Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca

Loh Liang - Pulau Rinca
Loh Buaya – Pulau Rinca

Nana di mana anak kambing saya. Anak kambing saya ada di Pulau Rinca. Wah kalo gini anak kambingnya bakal hilang dimangsa komodo. Karena meskipun luas pulau Rinca lebih kecil dari pulau Komodo tapi populasi komodonya jauh lebih banyak.

Pulau Rinca merupakan bagian Taman Nasional Komodo, ditetapkan sebagai situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Secara geografis terletak di sebelah barat pulau Flores dipisahkan oleh Selat Molo. Jaraknya dari pulau Komodo cukup jauh , kira-kira 3 jam pelayaran kapal tradisional – bukan speed boat. Sabana pulau Padar mendominasi pemandangan  dari pulau Komodo ke pulau Rinca. Pertemuan arus Selat Lintah, Pulau Padar dan Pulau Rinca membuat kapal  kehilangan keseimbangan. Untung nakoda bisa mengendalikan kapal membuatnya laju dan keseimbangannya stabil. Memasuki Teluk Kima air laut lebih tenang dan Clement tidak “terhuyung-huyung”.

Terhuyung-huyung kosa kata baru diperkenalkan Rani kepada Clement beberapa hari yang lalu. Semenjak jadi manusia perahu  semua aktivitas dilakukan di atas kapal mulai dari makan sampai tidur. Ternyata mas bule Perancis agak susah mencari padanan kata pusing dan kehilangan keseimbangan di atas kapal. Kata paling tempat menggambarkan kondisi di atas adalah terhuyung-huyung. Mungkin karena terdengar  aneh di telinga , Clement jadi kecanduan ngomong terhuyung-huyung. “Clement sedang terhuyung-huyung di atas gayung bareng ikan duyung”

Vegetasi pantai Loh Buaya merupakan hutan mangrove. Dermaga dan gapura kayu mengantar pengunjung memasuki zone inti taman nasional. Setelah berjalan sekitar 500 meter melalui dua patung komodo berdiri. Seekor komodo tampak  tertidur pulas di bawah pohon. Wah sepertinya ini jam tidur siang mereka. Bersama ranger Kuba Arisda kami menjelajah trek sedang. Tidak satupun komodo liar terlihat siang ini. Hanya seekor komodo jantan galau berat tertidur di bawah rumah. Tangannya cacat  akibat perkelahian berdarah memperebutkan gadis pujaan. Untung tak bisa diraih, malang tak dapat ditolak. Kasih tak pernah sampai dan harus kehilangan tangan (*untung bukan keperjakaan). Hikss, sedih ya kaya cerita sinetron. Semoga kisahnya diangkat  ke layar kaca dengan Ram Punjabi. “Komodo Jomblo Dalam Derita . Judul paling pas tuh Nan”, sindir Elyudien. Iya tapi ngomong jomblonya ga usah keras-keras dan pake ngelirik gue. Plak!!!

Beruntung kita ketemu penghuni lain Pulau Rinca Perkutut jawa (Geopelia striata) mondar-mandir centil di depan komodo galau. Tidak tahu modus dan tendesinya apa.Tapi ini burung beneran bernyali besar. Hmmm , burungnya apa nyalinya yang besar? Pertanyaan penuh ambigu menggoda imajinasi.

Memasuki hutan beberapa wisatwan melihat komodo kecil bertengger di atas pohon. Tapi pandangan saya teralihkan Maleo (Macrocephalon maleo) berjalan di antara semak belukar, burung endemik Sulawesi. Keunikan Maleo adalah ukuran telurnya  sangat besar. Konon burung ini akan pingsan setelah mengejan telurnya. Sadis bener perjuangan induk Maleo. Coba di caesar mungkin ga perlu sampe pingsan. 😀

Tiba-tiba di depan terdengar teriakan Evi meminta minyak angin dan Lucy terlihat muntah-muntah hebat. Waduh  Lucy  sakit , kehebohan pun terjadi. Setelah menghirup aroma minyak angin kondisi membaik. Ada apa dengan Lucy , apakah masuk angin atau kelelahan .

“Sebetulnya aku gak sakit. Tapi gak kuat liat kotoran kerbau di sini”, urai Lucy malu-malu. Jleb, ada kelegaan sekaligus kedongkolan mendalam.

Kerbau Liar terlihat cukup banyak di pulau Rinca dan kotorannya lebih banyak. Bayangkan (*tolong bayangkan) satu kali tembakan mungkin besarnya satu tampah penuh . Nah kalo sehari nembak tiga kali aja dan ada 500 kerbau. Wajar di beberapa spot kita agak kesulitan memilih jalan tidak terkontaminasi kotoran kerbau. Maunya sih ga nginjek tapi mana mungkin. “Duarrrrr”. Kaki ini terjebak ranjau darat sebelum sempat menjejakan kaki ke bumi.

No Paint no gain. Tidak kena ranjau tidak ketemu pemandangan keren. Menapaki salah satu bukit savana akhirnya sebuah pemandangan super keren terlihat, Teluk Kisam. Gugusan pulau-pulau kecil di belakangnya membuat keindahan semakin sempurna, mirip Raja Ampat. Pas bener buat foto pre-weeding . Di salah satu sudut  pasangan Pak Purwanto dan Ibu Lucia sudah berpose. Huaaaa banyak yang sirik nih. Di sudut lain Elyudien duduk sambil menerawang jauh, bulir air mata jatuh menetes. “Kangen bini ya El?”, mencoba memancing biar curhat. Elyudien menggeleng pelan. Terus?

“Engga gua sedih aja liat kebo di bawah pohon itu sendirian di tempat seindah ini, mirip loe Nan”, sontak El terlihat berayap sekaligus bertanduk dan bertaring serta membawa trisula. Puas loe yah?

Rencana singgah di pulau Bidadari gagal total karena terlalu lama di Pulau Rinca. Ketika melewati pulau ini matahari sudah condong ke barat dan ombak semakin besar. Saya berpikir seribu kali untuk berenang menuju pulau, trauma kejadian di pink beach kemarin.

Warna jingga di angkasa mengiringi kepulangan menuju Labuan Bajo. Penutup sempurna untuk trip dua pekan ini. Besok  akan  pulang dan berpisah. Eit tapi tunggu dulu , malam ini kita ada dua undangan makan malam. Pertama dari Frater Simon dan kedua dari Sela, teman couch surf Rani. Jadi setelah sampai di hotel kita cuma punya waktu setengah jam untuk bersiap- siap.

Savana Pulau Padar
Savana Pulau Padar
zone inti Taman Nasional Komodo Pulau Rinca
zone inti Taman Nasional Komodo Pulau Rinca
Komodo Galau
Komodo Galau
Ranger Kuba Arisda
Ranger Kuba Arisda
Perkutut jawa (Geopelia striata)
Perkutut Jawa (Geopelia striata)
Kerbau Liar
Kerbau Liar
Burung Maleo (Macrocephalon maleo)
Burung Maleo (Macrocephalon maleo)
Sabana di atas bukit Pulau Rinca
Sabana di atas bukit Pulau Rinca
Pesona pemandangan Teluk Kisam
Pesona pemandangan Teluk Kisam
hijau di antara sabana keemasan
hijau di antara sabana keemasan
senja mengantar kami pulang
senja mengantar kami pulang
sunset di Taman Nasional Komdo
sunset di Taman Nasional Komdo


Pulau Rinca , pula dengan jumlah komodo terbesar

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

34 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.