Kabar Buruk Saat Liburan

Apa yang akan kamu lakukan ketika mendapat kabar buruk saat liburan?
Apa yang akan kamu lakukan ketika mendapat kabar buruk saat liburan?

“Dek kamu dimana? Kalau bisa telepon ke rumah.” Sepenggal pesan muncul saat smartphone menyambar sinyal wifi gratisan di gerai restoran berlogo huruf M terminal Larkin, Johor.

“Ibu nyaris pingsan.”

“Deg.” Jantung saya serasa berhenti. Rasa kopi menjadi pahit getir meluruhkan selera sarapan.


Tak pernah terbayangkan mendapatkan kabar buruk saat travelling seperti ini. Belum lagi pesan facebook dan whatss app masuk bertubi-tubi masuk.

“Nan kamu dimana? Kamu baik-baik saja kan?”
“Danan kamu dimana? Aku Windi, tadi kakak kamu menghubungi aku. Kamu dimana?”

Mulai menduga berita terburuk. Saya bertekat jika memang harus pulang ke Lampung saya akan pulang sekarang. Bagaimanapun caranya.

“Ada apa Mbak , cerita saja di sini. Aku siap kok?” Pesan facebook berkedip-kedip.

“Panjang kalau diceritain. Tapi intinya tadi ada penipu menelepon ibu , bilang kalau kamu kecelakaan.”

“Ibu baik-baik saja sekarang?”

“Iya , tuh lagi di kebun?”

Percakapan maya harus terputus tak kala bus menuju Johor Bahru Square membunyikan klakson dua kali, tanda akan berangkat.

“Mbak kalau aku ngga jawab berarti aku di bus. Kira-kira sampai Batam 4 jam lagi.”

Pandangan saya menerawang jauh  melalui jalan mulus ujung selatan negeri jiran. Sejam kemudian Johor Bahru Square tersambangi, reflek melompat dari bus mencari taksi menuju Pelabuhan Si Tulang.

***

3 jam kemudian.

Kaki sudah menjejak tanah air tapi perasaan belum lega. Membayangkan rumah, ibu, bapak dan seluruh anggota keluarga di Lampung. Andai liburan pekan ini pulang.

“Assalamualikum Bu…, ” meyakinkan komdisi baik-baik aja.

“Waalaikumsalam… Dimana Tong?”. Suara itu terdengar begitu damai.

“Sudah di Batam” Terdiam lalu tenggelam dalam obrolan hangat.

“Tadi pagi nyaris aku jantungan dapat kabar kamu kecelakaan. Ibu takut kamu kenapa-napa. Terus Mbakmu bilang itu modus penipuan dan Mas Gun menghubungi teman terakhir di status facebookmu.”

“Modus penipuan telepon?”

“Iya jam 4 pagi ibu mendapat telepon suaranya mirip dengan kamu, menangis katanya baru nabrak orang dan meninggal. Kemudian ada orang mengaku dari kepolisian katanya mau membantu menyelesaikan secara kekeluargaan.”

“Ibu percaya?”

“Siapa yang ngga percaya kalau, kamu kan ngga di sini.”

“Terus?”

“Pas udah tahu penipuan sengaja aku ulur-ulur waktu. Bilang kalau ibu ngga ngerti transfer duit karena tinggalnya di kampung. Terus disuruh kirim pulsa dari 6 juta, 4 juta akhirnya 1,5 juta. Penipu juga pesan ngga boleh ngomong dengan siapa-siapa karena kalau mau diselesaikan cepat.”

“Jadi sampai berapa jam ditelepon?”

“Dua jam , sampai jam 6 pagi. Aku sempet ngaku ke pangkalan ojek nyari konter hp ngga ada yang buka. Terus di jalan sempet pingsan karena panik dan dibawa ke klinik.”

“Yang nelepon percaya?”

“Percaya, secara ibu ngomong kan orang kampung. Penelepon sudah mantep di atas angin bakal dapat mangsa.”

“Jadi dua jam nelepon?”

“Kadang aku tinggal ke kamar mandi, ke dapur , sholat dan terakhir nyapu halaman. Lama-lama peneleponnya marah-marah kok lama banget. Ya sudah ibu kasih tahu kalau sebetulnya kamu ngga punya motor dan lagi di Malaysia. Setelah itu ibu di maki-maki lewat sms.”

“Hahahahhaha…”

“Alhamdulilah kamu baik-baik.”

“Bu, pokoknya kalau aku lagi di perjalanan lihat saja facebook aku. Selama masih up date status berati aku baik-baik saja.”

“Iya tapi kalau ngga ada sinyal internet apa kamu bisa up date status? Orang tua selalu mengkhawatirkan anak-anaknya. Besok kalau jalan ke luar negeri, beli kartu lokal, minimal bisa sms kalau ada kejadian seperti ini.”

“Iya Bu…” Jawab tanpa tak membantah.

Terkadang sebagai seorang single – bukan jones – saya merasa sangat bebas untuk pergi (jalan-jalan) tidak perlu berpamitan kepada siapapun.

Pergi ke Malaysia long weekend lalu bukannya tidak bilang ke ibu tapi pamitnya seminggu sebelum keberangkatan. Mungkin Ibu lupa kalau saya travelling.  Idealnya sebelum keberangkatan menelepon atau mengirimkan pesan pendek kepada orang-orang terdekat, sehingga modus penipuan yang kerap terjadi bisa diminimalisir.

Teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika pertama kali memanggul ransel menjadi backpacker. Hampir dua jam sekali Bapak menelepon saya atau mengirimkan pesan singkat. Kadang isinya tidak penting dan membuat saya kesal seperti menanyakan sudah makan atau belum.  Sayapun membuatkan bapak akun facebook dan berpesan kalau saya masih up date status berarti masih baik-baik saja.

Mungkin bapak agak sedikit lebay tapi itu bentuk kasih sayang kepada anak-anaknya.  Dan  mungkin berdasarkan pengalaman beliau yang hampir menghabiskan seluruh  waktu kerjanya di lapangan dan jalan.

Bersenang-senang saat liburan tidak ada salahnya tapi memberi kabar secara kontinyu kepada orang terdekat, agar sama-sama tenang dan senang.

48 pemikiran pada “Kabar Buruk Saat Liburan

  1. Buat para traveller, ngasih tau orang terdekat/keluarga memang wajib yo Dan. Inget 127 hours punya James Franco, dia kejeblos di bebatuan dan gak ada yg nyarii..
    Keep safe ya Dan!

    Suka

  2. Bersenang-senang saat liburan tidak ada salahnya tapi memberi kabar secara kontinyu kepada orang terdekat, agar sama-sama tenang dan senang.

    Setuju banget walau aku sering lupa haha

    Suka

  3. Trims kak D. Aku kadang suka lupa kasih kabar ke rumah, parahnya aku jarang update status di socmed sedang apa dimana sama siapa berbuat apa… Padahal keluarga (orang tua) tentu tetap butuh kepastian kalo anak lajangnya ini baik2 saja…

    #introspeksi

    Suka

  4. akupun termasuk yang suka lupa ngasih kabar keluarga kalo sedang dalam perjalanan. Padahal inget banget dulu orang tua sampai ngga bisa tidur nungguin kabar anaknya yang sedang bepergian. Mungkin ini bisa jadi pelajaran juga buat aku

    Suka

  5. Wah Mas Danan, syukurlah Ibunya nggak ketipu. Jahat banget ya mereka yang menipu itu, tapi aku kadang ga paham, gimana mereka riset mencari mangsanya. Kok tahu kalau Mas Danan pergi dan ga bisa dihubungi? Apa cuma kebetulan aja?

    Suka

  6. Ini postingan ‘nampar’ aku juga loh, Mas Danan. Terkadang gak cuma gak pamit, tapi juga beberapa kali berbohong kepada ibu/bapak anaknya pergi ke mana. Ngakunya ke Aceh, padahal Chiang Mai. Ngaku ke pantai2 di Sumatera Utara, tahunya lari ke provinsi lain.

    Tapi sekarang udah tobat, gara-gara pas ulang tahun sekaligus hari dimana Taifun Haiyan menerjang. Ibuku orang pertama yg SMS, isinya gak cuma doa panjang umur dan sehat2, tapi juga selamat dari bencana supaya cepat balik ke rumah. Sejak itu selalu ngabarin adek untuk diteruskan ke Ibu-Bapak kalo traveling. Tobat 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s