2D1N in Semarang

Two Days 1Night di Semarang… Liburan kali ini saya memutuskan untuk berwisata di kota Semarang. Bermodalkan informasi dari uncle google akhirnya saya mendapatkan beberapa spot menarik yang bisa dikunjungi secara cepat. Kebetulan ada seorang  sahabat  yang berdomisili di Semarang.

Perjalanan dimulai dari stasiun Giwangan Jogjakarta. Tepat jam 7 pagi saya sudah berada di stasiun Giwangan. Setelah tanya kesana kemari akhirnya saya baru tahu ternyata bis Nusantara Jurusan Semarang biasa mangkal di stasiun bagian utara. Namun setelah saya sampai di pangkalan ternyata bis sudah berangkat 5 menit yang lalu dan terpaksa saya menunggu selanjutnya. Setelah menunggu selama satu jam bis yang saya tunggu belum nampak, akhirnya salah seorang petugas menginformasikan bahwa bis Nusantara yang berangkat dari Giwangan jam 08:00 mengalami kerusakan. Dan alternatifnya saya harus ke stasiun Jombor atau menunggu 1 jam lagi.

Akhirnya dengan menggunakan TransJogja menuju stasiun Jombor yang berada di utara kota Jogjakarta. Walaupun agak sedikit repot berpindah pindah stasiun mungkin pilihan yang paling tepat agar tidak terlalu lama menunggu. Pukul 09:30 saya sampai di kota Jogjakarta dan naik bus Nusantara Jurusan Semarang dengan pemberangkatan jam 10:00.

Semalam saya sepupu saya yang bersuamikan orang Jepara bercerita bahwa beberapa hari ini perjalanan dari Jogja ke Semarang agak terlambat karena ada kemacetan di daerah sungai putih. Perkiraan sekitar 3 sampai 4 jam untuk bisa sampai terminal Banyumanik.  Tapi ternyata setelah 2 setengah jam saya sudah sampai. Dari terminal Banyumanik saya naik bus Puduk Payung-Kalisari via Tugu Muda. Karena lapar sesampai di Tugu Muda saya langsung masuk ke warung makan yang berada di dekat pangkalan becak. Lega rasanya bisa sampai kota Semarang dengan selamat….

Wisata kali di dimulai dari Lawang Sewu yang tepat berada di depan Tugu Muda Semarang. Satu bangunan peninggalan Belanda yang memiliki nilai historis dan daya tarik mistis. Untuk dapat masuk ke area ini saya harus membayar tiket sebesar lima ribu rupiah dan itu belum termasuk vi buat guide yang akan menemani dan bercerita sepanjang tour. Dan tentu saja setiap pengunjung tidak diperbolehkan berkeliling tanpa didampingi seorang guide.

Puas berkeliling di lantai satu dua dan tiga bangunan ini, sang guide menawarkan saya untuk mengunjungi lantai bawah tanah atau basement. Yang konon pada jaman Jepang digunakan sebagai penjara dan ruang eksekusi. Untuk masuk bagian termistis bangunan ini, pengunjung dikenakan kembali tiket masuk sebesar Rp 5000,- dan juga harus membayar jasa guide tambahan. Sebelum masuk pengunjung harus mengenakan sepatu karet anti air dan membawa lampu penerangan yang sudah disediakan.

Pada jaman Belanda ruangan bawah tanah ini berfungsi sebagai penampungan air dan sebagai bagian sistem pendingin udara. Diharapkan uap air dingin yang ada di bawah tanah bisa bersikulasi ke atas dan mendinginkan suhu ruangan.

Setelah puas mengelilingi Lawang Sewu saya berjanji dengan bertemu dengan teman di salah satu tempat yang bernama Nusantara. Jujur saya tidak tahu itu daerah apa. Rekan saya hanya memberikan informasi bahwa naik mobil yang menuju Ngaliyan. Ternyata Nusantara adalah nama pangkalan bis yang saya naiki  tadi dari Jogja ke Semarang. Tepat di depan Nusantara ada sebuah kuburan peninggalan Belanda. Sebetulnya saya ingin sekali masuk tapi nampaknya area tersebut tidak untuk umum dan bukan tempat wisata.

Setelah bermalam di rumah sahabat semasa kuliah di Lampung, perjalanan hari ini dimulai jam 06:00. Dengan menumpang bis ke arah pasar Joharan saya berniat mengunjungi Kota Lama. Tapi sepertinya kunjungan saya kali ini bukan di waktu yang tepat untung hunting foto. Hari ini tanggal 21 April merupakan hari Kartini dan jam sibuk kantor. Lalu lintas di kota tua sangat sibuk, rasanya sangat sulit untuk mendapatkan photo kota tua tanpa ada gambar “bocor” mobil atau motor yang lewat.

Setelah puas mengelilingi kota tua saya bergerak menuju Stasiun Tawang. Untuk memenuhi rasa penasaran saya masuk ke dalam bangunan stasiun peninggalan Belanda. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 10:00 dan matahari sudah terasa sangat terik. Tampaknya saya harus mencari tempat meneduh yang aman dan nyaman.

Mall Paragon pilihan saya kali ini untuk meluruskan kaki yang pegal setelah berjalan kurang lebih 3 jam. Sempat menikmati segelas Capucino di StarBuck sambil berselancar di dunia maya dan mengupdate status facebook.  Untuk melewati siang yang cukup panas di Semarang saya memutuskan makan siang dan nonton film 3D. Perjalanan kali ini memang mengkombinasikan antara petualangan jalan kaki dan kenyamanan bersanatai di Mall.

Tepat jam 14:30 petualangan jalan kaki dimulai kembali. Dengan menggunakan bis saya bergerak menuju perempatan yang berada di depan Rumah Sakit Kariadi. Dari sini saya berjalan kaki menyusuri jalan Kaligarang menuju Kelenteng Sam Poo Kong. Walapun cukup melelahkan tapi tetap memutuskan untuk berjalan kaki sambil mencoba mengenal kota Semarang.

Sekitar 20 menit berjalan akhirnya saya menemukan bangunan Kuil berasitektur china yaitu Sam Poo Kong. Tiket masuk seharga 5000 ribu rupiah untuk bisa masuk ke area halaman Kuil. Tapi jika ingin masuk ke Kuil wisatawan lokal dikenakan biaya Rp 20.000,- dan wisatawan mancanegara Rp 30.000,-. Awalnya saya tidak berniat untuk masuk ke Kuil yang dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho ini. Tapi setelah berkeliling di halaman kuil dan tidak mendapatkan sudut pengambilan gambar yang bagus, akhirnya saya memutuskan untuk masuk.

Ternyata suasana di dalam kuil sangat berbeda dengan di luar. Jika di luar kuil lebih banyak pengunjung yang hanya berfoto ria.Tapi di dalam kuil pengunjung lebih banyak yang berdoa atau melakukan ritual keagamaan. Kebanyakan dari mereka memiliki keinginanan atau permohonan khusus.

Kuil Sam Poo Kong atau Gedong Batu adalah sebuah kuil Tionghoa yang terletak di daerah Simongan, Semarang, Indonesia. Tempat ini konon dulunya adalah tempat persinggahan Laksamana Cheng Ho, seorang penjelajah asal Tiongkok yang beragama Islam.

Bangunan inti dari klenteng ini adalah sebuah gua batu dan merupakan tempat utama dari lokasi ini. Gua batu ini dipercaya sebagai tempat awal mendarat dan markas Laksamana Cheng Ho beserta anak buahnya saat berkunjung ke Pulau Jawa. Di dalamnya terdapat patung yang dipercaya sabagai patung Sam Poo Tay Djien atau Laksamana Cheng Ho. Di lokasi ini juga bisa dijumpai altar dan makam orang-orang kepercayaan Laksamana Cheng Ho saat di Jawa, yang sering pula dikunjungi pengunjung untuk berziarah.

Rasanya perjalanan dua hari di Semarang tidak cukup untuk mengunjungi semua tempat menarik di kota ini. Tapi saya harus meninggalkan ibukota Jawa Tengah untuk melanjutkan trip berikutnya. Karena merasa lelah, menjelang senja saya meninggalkan kota Semarang menuju Jepara. Besok pagi saya harus bergegas ke Pelabuhan Kartini, mengejar kapal Muria menuju Karimun Jawa. Selamat tinggal kota Semarang… Terimakasih untuk Era dan keluarga atas akomodasi satu malam di Semarang. I’ll back…

2 pemikiran pada “2D1N in Semarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s