
“Apakah kita akan menuruni bukit dengan jalanan curam berbatu lagi?”
“Oh… sudah pasti. Tadi kita kan mandi di sungai yang terletak di atas bukit. Sekarang waktunya turun ….”


Jreng-jreng. Ternyata turunannya lebih dasyat dari menuju Teluk Kiluan. Jalannya lebih berkelok dan tanahnya lebih licin. Di tambah lagi pemandangan dari atas bukit terlalu indah untuk dilewatkan. Konsentrasi sayapun terbagi dan tiba-tiba. Kedubrakkk!!!! Jatuh dengan sukses. Jatohnya tidak terlalu parah karena masih terkontrol. Yang bikin fatal betis saya dengan sukses menempel di mesin depan yang panas. Dan sekejap kulit kaki saya hilang. Yang tinggal hanya daging berawarna kemerahan. Pedih rasanya? Engga cuma agak aneh aja kok bisa gitu? Setelah di cuci dengan air bersih dan diolesi dengan Betadine perjalanan dilanjutkan.

Lama-lama berasa pedih juga nih kaki, campur linu sampe ke tulang. Bungkus dengan kaos biar ga terlalu terpapar lukanya karena perjalanan masih cukup jauh. Akhirnya sampai juga di sebuah persimpangan semak belukar. Setelah bergulat dengan sejengkal tanah becek dan sampai di pantai berbatu “Megah”.

Walaupun pemandangan pantai indah kita ga bisa langsung foto-foto. Sampai di sana kita disambut hujan dan angin. Perjalanan semakin berwarna , wah kayaknya kalo ujan sampe sore bisa minep di sini malem ini. Tapi sudahlah, nikmati saja perjalanannya.

Dari kejauhan terlihat gugusan batu keluar dari lautan, bentuknya seperti gigi. Itulah karang hiu. Mungkin bentuknya yang mirip gigi hiu banyak orang menyebutnya karang hiu. Ada juga versi cerita lain. Konon di dekat karang hiu ada sebuah goa tempat kelelawar tinggal dan berkembang biak. Kelelawar kecil yang jatuh ketika belajar terbang menjadi santapan hiu yang ada di lautan. Itulah mengapa banyak hiu di goa ,menanti mangsa.

Perjalanan dari ujung pantai menuju karang hiu cukup menantang, kita harus menyusuri bebatuan bulat besar. Terus masuk ke dalam hutan dan berjalan di jalan setapak di antara pepohonan. Karena kaki saya cedera, agak sulit juga melewati jalanan yang licin akibat hujan.

Pegadungan memang luar biasa. Berada di pantai ini serasa bukan seperti di Indonesia. Kalau saya bilang seperti pantai karang di Irlandia. Hamparan batu karang menjulang bagai runtuhan castil kerajaan. Langit tidak terlalu biru, tapi saya masih bisa merekam momen indah di sini. Seandainya yang ada digenggaman saya kamera DSLR. Dengan teknik low speed, ombak dan karang di sini akan terlihat lebih dramatis.
Kakiku kaku, hehehehe. Ini kaki makin sakit ga bisa diajak kompromi. Ada keinginan untuk mengeksplore karang di sini dengan naik ke tebing yang tinggi. Sayapun pasrah mengambil gambar-gambar yang bisa dijangkau. Kebetulan tama dan zhagil kakinya juga cedera, jadi kita duduk manis aja di karang pantai, ga manjat ke atas.

Zhagil pun berkhayal pengen foto pre-wedding di sini. Pasti keren karena bakal jarang orang yang mau foto ke sini, medannya itu bro susah. Tapi udah kebayang aja perjuangannya, bawa photographer dan tukang make up plus peralatannya yang super rempong . Kebayang lagi pake acara nyungsep di turunan.
Hujan sudah reda, matahari kembali bersinar. Kami harus meninggalkan Pegadungan pantai cantik yang berbahaya di ujung selatan pulau Sumatra.

wow..takjub ngeliat yg ini..
SukaSuka
pegadungan memang amazing… berasa di luar negeri aja pokoknya kalo liat batu2 kaya gitu
SukaSuka
mantab…. 🙂
SukaSuka
makasih om dah mampir
SukaSuka