
Pesta duren semalam buat anak-anak BPM telat bangun. Harusnya pukul 07:00 WIB sudah jalan menuju Perapat. Tapi pukul 08:30 bus kita bergerak dari kawasan stadion di teladan menuju Prapat. Beberapa peserta sudah siap di TKP dari jam 07:00 tapi panitianya baru bangun, termasuk saya.
Prapat kota kecil di tepi Danau Toba memiliki pesona keindahan alam. Tidak mengherankan menjadi tujuan wisatawan mancanegara ke Indonesia untuk menyaksikan Danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara. Berjarak 176 km dari kota Medan tempat favorit warga bersantai dan berekreasi. Sarana tranportasi cukup memadai dari bus, travel sampai pesawat terbang. Tarif normal bus ekonomi Rp 25.000 dari terminal Ampalas atau Jalan Sisingamangaraja. Perjalanan menggunakan kendaraan bermotor membutuhkan waktu 4 jam . Penerbangan dari Polonia menuju Sibisa memakan waktu 30 menit.
Rasa kantuk kembali menyerang ketika bus meninggalkan kota Medan. Rekan BPM asik bercanda dan bercengkrama saya masuk dalam mimpi terdalam. Sisa mabuk duren semalam. Tidak terasa kota Tanjung Morawa – Lubuk Pakam – Pasar Bengkel terlewati satu persatu. Kesadaran kembali utuh ketika hawa pegunungan masuk ke dalam bus. Bukit hijau menggoda bersama jalan berkelok naik turun. Selamat datang di Perapat. Hati saya menjerit kegirangan , norak. Pertama kalinya menyaksikan Danau Toba yang tersohor sampai mancanegara.
Akhirnya merapat juga di Prapat. Sebagai kota tujuan wisata Prapat menawarkan beragam fasilitas mulai dari hotel berbintang sampai penginapan murah meriah kelas backpacker. Dari sini pelancong bisa menyebrang menuju Tomok dengan menggunakan kapal Ferry bertarif Rp 4.000. Bagi mereka yang membawa kendaraan standar seperti: kijang dan sedan dikenakan biaya Rp 95.000. Pelabuhan Ajibata terlihat sibuk melayani penyebrangan , di sini tempat berlabuh kapal ferry dan kapal motor. Jika menginginkan perjalanan dengan kapal motor dapat menuju Pelabuhan Tiga Raja menyediakan penyebrangan menuju onan runggu, nainggolan, tuk-tuk, tomok, dll.
Melalui pelabuhan Tiga Raja di sisi pasar kami naik ke kapal yang sudah dipesan. Kapal dengan panjang 25 meter dan berlantai bergerak berlahan menuju batu gantung. Objek wisata favorit di kota Prapat. Konon bentuk batu menggantung di atas tebing penjelmaan gadis bernama Seruni. Gadis galau memilih dijepit bumi karena akan dijodohkan oleh orangtuanya.
Kapal kembali bergerak menuju selatan menyusuri daratan Sumatra. Tujuan kami selanjutnya Air terjun Situmurun. Samar dari kejauhan terlihat air terjun di Pulau Samosir dibalik awan mendung tak kunjung hilang. Rintik hujan mulai jatuh mengiringi pelayaran kami. Tiba-tiba burung elang melayang di atas kepala menyuarakan lengkingan panjang. Seolah mengucap Selamat Datang di Danau Toba.









Horas Medan 2012 (part 1): First Food , First Step
Horas Medan 2012 (part 2): Stop di Tip Top
Horas Medan 2012 (part 3): Bertandang ke Rumah Tjong A Fie
Horas Medan 2012 (part 4): Petang di Masjid Raya
Horas Medan 2012 (part 5): Pan Cake Durian Plus
Horas Medan 2012 (part 6): Merapat di Perapat
Horas Medan 2012 (part 7): Air Terjun Situmurun
Horas Medan 2012 (part 8): Menuju Taman Eden 100
Horas Medan 2012 (part 9): Kebersamaan Backpacker
Horas Medan 2012 (part 10): Air Terjun Penutup
Horas Medan 2012 (part 11): Pelajaran Pagi Hari
Horas Medan 2012 (part 12): Istana Maimoon
Horas Medan 2012 (part 13): Harmoni Religi,Alam dan Kuliner

sambungannya om, segera, :))
SukaSuka
wakakkakka ini udah kebut2 nulisnya… tapi gimana mau kelar dapet satu baris bayangin makanan terus ngences… lap iler
SukaSuka
kayaknya harus ada trip wajib ke medan setahun 3x biar gak ngences nih,.. 😀
SukaSuka
tiga kali? saingan nanti dengan tante IIe :p
SukaSuka
Jangan khawatir.. Tante Iie 4x kok..
SukaSuka