Tukang Becak dan Racun Belanja…

Selepas istirahat sambil menikmati makan siang di Taman Pintar, sayapun bergegas menuju Keraton dan Taman Sari. Setelah “digoda’ tukang becak akhirnya memutuskan untuk berkeliling Jogja dengan becak. Harga yang ditawarkan untuk berkeliling jogja sangat tidak masuk akal murahnya. Dari Rp 2000,- sampai Rp 5000,-, sempat berpikir sejenak dengan harga semurah itu tukang becak dapat apa?

Sayapun memutuskan untuk naik becak dengan tarif  lima ribu rupiah. Tukang becak pun sangat fasih dalam berkomunikasi dan menjelaskan seluk beluk kota Jogja. Dari tempat wisata, tempat makan dan tempat belanja. Dari setiap perbincangan tukang becak yang merangkap sebagai guide selalu mengarahkan untuk berbelanja dari kaos, batik, souvenir sampai makanan kecil seperti bakpia. Saya akhirnya mengerti bahwa tukang becak ini juga merangkap sebagai marketing para pemilik toko oleh2 dan souvneir di Jogja. Dan pastinya akan mendapatkan vi jika membawa tamu yang akan berbelanja. Sayapun sempat tergoda untuk belanja kaos dan beberapa souvenir kecil seperti gantungan kunci. Dan akhirnya saya mampu menolak secara halus ketika tukang becak mengajak ke toko batik dan souvenir. Selain tidak ada buget lebih untuk belanja, rasanya agak merepotkan jika belanja terlalu banyak. Karena setelah Jogja masih ada dua kota yang akan saya  kunjungi  Semarang dan Karimunjawa.

Taman Sari merupakan salah satu objek wisata budaya andalan Jogjakarta. Bangunan kuno yang merupakan tempat mandi Sultan dan istri istrinya menyimpan pesona dan dan cerita mitos yang wajib untuk disimak. Dengan ditemani seorang guide sayapun berkeliling kompleks Taman Sari. Sepanjang kunjungan sang guide dengan fasih bercerita. Kebanyakan dari guide adalah keturunan para abdi keraton, mereka menempati tanah milik keraton di sekitar area keraton. Meskipun hujan mulai mengguyur kota Jogja sang guide tetap bersemangat.

Akhirnya kamipun sempat berteduh di rumah salah seoarang abdi kraton yang sedang membuat kerajinan wayang dan membatik. Wah dapet objek bagus buat diabadikan nih :p, insting sayapun tergoda. Ternyata racun belanja ada di mana-mana. Sang guide mengajak saya untuk berteduh di sebuah art shop. Tapi lagi lagi saya tolak dengan jawaban diplomatis dan halus setiap tawaran untuk berbelanja.

Sang guide menjelaskan bahwa kampung di kawasan Taman Sari ini ditetapkan menjadi kampung cyber, dimana di daerah ini sudah tercover dengan jaringan wifi. Dan yang mengejutkan, setiap sentra industri wisata di sini (artshop) sudah memiliki blog ataupun website untuk memasarkan produknya.

Jika bicara tentang Jogja dan pesona budaya maka tidak akan ada habisnya. Kali ini saya sempat tertegun di salah satu Gallery batik yang menawarkan paket kursus membatik satu hari. Ketertarikan saya akan fashion membuat saya tidak mampu berpaling dari “godaan” ini. Tapi sayang saya tidak memiliki banyak waktu, esok hari harus melanjutkan perjalanan ke Semarang. Paket yang ditawarkan cukup terjangkau yaitu Rp 150.000. Jika mengambil secara rombongan akan diberikan diskon. Saya berharap akan kembali ke Gallery ini dan mengambil kursus membatik…..

Setelah hujan reda kami kembali menyusri sisi lain Taman Sari. Sekarang berada di bangunan yang difungsikan sebagai tempat sholat berjamaah. Beberapa bangunan sudah direnovasi sehingga kesan kuno dan eksotik tidak tampak seperti ketika saya mengunjungi 15 tahun yang lalu. Akibat gempa 2006 kekuatan bangunan Taman Sari semakin berkurang di beberapa bagian terjadi keruntuhan. Sehingga pemerintah Jogjakarta tidak mempunyai pilihan selain merenovasi.

Dengan setia tukang becak menuggu saya berkeliling Taman Sari sambil menjaga barang belanjaan. Dan yang membuat saya kaget, ternyata air botol mineral saya sudah penuh terisi.  Wah rasanya ga tega juga kalo dikasih lima ribu, setelah bolak balik mengantar  ke atm sampe dua kali plus ke toko dan tempat wisata.

Kraton adalah tujuan terakhir untuk hari ini. Walaupun kraton sudah tutup tapi  sempat hunting beberapa foto di luar istana. Dengan baik hati tukang becakpun sekali lagi mengantar saya berputar putar kota Jogja. Sempat melewati jalan di daerah Pasar Kembang… “ehem”. Lalu melaju di jalan Malioboro, bernostalgia mengingat masa kecil ketika melewati jalan ini bersama orang tua.

Perjalanan hari ini cukup memuaskan untuk mengenang betapa indahnya kota leluhur (bokap). Walaupun saya lahir dan besar di Sumatra rasanya sulit untuk melupakan kota Jogja. Ingin selalu kembali ke kota ini.  Selamat tinggal “Mas Tukang Becak” yang baik hati dengan rayuan maut belanja yang mematikan. Impas ya mas ga ada ganjelan di hati… Walaupun aku ga banyak belanja dan mas ga dapet vi dari toko. Aku membayar mas tiga kali dari perjanjian awal Rp 15.000,- HAyahhhhhhhhhhhhhhhhh………… Opo iki !!!!

4 Comments on “Tukang Becak dan Racun Belanja…

  1. Ping-balik: bagustyo

  2. Iya janjinya 5 ribuan. Saya terpaksa membeli batik pada hari pertama di sana. Bila saya tak mahu ke toko lain dia tinggalkan kami mencari hotel sendirian dgn alasan sudah berjanji dgn prlanggan lain utk mrnghantar anak ke sekolah.

    Saya suka Jogja, teringin je sana lagi bersama keluarga pula.

    Disukai oleh 1 orang

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: