Jelajah Aceh 2011 (part 16) : Dari Off Road Sampai Nol Kilometer

Off Road : Edy, Vira , Liza

Hari ini tanggal 31 Desember 2011. Target kami adalah mengelilingi pulau Weh. Dari pantai kasih perjalanan dilanjutkan menuju selatan melewati daerah perbukitan Cot Ba U dan Cot Abeuk. Ketika sampai di persimpangan Balohan  Vira menelpon dia bersama Edy telah sampai pelabuhan. Kamipun langsung meluncur menjemput mereka berdua

berfoto dulu (sumber: Oki)

Perjalanan menjadi lebih seru, setelah dua orang bergabung. Meskipun matahari sudah meninggi kami berenam memacu motor menuju arah selatan menyusuri jalan pinggir pantai. Daerah Jaboi, Beurawang dan Keunekai kami lewati. Sempat terpisah di daerah di daerah Paya karena Liza dan Oki terlalu cepat. Namun akhirnya kita bertemu lagi.

kampung nelayan
pantai pasir putih
makan siang

Masih di daerah Paya kami mampir di sebuah masjid untuk menunaikan sholat dan beristirahat sejenak dekat kampung nelayan. Saatnya mencari tempat makan, pilihannya adalah pantai Pasir Putih. Tapi rasanya kalo di pantai wisatanya agak kurang nyaman buka bekal karena banyak warung berjajar berjualan. Kamipun memilih sebuah pantai sepi yang tidak jauh dari pasir putih.

aspal menghilang

Perjalanan pun kembali dilanjutkan, tak terasa kami sudah menyusur barat pulau Weh . Meskipun jalan aspal mulai menghilang namun pemandangan di sini semakin indah. Tampak rimbun hutan tropis di sepanjang. Mungkin bagi kita orang indonesia melihat hutan seperti ini sesuatu yang biasa, tapi bagi wisatawan benua Eropa ini adalah suasana yang eksotis. Jalan pun makin “eksotis” apalagi di beberapa titik rusak parah akibat longsor.

perbaikan jalan
jalan becek

Jalan menurun di Lhong Angen cukup memacu adrenalin. Turunan curam dengan kondisi jalan becek berbatu memaksa  kami turun dari motor. Sayapun sempat terjatuh ketika menuruni bukit di wilayah barat. Setelah ber-off road akhirnya sampai di simpang tiga antara arah Gapang dan Iboih. Tuntas sudah mengitari pulau paling barat Indonesia. Tapi perjalanan belum selesai, tujuan kami selanjutnya adalah berburu sunset di kilometer nol.

pantai gapang
dermaga gapang

Setelah sholat azhar kami melanjutkan perjalanan menuju Gapang , wisata pantai utara yang terkenal dengan lumba-lumba. Penginapan dan resort di Gapang terlihat lebih mewah dibandingkan di Iboih. Suasananya tidak terlalu berbeda dengan Iboih. Garis pantai putih panjang dengan air laut jernih kebiruan. Sebetulnya saya ingin sekali bersnokling di sini.  Namun karena hari sudah sore dan laut tidak terlalu terlihat jernih karena cuaca agak mendung.

Awalnya kami berniat mampir di Iboih, karena kalau ingin ke nol km akan melewati Iboih. Tapi sepertinya Iboih sangat penuh dengan pengunjung yang ingin melewatkan  malam pergantian tahun. Rombongan sepeda motor dan mobil berbondong-bondong menuju Iboih. Jarak Gapang dan Iboih hanya 4 km , sedangkan Iboih dan nol km sejauh 8 km.

berfoto dulu 😀
menuju jurang pantai

Melewati waktu spesial dan tempat spesial itu mungkin tujuan orang datang ke nol kilometer. Menyaksikan sunset terakhir di tahun 2011 di ujun barat Indonesia. Tidaklah heran , kenapa sore ini tugu berwarna merah jambu ramai dikunjungi. Beragam pengunjung tumpah ruah di area dijadikan tempat berkemah. Mulai dari komunitas motor besar sampai pengunjung pribadi berkumpul menantikan sang surya tenggelam. Posisi di bibir jurang pantai menjadi tempat favorit penjung. Rasanya tak habis-habisnya orang yang ingin berfoto dengan latar belakang sunset.

tugu nol km dan monyet

Monyet-monet di sini yang biasanya berkeliaran , tidak tampak. Jadi teringat hari pertama sampai di Sabang. Ketika mengantar Jalo dan Rahmad kesini. Nasi bungkus kami yang tergantung di motor sukses dirampok monyet-monyet nakal. Untung ada wisatawan mancanegara yang mengusir, alhamdulilah yang diambil cuma satu.

siluet di nol km
sunset terakhir 2011

Akhirnya sang surya berlahan tenggelam di ufuk barat, wakaupun diselimuti awan tebal. Tapi kiluanya tetap cantik. Menjelang gelap satu per satau pengunjung pulang. Membawa kenangan, mengantar matahari ke peraduannya di akhir tahun 2011.

Jelajah Aceh 2011 (part 1): Awal Yang Tak Selalu Indah

Jelajah Aceh 2011 (part 2) : Lut Tawar Begitu Menggoda

Jelajah Aceh 2011 (part 3) : Uji Nyali dan Dingin.. Brrrr

Jelajah Aceh 2011 (part 4) : Ayo Bergaya ke Burgayo

Jelajah Aceh 2011 (part 5): Labi-Labi Berjodoh

Jelajah Aceh 2011 (part 6): Kenangan 7 Tahun Bencana Tsunami

Jelajah Aceh 2011 (part 7) : Tidur Dimana?

Jelajah Aceh 2011 (part 8): Berlayar ke Ujung Barat Indonesia

Jelajah Aceh 2011 (part 9) : Santai di Pantai, Slow di Pulauuuu

Jelajah Aceh 2011 (part 10) : Keheningan Iboih

Jelajah Aceh 2011 (part 11): Check Out!

Jelajah Aceh 2011 (part 12) : Pengelana Senja

Jelajah Aceh 2011 (part 13) : Bukan Wisata Kuliner Biasa

Jelajah Aceh 2011 (part 14): Memburu Sunrise Benteng Jepang.

Jelajah Aceh 2011 (part 15) : Pantai di Kota Sabang

Jelajah Aceh 2011 (part 16) : Dari Off Road Sampai Nol Kilometer

Jelajah Aceh 2011 (part 17): Sabang, Happy New Year!!!

Jelajah Aceh 2011 (part 18) : Pulang dan Berpisah

Jelajah Aceh 2011 (part 19) : Yang Unik Dari Sabang

 

Simak Yuk Serunya #NekadTraveler

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s