Curahan

Kisah Pembenci Aksara

Tak ada yang salah dengan aksara hingga saya harus membencinya hampir seumur hidup. Bagi kami penyandang disleksia menterjemahkan symbol-simbol menjadi bunyi bunyi konsanan dan vokal itu tidak mudah.

Belum lagi harus merangkainya menjadi satu kata hingga kalimat yang bisa dipahami banyak orang.

Ibu memang tidak pernah membedakan saya dengan kakak yang lebih cerdas, mungkin karena di keluarga kami semua anak istimewa. Kakak saya adalah anak pertama perempuan sedangkan saya adalah anak bungsu lelaki di keluarga. Kasih sayang yang kami rasakan berdua sama besarnya dan tidak pernah dibandingkan satu dengan lainnya.

Namun berbeda dengan orang-orang di luar keluarga, mereka membandingkan dan menganggap saya lebih bodoh karena mengalami kesulitan membaca. Sewajarnya memang anak pra sekolah tidak diwajibkan untuk bisa membaca namun standar lingkungan membuat orang tua khawatir jika anaknya tidak dapat membaca setelah satu tahun di sekolah dasar. Apalagi kakak saya sudah bisa membaca sejak sebelum masuk TK. Bermodalkan papan tulis dan kapur ibu memperkenalkan huruf sambil bermain lalu dengan sendirinya kakak bisa membaca tanpa belajar.

Sedangkan saya? Berkali-kali diajarkan di kelas dan rumah tetap saja terbata jika dihadapkan dengan deretan huruf. Tidak tahu mengapa rasanya sulit sekali menterjemahkan tulisan menjadi kata yang dapat diucapkan. Segala cara sudah dicoba tapi tetap saja otak ini bebal dan jika sudah merasa tertekan saya akan menangis sejadi-jadinya.

Sebagai orang tua, ibu sadar bahwa setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda tapi ia merasa anak bungsunya butuh penanganan khusus untuk dapat membaca. Dan feeling-nya terbukti ketika ia menemukan artikel tentang disleksia dari majalah wanita. Apalagi akhirnya bapak berkisah mengalami hal yang serupa dengan saya dan baru bisa membaca setelah kelas 4 SD. Apakah disleksia kelainan yang diturunkanya?

Tak mudah menemukan dokter atau psikolog di kota kecil tempat kami tinggal sebagai tempat konsultasi dan mencari solusi bagi penderita diskleksia. Tapi itulah kehebatan ibu, dari hobi membaca dan berkoresponden akhirnya ia menemukan guru untuk saya. Nama guru itu Cik Nyet Nyet, seorang wanita keturunan Tionghoa yang biasa memberikan les private kepada anak SD.

Hari pertama masuk di kelasnya saya sempat dianggap bodoh tapi ketika saya dapat menyelesaikan tugas matematika dengan sangat cepat, ia menyatukan saya dengan anak-anak lainnya untuk kelas berhitung. Namun ketika belajar membaca saya dipisah dalam kelas khusus. Sepertinya ia tahu kalau saya memiliki kesulitan membedakan huruf n, u dan a. Berkali-kali huruf itu diulang dan diputar-putar dan berkali-kali juga saya melakukan kesalahan.

Hampir setiap hari selama dua bulan saya mengikuti kelas khusus di dapur rumahnya. Sambil memasak, ia memberikan tugas menulis huruf sambung lalu berikutnya belajar mengeja melalui kata-kata sederhana hingga bacaan pendek. Walau awalnya agak sedikit menakutkan saya lebih nyaman belajar bersamanya, hingga akhirnya saya bisa membaca walau sering typo.

Sebetulnya saya hapal setiap aksara dengan baik ketika pelajaran dikte dapat menuliskannya dengan baik tapi lucunya ketika huruf disejajarkan menjadi kata, sulit rasanya untuk diucapkan. Jikapun dapat saya harus berpikir lama dan akhirnya saya terbata-bata ketika membaca.


Pada akhirnya saya menemukan cara sendiri untuk membaca lebih cepat. Caranya dengan menghapal beberapa bentuk kata pendek seperti : ini, itu, dan, lalu. Karena sering membaca akhirnya bentuk kata yang saya hapal semakin banyak dan saya tidak pernah terbata-bata lagi ketika membaca.

Lebih Mencintai Angka

Sebagian besar anak-anak penderita disleksia lebih menyukai angka ketimbang aksara, karena mungkin bagi beberapa anak membaca adalah sebuah trauma. Gara-gara tidak bisa membaca dicap sebagai anak bodoh.

Dan bagi kami lebih mudah menghapal 10 angka dibandingkan menghapal 26 huruf yang terdiri dari konsonan dan vokal yang terkadang memiliki bentuk dan pengucapan yang hampir sama. Itu benar-benar membingungkan.

Saya lebih menyukai pelajaran matematika serta pelajaran eksakta lainnya, untuk mengerjakan soalnya tidak perlu usaha keras dengan membaca apalagi menghapal buku pelajaran yang tebal. Cukup mengetahui konsepnya maka semua soal matematika dapat dikerjakan dengan baik, begitu juga dengan pelajaran fisika dan kimia.

Sebetulnya saya memiliki ketertarikan dengan pelajaran bahasa dan sastra tapi sepertinya pengalaman kesulitan membaca di kelas 1 SD membuat saya tidak menyukai mata pelajaran ini. Apalagi kebanyakan pelajaran bahasa di bangku sekolah itu tidak mengasikan terlalu fokus dan pola dan tata bahasa serta EYD.

Tidak salah jika saya memilih jurusan IPA ketika SMA, apalagi di era itu anak IPA dipandang lebih memiliki masa depan yang cerah dibandingkan anak IPS atau Bahasa. Ya profesi yang diharapkan tidak jauh-jauh dari dokter atau insinyur. Seolah lingkungan di sekitar tak memberikan banyak pilihan akhirnya saya melanjutkan sekolah ke fakultas teknik jurusan elektro walaupun saya tidak terlalu tertarik dengan bidang ini.

Mungkin kuliah adalah saat yang paling indah dibandingkan masa SMA, saya lebih bisa mengekpresikan diri dan tidak bertemu dengan mata pelajaran yang terlalu banyak hapalan, selain itu di bangku kuliah kemampuan berpikir dan analisis lebih diutamakan daripada hapalan.


Tidak Tahu Potensi Diri

Terlalu asik mencintai kelogisan dan angka saya seolah melupakan ketertarikan dengan seni. Sebetulnya ketika diadakan tes minat dan bakat saat SMA, psikolog menyarankan agar saya menjadi arsitek atau grafik desainer.

Belajar di kampus benar-benar membuka pola pikir dan mata saya bahwa ada dunia lain yang lebih menarik ketimbang angka. Saya mulai membuka diri dengan apa yang saya suka bukan menghindari apa yang saya takuti dengan grafik desainer, membuat film, jurnalistik hingga broadcasting. Hingga akhirnya sadar bahwa saya memiliki potensi diri yang tidak pernah saya tahu.

Satu tahun sebelum kelulusan sebagai mahasiswa teknik saya memenangkan lomba ide cerita film yang akhirnya mentakdirkan saya untuk belajar membuat skenario. Iya skenario, rangkaian kata dan dialog untuk film pendek. Dan siapa menyangka skenario yang saya buat diapresiasi menjadi best original script untuk perlombaan film indie tingkat nasional.

Pelan-pelan kecintaan saya terhadap angka mulai luntur saya lebih membuka diri dengan dunia broadcasting dengan menjadi penyiar di sebuah radio online, dari belajar cuap-cuap sampai memproduksi acara.

Walau tidak mendapatkan kepuasan materi namun hidup terasa lebih berwarna apalagi setelah lulus kuliah saya bekerja sebagai grafik dan web desainer. Profesi yang dulu disarankan oleh psikolog ketika lulus SMA.

Pilihan hidup yang tidak sesuai harapan orang tua akhirnya melahirkan konflik karena saya sempat menggantung ijasah sarjana teknik lima tahun lebih. Bayangkan ketika teman-teman saya sudah memiliki karir di dunia teknik saya masih bersenang-senang dengan dunia seni yang kata ibu saya tidak menjamin masa depan.

Demi menyenangkan hati orang tua saya berdamai dengan keadaan, kembali bekerja di dunia teknik namun tetap mendesain web di kala senggang dan bercuap-cuap di radio online walau tanpa bayaran.

Blog Dunia Baru

Takdir membawa kehidupan baru di kehidupan ketika dipindahtugaskan ke pedalaman hutan Jambi dengan pola kerja 2 minggu penuh di site dan seminggu libur. Di satu sisi saya senang karena mendapat libur panjang tiap bulan tapi di sisi lain saya jauh dari kota kelahiran.

Tanpa internet yang memadai saya nyaris tidak biasa siaran online dan menerima job membuat web. Bayangkan setelah 8 jam kerja sehari saya memiliki waktu 16 jam istirahat dan saya tidak mengerjakan apa-apa. Bandingkan dengan kehidupan saya yang dulu super sibuk, setelah bekerja kantoran malam hari saya bisa siaran atau mendesain.

Untuk membunuh waktu saya mulai membaca buku berjam-jam, kegiatan yang jarang saya lakukan walau aktivitas ini merupakan hobi ibu dan kakak perempuan saya. Melihat untaian kata menjadi kalimat-kalimat puitis lalu berpadu menjadi alenia dan melahirkan kisah luar biasa, saya jadi ingin bisa menulis. Tapi bagaimana mungkin, ketika sekolah nilai bahasa Indonesia saya tidak pernah menyentuh angka 7.

Malu-malu saya membuat blog lalu menuliskan beberapa kisah perjalanan sampai akhirnya secara tidak sengaja seorang rekan kerja membaca dan ia berkata bahwa tulisan saya lumayan bagus.

Menulis itu seperti berjalan, semakin sering dilatih maka akan semakin lancar dan saya tidak pernah sadar bahwa akhirnya saya bisa menulis dengan baik. Proses ini bukan tanpa usaha, saya kembali membuka buku EYD yang sudah bertahun-tahun tertimbun di gudang. Mencoba mengikuti lomba menulis dan blog di media online dengan tujuan awal membunuh waktu di remote area.

Setelah gagal puluhan kali mengikuti lomba menulis dan blog akhirnya saya memenangkan satu lomba yang membuat saya makin termotivasi. Berikutnya?

Pelan-pelan hobi menulis menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan, saya yang tadinya malu-malu ngeblog kini mulai percaya diri mengaku sebagai blogger. Aksara yang dulu saya benci setengah mati, kini saya rindukan setiap hari. Rasanya jika tidak menulis saja sehari, rasanya ada yang kurang walau hanya satu paragraf.

Ya saya penderita disleksia yang dulu membenci aksara kini mencintainya setengah mati.

37 komentar

  1. Kisah yg Inspiratif om… Apalagi tidak menyerah dengan disleksia. Sesuatu yg dulu begitu dibenci, kini begitu dicintai…. Eaaaa adakah seseorang yg dulu dibenci dan sekarang dicintai? 😁

    Suka

  2. Huwaa, mengalir seperti air. Selalu suka baca setiap rangkaian katanya. Btw anak bungsuku selalu kebingungan membedakan b dan d apa itu termasuk disleksia? Btw dia kelas 2 SD sekarang. Thanks sdh berbagi yah 👍🏻

    Suka

    1. sebetulnya setiap orang berpotensi menjadi disleksia tapi levelnya berbeda2 ada yang bukan huruf tapi membedakan kanan dan kiri. aku pernah dapat supir taksi baru yang nggak bisa membedakan kanan dan kiri, sampai dia menangis lho karena bingung

      Suka

  3. Aku bacanya khusyuk sekali. Seperti terbawa oleh cerita yang inspriratif ini. Tapi aku baca komentar diatas jd ingat diri sendiri. Aku sering gak bisa bedakan kanan dan kiri. Sampai orang2 disekitarku pusing karena sering nyasar gara2 aku suka lupa kanan dan kiri. Dan bukan sekali sekali tappi banyak kali Apa termasuk disleksia kah?

    Suka

  4. ya memang kalo masih usia anak anak semua bisa berubah seiring tumbuh kembangnya, ada yang cepat nangkap ada juga yang lama. namun bersyukurlah jika sesuatu yang kakak tak suka dulu akhirnya kakak sukai dan menjadi bagian dari hidup kakak malahan… 🙂

    Suka

  5. Butuh keberanian untuk terbuka akan kekurangan diri sendiri, dan terpujilau orang2 yang menceritakan kekurangannya menjadi inspirasi bagi orang lain. i salutte you mas Danan yang aku baru tahu dulu pernah menjadi penderita dislessia.

    Berterimakasih jugalah kepada cik nyet nyet selain kepada ibumu. hahahah

    Suka

    1. iya dia aslinya ibu rumah tangga tapi super sibuk dan aktif , selain menerima anak2 belajar di rumahnya, dia juga menerima pesanan kue dan kadang membuka kursus memasak. hahhahah seru sih belajar di dapurnya dan sesekalu dapat bonus kue

      Suka

  6. Inspiring banget bang.
    Ternyata gak mudah melawan diseleksia.

    Salut sama ibunya abang.
    Mencari guru alternatif dg Cik nyet nyet.

    Syukur sekarang kata dan kalimat menjadi kawan akrab.
    Saya salah sayu penyuka gaya penulisan bang danan

    Suka

  7. Awalnya aku pikir dirimu lagi bercerita tentang orang lain melalui sudut pandang dirimu. Ternyata benar-benar dirimu yang pernah menderita disleksia ya? Btw, aku pikir dirimu pernah di AKA Bogor mas. Apa aku salah ingat ya?

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.