belanja online di singapura

Penjual Johor dan Pembeli Indonesia Bertransaksi di Singapura

Judulnya mengingatkan film aksi yang berkisah tentang penyelundupan narkoba di segitiga emas . Bukan Mas Bro, ini pengalaman pribadi  saya tanpa sengaja bertransaksi dengan penjual kamera Johor di Singapura. Berawal dari dunia maya akhirnya kami bertemu di dunia nyata untuk COD (cash on delivery). 

Bagi saya belanja online bukan hal  baru, sudah 10 tahun lebih mengenal cara belanja ini melalui forum terbesar di Indonesia. Kenapa sih saya suka belanja dengan cara  ini. Alasan pertama adalah kepraktisan. Saya bisa mendapatkan barang dengan harga terbaik tanpa harus keluar rumah. Kalau sabar bisa mendapatkan penjual tangan pertama dengan harga paling murah. Caranya dengan  membandingkan harga beberapa penjual lalu menawar sadis. Namun harga  murah tapi juga harus logis kalau tidak bisa tertipu. Sangking seringnya belanja online intuisi pun terlatih dengan penjual nakal. Tapi demi keamanan dan kenyamanan saya tetap memilih jasa rekber alias rekening bersama.

Era FJB tergantikan dengan toko online yang sepertinya lebih mudah tapi bagi saya pribadi lebih susah untuk mencari suplier tangan pertama. Bayangkan untuk satu jenis barang ada puluhan bahkan ratusan penjual yang harganya mirip-mirip. Dan mungkin beberapa akun penjual dimiliki oleh orang yang sama. Karena di era toko online banyak orang berjualan tapi tidak memiliki stok barang alias re-seller.

Kini toko online bermetamorfosis menjadi aplikasi di gawai pintar membuat belanja jadi lebih mudah. Persaingan antara toko online membuat konsumen makin dimanjakan , beragam diskon   hingga ongkos kirim gratis menjadi daya tarik lain belanja online.

Belanja di Aplikasi

Awalnya saya agak tergagap menggunakan aplikasi dibandingkan membuka website toko online, mungkin karena tampilan sangat simpel dan gambarnya kecil. Tapi tidak terlalu menggangu yang penting tujuan belanja tercapai.

Belakangan banyak toko online yang hanya memiliki aplikasi dan cara ini dikenal dengan marketplace mobile C2C. Cakupannya pun semakin global, jadi tidak mengherankan penjual dan pembeli antar pulau bahkan benua bisa betransaski dengan bantuan jasa perbankan dan ekpedisi.

Awalnya  saya hanya belanja dengan aplikasi marketplace dalam negeri seperti tokopedia dan bukalapak. Namun belakangan saya tergoda dengan aplikasi marketplace  negara tetangga carousell. Atas rekomendasi seorang buruh migran yang memiliki hobi fotografi saya mengetahui carousell.

“Mas kalau cari kamera murah di sini, nanti saya bantu COD-an. Tinggal nanti mas ambil barangnya kapan saja”, ujar mbak-mbak yang selalu menjinjing kamera DSLR berseri satu digit.

Galau Belanja Online

Belanja online terkadang menimbulkan kegalauan jika  barang yang datang tidak sesuai dengan harapan. Makanya untuk beberapa kasus saya memilih COD (cash on delivery). Janjian bertemu dengan penjual, lihat barang kalau cocok baru bayar.

Akhirnya saya tergoda untuk mengintip aplikasi marketplace negara tetangga. Ternyata harga kamera dan asesories di negara tetangga itu cukup menggoda. Untuk beberapa item bedanya bisa 2-3 juta rupiah dibandingkan harga di Jakarta. Saya sempat menemukan gear idaman  tapi masalah timbul ketika banyak penjual tidak mau diajak COD-an di  akhir pekan. Sepertinya orang-orang itu sangat menghargai akhir pekan. Andai ada yang mau mereka menggunakan jasa kurir COD berbayar  50 SGD.

Karena saya galau akhirnya saya batal bertransaksi dengan beberapa penjual. Aku mah orangnya gitu, galau dikit saja semua bisa batal, termasuk rencana pernikahan. *eeh lambe*

Hingga akhir pekan lalu saya menemukan penjual yang diajak mau  COD-an di Harbourfront, Singapura. Jadi saya tinggal naik feri Batam-Singapur lalu nongkrong cantik di pelabuhan. Dan ajibnya lagi harga barang yang ditawarkan bisa lebih murah dari yang tertera.

“Dengan kekuatan The Power Of Emak-Emak aku menawarmu… Ciattt!”

Transaksi di Negara Tetangga

Sesuai kesepakatan kami bertemu di pelabuhan pukul 15:00 waktu setempat. Waktunya cukup fleksibel, tidak terlalu pagi atau malam. Dengan asumsi banyak orang melancong ke Singapura dan antrian imigrasi panjang. Pukul 8:40 WIB saya berangkat menuju Singapura dengan tiket feri pp promo seharga 280 ribu.

Sampai di Singapura masih pagi, ternyata antrian imigrasi tidak terlalu mengular. Musim kawin cuy!  Orang-orang pergi ke resepsi pernikahan Laudya Cynthia Bellai di Malaysia.  Sembari menanti sang penjual saya duduk manis di ruang tunggu pelabuhan sambil online, wifi di sini kenceng banget. Tapi kalau salah melangkah, menjauh dari ruang tunggu sinyal ilang.

Pesan singkat dari penjual masuk, dia menginformasikan bahwa telat satu jam karena jalur Johor-Singapura macet di akhir pekan. Biasanya satu jam sampai katanya. Sayapun akhirnya memutuskan jalan-jalan menyambangi beberapa toko kamera di Harbourfront. Duh rasanya hati galau setelah membandingkan harga di toko dengan penjual. Rasanya tak logis. Andai kegalauan hati ini tertangkap kamera CCTV  pelabuhan. bisa-bisa kamu disangka bandar narkoba. Jadi tenang saja kalau barangnya tidak sesuai anggap saja belum jodoh.

Pukul 15:48 penjual datang dan ia mengenalkan diri sebagai Wilson. Sebagai basa-basi saya menanyakan dimana tempat tinggalnya di Singapura. Ia menjawab kalau dia aslinya tinggal di Johor dan demi transaksi ini datang ke Singapur dengan mobil. Duh saya kok jadi bego ya mustinya saya ngeh dari awal dari nomor teleponnya  berawalan +60.

Barang belanjaan pun digelar di atas meja. Lalu saya membukanya satu per satu dan memeriksanya secara fisik maupun fungsi. Ternyata sesuai dengan yang djanjikan di toko online. Setelah semuanya setuju , sayapun menyerahkan uang sambil bersalaman.  Setelah itu kami berpisah kembali ke negara masing-masing.Duh semudah inikan belanja online lintas negara?

Secara geografis Singapura, Johor dan Riau (daratan serta laut) sangat berdekatan. Jadi akan sangat mudah untuk saling mengunjungi. Pertukaran barang dan jasa di tiga wilayah   ini  sebetulnya sudah berlangsung sejak ratusan tahun, apalagi Singapura, Johor dan Riau merupakan jalur perdagangan internasional. Andai saja ada pengembang yang mau membuat start up jual beli online yang fokus di tiga negara ini, dijamin akan ada geliat ekonomi lebih dasyat di tiga negara ini.

O iya by the way ada nggak yang bisa menebak barang apa yang saya beli. Sebagai clue, barang ini seken kalau di Indonesia harganya bisa belasan bakal di atas dua puluh juta rupiah tapi di negara tetangga saya dapat dengan harga 14 juta rupiah. Hayooo ada yang bisa tebak?

2 pemikiran pada “Penjual Johor dan Pembeli Indonesia Bertransaksi di Singapura

  1. Haha, saya juga pernah. Tapi di Brunei. Kebetulan saya dapat free seat Air Asia ke Brunei, eh ada customer online shop istri yang orang Brunei pesan pakaian. Akhirnya saya bawa, COD. Lumayan sih, customer senang karena free ongkir, dagangan istri laku.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s