Pemandangan Laut Savu terasa begitu eksotis menepi di daratan dengan pasir putih. Semuanya semakin dramatis tak kala senja di ujung cakrawala. Surya memendarkan warna jingga di angkasa, terbingkai ilalang kering di tepi pantai. Timor Leste sunguh cantik, tapi berlahan kami harus menyimpan kata itu tak kala malam datang menjemput.

Pukul menunjukan waktu 07:00 WIT, sekali lagi saya memutar jam , menjadi dua jam lebih awal waktu Jakarta. Saya bersama Rosi dan Evi duduk di depan pool travel di kota Dili. El di dalam kantor mengurus tiket kepulangan lusa. Tidak berselang lama kami di antar menuju kesusteran St Elisabeth di Taiibesi untuk bermalam. Ternyata kehadiran kami telah dinanti oleh suster Yovita dan Yolita.

Ah lega rasanya bisa istirahat setelah 12 jam perjalanan. Rasanya begitu jauh perjalanan ini. Tapi semua hanya rasa, jika Dili masih menjadi bagian nusantara. Dari Sabang sampai Merauke tidak akan “sejauh” ini.

administrasi - tempat membeli tiket Dili Travel di Kupang
administrasi – tempat membeli tiket Dili Travel di Kupang
panganan kecil- kue perut ayam khas Kupang
panganan kecil- kue perut ayam khas Kupang
gapura - Selamat Jalan di perbatasan
gapura – Selamat Jalan di perbatasan
dokumen - mengisi VOA
dokumen – mengisi VOA
antri-membayar VOA dengan mata uang dollar
antri-membayar VOA dengan mata uang dollar
kuning - bukit gersang sepanjang jalan
kuning – bukit gersang sepanjang jalan
indah-pemandngan laut Savu di utara
indah-pemandngan laut Savu di utara
jingga -senja menya kampi di Dili
jingga -senja menya kampi di Dili

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

34 komentar

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.