Penantian Sahabat

New Image
Jikalah perempuan layak untuk membidikan panah asmara, maka sempurnalah kata emansipasi. Kutahan rasa dalam rajutan persahabatan tak berujung . Berharap rasa mu tak hanya cinta , tapi janji suci pria di hadapan Tuhan.


***

Kupandang benda ajaib hadiah pernikahan mas Beno. Telepon selular berwarna merah menyala, layarnya biru muda menggoda. Suaranya nyaring terdengar gemerincing melantunkan polyphonic lagu kenangan kami berdua.

“Jadi tak akan ada surat dan puisi cinta yang kau kirimkan tiap minggu?”

“Untuk apa jika bisa kubisikan setiap saat?”

“Bagaimana kalau di sms saja, agar setiap waktu aku bisa membacanya.”

“Wah 350 rupiah dikalikan berapa tuh? Bisa bangkrut nant.” Tergelak kami berdua bersama kebodohan dan kegagapan teknologi.

 

***

Laksana berita, nomor ponsel menyebar cepat dari kerabat hingga sahabat. Menulis pesan singkat menjadi hobi baru pemilik gadget. Konon lebih murah dibandingkan menelepon, tapi tetap harus berhemat menyingkat kata demi kata yang kadang sulit untuk dicerna.

“Diana kmu msh ingt, sy Arya yg di Jg dl. Blh sy tlpn?”  (Diana kamu masih ingat, saya Arya yang di Jogja dulu. Boleh saya telepon?)

“Deg!” Dia. Tapi apa mungkin dia?

“Tlpn sj tpi jgn skrg ak lg krj. 2 jam lg.” (Telepon saja tapi jangan sekarang aku lagi kerja)

Baru saja notifikasi pesan terkirim sampai, ringtone polyphonic berdering bagai masa lalu yang memanggil.

“Hallo ini Arya, masih ingat nggak?” Suara serak diujung sana meyakinkan bahwa ini bukan salah orang apalagi salah sambung.

“Hai Arya apa kabar. Darimana tahu nomor ini?” Tanyaku basi-basi menutupi kegugupan , sensasi senang luar biasa.

“Ah panjang ceritanya, yang jelas dunia ini memang selebar daun kelor, sempit banget.” Disusul gelak tawa semakin membangkitkan kerinduan.

Basa-basi berubah menjadi obrolan penuh kehangatan. Kami berkisah tentang masa lalu yang tak jemu untuk dikenang. Terbayang anak lelaki berseragam putih merah di hari pertama penataran P4 SMP. Kami tumbuh bersama di organisasi berlambang cikal pohon kelapa. Belajar tentang alam sampai menjejakan kaki di gunung Dempo dalam pendakian epik dua sahabat. Aku dan dia sahabat.
Kepercayaan diri lelaki tak abadi. Arya menjauh sejak tak diterima di SMA favorit. Cobaan hidup kembali memporak-porandakan masa remajanya. Ayahnya yang orang tua tunggal wafat meninggalkan Arya dan adik-adiknya. Lengkaplah nasibnya kini menjadi yatim piatu dan menggantungkan hidup kepada sang paman. Tak ada lagi waktu untuk bermain di alam bersamaku apalagi mengutarakan isi hati. Aku yakin ia memendam rasa itu.

Tuhan punya rencana tak terduga atas dirinya.  Arya diterima di kampus ternama di Jogja. Dari surat-suratnya aku melampaiskan impian yang tak tergapai kuliah di kampus biru. Menyimak jejak langkahnya turut serta menentukan nasib bangsa ini. Berdiri di garda depan reformasi, berdemontrasi , berorasi penuh semangat. Rasa percaya diri itu kembali berkobar. Ini Arya yang kukenal dulu. Namun apakah ia berani mengatakan seutas rasa itu?

Stasiun Tugu menjadi saksi pertemuan kami. Lelaki kecil bersuara lantang bermetamorfosis menjadi pria dewasa. Aku diberlakukan bagai putri raja , berkeliling tempat terbaik kota pelajar.  Dikenalkan sebagai teman istimewa kepada semua orang namun tak ada ungkapan cinta. Aku ragu akan rasa ini, apalagi rasanya. Mungkinkah ia hanya menganggap teman, tidak lebih.  Dan ujung penantian pun berakhir sampai kami berpisah di stasiun Tugu.

***

“Bu dia melamar saya?” Mata  tak berkedip membaca pesan singkat tak terduga.
” Beno?.  Bukankah keluarganya sudah datang dua minggu lalu?

“Bukan tapi Arya.” Ibu mengambil telepon selular lalu membaca deretan pesan singkat seksama.

“Dia tahu kamu akan menikah lusa?”

“Tidak, aku lupa.”

“Lupa atau terlalu asyik mendengar kisah suksesnya”, sindir Ibu.

“Ibu…” Kalimat tak berkenan tertahan meluncur,  tak ada gunanya membela diri. Meski tak pernah berharap memilikinya percikan rasa itu kembali . Pelan-pelan aku menikmatinya.
“Takdir terkadang tak pernah berpihak pada cinta pertama. Ibu tahu penantianmu.” Suara ibu terdengar dalam penuh kebijaksanaan

Sekali lagi keheningan datang tanpa diundang.
“Pernikahan bukan tentang cinta tapi pilihan hati. Tak layak jika sudah menetapkan seseorang tapi hatimu bercabang. Siapa yang kau pilih?” Ibu beranjak pergi meninggalkanku dalam tanya besar.

***

Arya maaf ak ga bisa mnk dgn kmu, lusa ak akn mnkh. Kmu telat (Arya maaf aku nggak bisa menikah dengan kamu , lusa aku akan menikah)

Slmt Diana, maaf aku ngg thu kmu mau nikah. Jdi ngg enak nih (Selamat Diana, maaf aku nggak tahu kamu mau nikah. Jadi nggak enak nih)

Kok kmu ga nembak aku dr dulu. Kmu thu kan prasanku? ( Kok kamu nggak nembak aku dari dulu. Kamu tahu kan perasaanku?)

Ak minder dg kmu yg sklh di SMA favorit. Sblm suks ngg blh pcrn olh pmn. (Aku minder dengan kamu yang sekolah di SMA favorit. Sebelum sukses nggak boleh pacaran oleh paman)

Mstnya ak yg minder skrg kmu sukses. sudah s2 jadi staf mentri. (Mustinya aku yang minder sekarang kamu sukses. Sudah strata 2 dan menjadi staf mentri)

Ak kaya gn krn kmu. Srt srt kmu bkn ak smgt. (Aku kaya gini karena kamu. Surat-surat kamu bikin aku semangat)

Maaf ya :). Klau kt tak berjdh mkn nnti ank kt berjdh (Maaf ya *tersenyum*. Kalau kita tak berjodoh mungkin nanti anak kita berjodoh)

***

Kugandeng lengan mas Beno menuju pelaminan megah.  Mantap kujabat tangan pasangan berbahagia itu.

“Jadi kan kita besanan?” Kulirik Arya dan istrinya yang kini jadi raja-ratu sehari.

~selesai~

11 pemikiran pada “Penantian Sahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s