Curahan Travelling

Saya Ingin Jalan Kaki

Selain hemat jalan kaki itu sehat
Selain hemat jalan kaki itu sehat

Rasa-rasanya hak sebagai pejalan kaki di negeri makin tak dihargai. Bukan karena banyaknya trotoar yang berubah menjadi tempat parkir atau pedagang kaki lima. Tapi celoteh orang-orang yang menghakimi ketika  memilih jalan dibandingkan naik taksi atau ojek.

Maaf tulisan ini bukan untuk memojokan profesi tertentu. Sebetulnya rasa tak nyaman ini sudah saya rasakan ketika pertama kali menjejakan kaki di kota Jambi. Baru jalan beberapa langkah tukang ojek memanggil-manggil sambil bertepuk- tangan. Ketika saya menjawab tidak dengan sopan beberapa langsung diam tapi ada yang tertawa dan mencibir. Mencoba mangabaikan tapi lagi-lagi baru berjalan beberapa puluh meter terjadi hal yang sama.

Di Bandar Lampung, kota tempat saya dilahirkan tidak pernah menjumpai hal seperti ini. Jadi agak shock juga mendapat perlakukan yang tak nyaman. Beruntung di kota Jambi tidak menetap hanya numpang parkir sebelum dideportasi ke hutan.Bagaimana dengan Batam? Tidak jauh berbeda dengan Jambi. Keluar dari pusat perbelanjaan sekumpulan tukang ojek menawarkan jasanya dengan berteriak-teriak. Saya kira jika konsumen membutuhkan akan mendatangi tanpa perlu dipanggil atau dihadang.

Bagi saya jalan kaki sebuah ritual yang tidak dapat dilewatkan untuk mengenal kota baru. Secara berlahan indra visual akan meng-capture setiap sudut kota dengan baik. Walau terkadang berisiko, tapi yakinlah dengan penampilan tidak keren akan jauh lebih aman. Tapi resikonya dipandang sebelah mata oleh orang yang hanya melihat tampilan fisik.  Jadi ketika menolak jasa taksi atau ojek pasti orang akan berpikir, kere keabisan duit.

Dianggap kere jelas tidak membuat sakit hati tapi merasa tidak dihargai sebagai pejalan kaki jelas-jelas bikin bete. Saya cuma mau jalan kaki dan tidak menuntut trotoar lebar atau lampu jalan terang benderang. Cukup diabaikan saja kalau ada mas-mas ganteng lewat. Catat saya yang ganteng aja digodain tukang ojek, bagaimana mbak-mbak yang cantik.

Dengan mata kepala akhir pekan lalu melihat kejadian tak berperikemanusiaan. Seorang ibu turun dari angkutan umum sambil menggendong anak dan menggapit tas besar dipundaknya.  Dengan basa-basi berlebihan tukang ojek dan taksi menawarkan jasanya. Ketika ditolak mereka mentertawakan si ibu yang kesulitan berjalan menuju halte. Apakah ketika mengejar rejeki kita harus menanggalkan empati.

Ngetok alias mukul harga mahal menjadi modus yang paling sering dijumpai. Terlihat sebagai pendatang atau orang asing akan menjadi sasaran empuk tukang ojek nakal. Mencoba terlihat menjadi penduduk lokal salah satu solusinya. Lalu tawar dengan sedikit kejam. Kalau saya daripada dikejar-kejar tukang ojek memilih duduk di warung sekaligus melihat situasi. Apakah lokasi yang dituju dapat dicapai dengan berjalan kaki. Jika naik ojek mahal pilihan terkahir, maka akan menyerah. Tetapi jalan kaki tetap prioritas utama.

Berjalan kaki atau naik kendaraan itu pilihan. Kita tidak tahu kemampuan ekonomi setiap orang. Mencibir dan mencemooh seolah memaksa siapa saja untuk tidak berjalan kaki dan menggunakan jasa anda. Maaf Pak yang anda jual itu jasa, siapa yang mampu memberikan pelayanan terbaik itu yang akan diingat konsumen. Saya tahu bahwa mencari rejeki itu butuh perjuangan, tapi kalau yang anda lakukan seperti sekarang apa bedanya dengan pemalak.

 

 

 

38 komentar

  1. Mau jalan kaki atau kendaraan, ya suka2 kita dong ya 😀 . Aku sih lebih memilih jalan kaki krn bisa lihat mengamati banyak hal sepanjang jalan, termasuk melihat pemandangan bunga2 atau tanaman dijalan 🙂 .

    Suka

  2. cuekin aja mas.. atau cukup dengan lirikan sinis..hahaha..
    eh, ini semacam kita belanja di emol, yg terus terusan dibuntutin sama spg, padahal kita mah mau nyari2 yg cucok.. ish! sebelnya pake banget ya maaaaaas…

    Suka

  3. Kalau di sini, bapak2 tukang becak dan ojek masih sopan kalau menawarkan jasanya. Mbak Yusmei jg takjub bagaimana mereka tertib menunggu giliran saat ngetem di lokasi obyek wisata.

    Tapi yg agak2 bikin “nelongso” itu pandangan soal berjalan kaki. Pernah suatu kali aku sama adekku jalan kaki ke pusat perbelanjaan (yg deket banget dari rumah), eh ketemu temen lewat trus ditanya “kok jalan? motormu mana?”.

    Kebanyakan orang ini masih berpikir, jalan kaki itu sebuah keterpaksaan. Kalau ga ada motor/mobil, ya berarti ga punya duit buat bayar becak.
    Padahal, jalan kaki kan pilihan ya Om #GolekBolo

    Suka

    1. padahal jalan itu terobsesi olahraga biar langsing :D. Aku pikir org indonesia manja bener, jalan ke Indomaret depan rumah aja pake motor. Aku jalan pp kantor-kosan tiap hari banyak yg takjub, kan jauh… ya ampun ini mah deket ga ngabisin lemak di pinggang se ons

      Suka

  4. Tukang ojek emang suka ada yang ngeselin, apalagi yang ngegetok harga atau pura-pura gak punya kembalian (terus duit kita dibawa semua). Kalau kesel dgn harga yg mereka tawarkan aku nyetop taksi di depan mereka.

    Suka

  5. ahaayy klw ane mah biarin aja om kalu cuma di ledekin mah 🙂 . yang nga enak kalau ada unsur pemaksaan, nah yang kyak gtu tu paling nyebelin. pernah ngalamin di Padang daerah dekat simpang ulak karang padang, di paksaain tukang ojeg suruh naik, udah ngotol bilang nga mau, si tukang ojeg pun makin ngotot, alasan belum ada pelanggan, nga ada duit buat beli bensin dan sarapan, trus minta tolong agak naik ojeg nya sambil bentak bentak 😀

    Suka

  6. Mariii jalan kaki 🙂
    Jalan kaki lebih sehat, bikin badan singset, lebih menghayati apa yang dilihat di tiap sudut gang kecil. Mari jalan, ehh kok kaya judul film Mari Lari hihihi

    Suka

  7. Nah, bener nih kak. Kenapa sih orang yang memilih untuk jalan kaki dianggep gak mampu? (eh saya gak mampu2 banget juga sih). Dan pejalan kaki dianggap warga kelas bawah sehingga fasilitas yang dimiliki sangat2 minim. Itu dia kenapa kebanyakan teman2 yang pulang dari beberapa lama di luar negeri tampak kurusan. Hampir semua bilang “Soalnya gw di sana jalan kaki melulu”. Kalo di sini, ada yang malas karena fasilitas minim, ada yang malas karena takut dianggap kere seperti tulisan di atas, ada juga yang bilang males kepanasan. Coba deh trotoar kita dibikin mulus (saya pernah keseleo gara2 trotoar gak rata!), dilingkupi pepohonan rindang, dan trotoar tersebut tidak dipenuhi tukang jualan yang merampas hak kita. Pasti lebih banyak orang yang lebih ikhlas untuk jalan kaki. Andaikan. Saja.

    Suka

  8. hmm.. aku belum pernah sih ngalamin kayak gitu, dicibir/diledekin karena jalan kaki.. tapi memang belum pernah ke Jambi 😛 Walking is great, you just need to have the right shoes/sandals and prepare an umbrella! hahaha.. Hidup, jalan kaki!!

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.