Meninjau Maninjau

Meninjau Maninjau
Meninjau Maninjau

Mari uji nyali di lintasan slalom test sepanjang 10 kilometer mulai dari Ambun Pagi sampai Maninaju. Tetap fokus , jangan tergoda keindahan danau  bawah sana.

Ahmad Fuadi – penulis novel Negeri 5 Menara – tidak  berlebihan menggambarkan keindahan desa Alif Fikri Chaniago, danau Maninjau . Air berwarna  kebiruan  di dalam ceruk raksasa menjulang menggapai langit biru berhiaskan awan. Hawa segar pegunungan menyeruak  masuk ke dalam paru-paru . Bunga liar warna-warni di pinggir jalan seolah menyemarakan suasana. Kamera kamipun tak kalah liar, mulai keluar jendela mobil. Rasanya tak sabar mengabadikan karya Agung Sang Maha Pencipta. “Pak berhenti pak….”, teriak salah seorang  stupid trip traveller. Tenang kawan bapak supir pasti tahu tempat paling pas buat berhenti.

Dan benar saja, dikelokan pertama tertinggi mobil langsung berhenti di depan kedai sederhana. Manusia-manusia berpakaian kuning keluar dari dalam mobil. Pemilik kedai sempat panik mengintip dari dalam, mungkin dia berpikir ada pejabat turun meninjau danau Maninjau. Kuning memang identik dengan pejabat di masa orde baru. Apalagi ini tahun 2013 jelang tebar pesona bagi semua partai , persiapan 2014.

“Kita bukan pejabat atau tim sukses parpol berlambang pohon beringin. Kita stupid trip traveller kebetulan dress code hari ini yellow melow hello kitty . Nah kalo kemaren tema kita green green hallo telephone berdering. Papar salah seorang anggota komunitas jalan-jalan . Si ibu langsung bengong, ga tau takjub atau kecewa. Tapi yang jelas harapannya sirna mendapatkan bantuan kredit mikro. Konon calon presiden dari partai kuning sedang giat-giatnya membagikan permodalan bagi usaha kecil. Oppps

Danau Maninjau memiliki legenda Bujang Sembilan. Berkisah tentang keluarga memiliki anak 9 orang bujang dan satu gadis. Sang gadis bernama Sani menjalin asmara dengan pemuda bernama Sigiran. Keduanya dituduh melakukan perbuatan asusila. Untuk membuktikan perbuatan terlarang keduanya melompat ke dalam kawah Gunung Tinjau. Jika mereka bersalah gunung tersebut tidak akan meletus tapi bila tidak bersalah gunung tersebut akan meletus. Ternyata Gunung Tinjau meletus dan membentuk kawah besar, lambat laun hasil letusan terisi air dan disebut Danau Maninjau. Dan kesembilan pemuda yang memfitnah berubah jadi ikan.

Danau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat memilik luas 100 km persegi dan berada di ketinggian 461 meter dpl. Spot terbaik menyaksikan keindahan danau berada di dataran tinggi bernama Bukit Lawang. Kawasan ini menjadi tempat olahraga paralayang. Untuk bisa menikmati sensasi melayang di atas danau dikenakan biya 600 ribu rupiah.

Doa ibu pemilik warung terkabul. Dinginnya hawa pegunungan membuat kami “stupid trip traveller” laper berat. Serabi ubi dan segelas teh hangat cukup mengganjal perut sampai jam makan siang. Jendela besar di dalam warung sengaja di buat tanpa jendela. Benar-benar memanjakan pandangan pengunjung.

Menuntaskan rasa penasaran kita berniat  turun ke danau Maninjau merasakan sensasi kelok ampek-ampek . Dan benar saja jumlahnya 44, tidak kurang tidak lebih. Mungkin kurangnya satu, kita tidak menginap di tepi danau. Fasiltas akomodasi cukup tersedia di sini. Suasannya mirip  tepi danau Kerinci, damai menyaksikan masyarakat beraktivitas.

Setelah touch down danau melanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi. Tapi nampaknya pendakian melalui kelok ampek-ampek lebih berat. Rasa mual tiba-tiba datang , apalagi di belakang cewek-cewek membahas artis penyuka sesama jenis.

Girls, ada ga sih pembahasan yang ga bikin mual, hoekssss.”

bagai ceruk menggapai langit
bagai ceruk menggapai langit
rumah dan pemandangan danau
rumah dan pemandangan danau
keindahan danau bagai lukisan alam
keindahan danau bagai lukisan alam
rombongan berpakaian kuning - pejabatkah?
rombongan berpakaian kuning – pejabatkah?
kedai berjendela besar
kedai berjendela besar

5 pemikiran pada “Meninjau Maninjau

  1. masih bagus yach …. ada mesjid dekat sini yg bangunannya super keren en aman dr gempa lho … lantainya marmer githu, kl gak salah biayanya 500rb/meter dech
    sayang terakhir taon lalu pas pulang dr kerinci lewat danau di atas udah gak eksotis lg cem dulu

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.