Nostalgia PIP di Star FM

wawancara zoom di radio star fm
wawancara zoom di radio star fm

Pesan singkat rekan lama untuk wawancara radio swasta di Bandar Lampung, sempat membuat bingung. Tema movie maker Lampung menjadi topik pekan ini. Saya sempat berkelit bahwa saya bukan movie maker. Tapi dengan diplomasi rekan saya Aji Aditya bertutur, bahwa film indie yang saya buat bersama rekan kuliah mengukir sejarah perfilman di Lampung. Mendapatkan penghargaan di tingkat nasional.

Selepas magrib sayapun memenuhi undangan rekan lama. Menyambangi studio radio yang berada di kampus Universitas Bandar Lampung. Tidak disangka di sini saya bertemu dengan junior saya Ahmad Suhardi. Salah satu sutradara First Blood Jatisari. Sebuah film action komedi yang mengusung teknologi VFX editor. Bermodalkan Nikon D7000 film ini langsung mendapatkan ribuan viewer setelah diunggah di youtube  (http://www.youtube.com/watch?v=NMh5CfUyZlQ)

Di sini saya juga berkenalan dengan Danar, anak muda kreatif  Lampung yang memenangkan festival film indie dengan judul “Pancasila Biru”. Seru rasanya berkenalan dan berbincang dengan orang muda kreatif. Rasanya seperti sebuah nostlagia untuk berkarya.

Berikut kutipan wawancaranya:

Danan Wahyu Sumirat

Q : Bisa diceritakan bagaimana ceritanya PIP bisa lolos seleksi waktu itu?
A : Di tengah kegalaun skripsi yang tak kunjung selesai gw dan kedua temen gw (Era Hani Medisa dan Hendra Sinata) pengen bikin sesuatu yang beda.
Kita mimpi banget bikin film. Salah yg menginspirasi kita sebuah workshop singkat film dokumenter yang diadakan di Taman Budaya. Tapi mimpi tinggal mimpi , kita ga punya modal apa-apa buat wujudin semuanya.

Tahun 2004 untuk kesekian kalinya sebuah produk pasta gigi mengadakan lomba film indie. Formatnya kita mengirimkan ide cerita, lalu ide cerita terpilih bakal dapet wokrshop dan uang 15 juta buat bikin film.
Iseng-iseng kita buat 5 ide cerita, lalu mengirimkan dengan identitas yang berbeda. Dan ternyata ide cerita kita yang tidak lebih dari setengah halaman polio jadi salah satu 10 finalis close up planet movie comptettion 2004, dari 6700 ide yang masuk ke dewan juri.

Q :Setelah lolos dan masuk sepuluh besar,apa yg terjadi selanjutnya?
A : Setelah itu kita diundang buat mengikuti workshop singkat di Jakarta dengan mentor orang-orang besar di dunia perfilman Indonesia seperti:
Dimas Jay, Taba Sacha Bachtiar, Sentot Syahid, Upie Avianto, Nia Dinata, Indra Yudhistira, Hanung, Richard Buntario, Anto Sinaga dan Harry Dagoe.

Setelah sesi workshop masal kita dapet kesempatan workshop khusus daripembimbing. Kebetulan kita dapet pembimbing Nia Dinata, sutradara film Arisan. Kita sempat diajak ke studionya , untuk mengenal proses produksi lebih dekat. Karena jarak selama proses produksi bimbingan dilakukan melalui email, chatting, dan telepon.

Setelah film jadi akan diadu dalam kompetisi untuk memperebutkan pemenang terbaik dan favorit. Jujur kami tidak terlalu berharap, karena kita satu-satunya finalis dari luar pulau jawa dengan segala keterbatasan . Tapi pada akhir gelaran kita dapat kejutan, mendapatkan penghargaan Best Original Script.  Alex Komang, salah satu juri pada waktu itu, berujar,  ide cerita kita benar-benar orisinal dan sangat Indonesia. Mengangkat realitas sosial.

Q : Kalau proses syutingnya sendiri gimana?
A : Proses  syuting sendiri sebetulnya tidak terlalu ribet, karena ini film indie tapi kendala selalu ada. Syuting kita lakukan di dua tempat: untuk indoor di sebuah hotel di Bandar Lampung dan outdoor di Kampung Baru, belakang Universitas Lampung.

Kendala pertama yaitu mencari pemain , yang mayoritas perempuan. Kami sempat minta bantuan komunitas seni di kampus dan di lampung untuk proses casting. Tapi tak satupun orang yang percaya dan berminat mungkin karena latarbelakang “teknik” membuat orang sulit untuk percaya. Akhirnya untuk kami berdayakan  anak-anak kampus untuk terlibat dalam proses pembuatan film. Talent perempuan kita ambil anak-anak teknik kimia, mayoritas perempuan. Sedangkan untuk crew, kebanyakan rekan kuliah.
Kendala selanjutnya adalah kemampuan teknis. Pada saat syuting pertama di dalam ruangan , terjadi kesalahan besar. Kesalahan penempatan sudut lampu membuat pencahayaan buruk, semua gambar berawna kuning. Sehingga semua take kita ulang dari awal.

Kendala lainnya adalah editing dan proses convert dari format digital ke betacam sp, salah satu syarat format standar TV. Karena akan diputar di Transtv.

Q : Apa pelajaran penting yang diajarkan nia dinata thd kalian dalammembuat film,yg bisa dibagi kepada movie maker lampung?
A : Pelajaran penting adalah idealisme dan kerja keras. Teh Nia adalah seorang yang sangat idealis. Ketika proses syuting dia menganjurkanuntuk menggunakan lighting dua buah lampu berkekuatan 1000 watt.
Karena terbatasanya tempat penyewaan perlengkapan tersebut kita sempet nawar bagaimana kalo menggukan lampu 500 watt. Dengan ringan dia bilang kita bukan anak TK yang sedang belajar membuat film.

Ternyata proses terberat membuat film adalah praproduksi. Proses ini memakan waktu dua minggu lebih. Dari pengembangan ide cerita menjadi skenario sampai di breakdown menjadi lembaran jadwal, bugeting, dan beragam lembaran sheet untuk crew dan pemain. Tapi membuat proses syuting menjadi efisien.

Q : Siapa movie maker yang menginspirasi anda?
A : Nia Dinata, mungkin karena dia orang pertama yang memperkenalkan dunia film lebih dalam dan luas. Ternyata film tidak hanya merekam acting melalui komponen eletronik media audio visual. Tapi banyak dimensi lain yang tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya.

Q : Masih tertarik dan berharap bisa bikin film lagi?
A : Tertarik pasti, karena ide ide GILA terkadang masih muncul. Tapi sekali lagi film bukan karya individu seperti menulis atau fotografi. Kita melibatkan banyak orang dan bakat di sini. Semua crew kita sudah
terpencar, menjalani kehidupan dan karirnya di kotanya masing-masing.

Mungkin cara menyalurkan yang ide gila ini dengan menulis. Sesekali saya juga menulis beberapa cerita fiksi di blog untuk menyalurkan keinginan terpendam. Silakan mampir ke https://dananwahyu.wordpress.com

Q : Apa pekerjaan anda sekarang?masih movie maker?
A : Dunia saya sekarang jauh dengan dunia film, saya memutuskan untuk kembali ke dunia teknik dengan bekerja di sebuah perusahaan oil and gas. Sedangkan kedua sahabat saya Era Hani Media dan Hendra Sinata menjadi abdi negara di kampung halamannya dengan menjadi PNS.

Q : Bisa diceritakan beberapa ide cerita yg ingin anda wujudkan dalam bentuk film?
A : Dengan jadwal kerja fleksibel ( 2 hari kerja-1 minggu libur) hobi terbaru saya adalah menggembel ke tempat2 eksotis (pelosok) Indonesia atau kerennya disebut backpacker. Ternyata aktivitas ini banyak
memberikan pengalaman batin. Untuk sekarang yang sudah saya buat beberapa film dokumenter jalan-jalan dengan format sederhana. Dari film film pendek ini saya ingin memperkenalkan keindahan alam Indonesia.

Kalau project idealis adalah membuat film animasi yang kaya akan muatan lokal. Karena ini project yang paling mungkin saya lakukan seorang diri dengan segala keterbatasan SDM dan mitra. Tapi semuanya
terbentur oleh waktu

Q : Hambatan terbesar dalam membuat sebuah film bagus di Lampung?
A : Kalau hambatan dari luar, mungkin kurangnya komunitas dan apresiasi dari masyarakat kita. Kita tidak banyak memiliki wadah untuk generasi muda belajar film. Di Jambi tempat saya bekerja, universitas negeri
setempat memiliki UKM Cinema. UKM yang menaungi anak2 muda untuk belajar dan berdikusi film. Yang membanggakan dari komunitas ini mereka mampu secara swadaya membiayai aktivitasnya dari usaha PH yang mereka dirikan.
Kalau hambatan dari dalam mungkin rasa percaya diri. Saya yakin di Lampung banyak bakat besar terpendam. Tapi ga banyak orang yang mau bermimpi dan mewujudkan mimpinya. Seepertinya sekarang banyak tuh kompetisi film dengan format sponsorship seperti kita waktu itu.
Dan satu lagi pesan saya jika ingin kreatif buatlah sesuatu yang berbeda, jangan terjebak dengan pola pola yang sudah ada.

(Aji Aditya, 17 April 2012)

****

Ahmad Suhardi

Q : Apa itu jatisari first blood? Bagaimana ide ceritanya?
A : Jatisari First Blood adalah sebuah film Action Comedy dibuat oleh komunitas “Jatisarku”, berjudul demikian karena di buat di Jatisari, dan dalam film ini banyak terjadi penmbakan-penembakan sehingga berdarah-darah. Film ini dibuat di Dusun V Jatisari desa jatimulyo Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan.  Ini adalah film pertama yang dibuat “jatisariku”, semua personel masih belajar, bahkan kameramen baru pertama kali shoot dengan menggunakan Nikon D7000, Sutradara juga baru pertama kali memimpin film ini, editor, dan semua aktor adalah Pemula.

Ide cerita film ini sebenarnya simple, sirojuddin seorang VFX editor sekaligus sutradara menginginkan sebuah adegan yang ada tembakan-tembakan, agar menjadi sebuah Film Pendek, maka saya membuat sebuah script singkat yang menjabarkan alur cerita mulai dari berjalan di hutan dengan bantuan kompas, bertemu ”penjahat” mau di mutilasi, dan akhirnya menghilang lalu menembaki penjahat itu. VFX yang di tampilkan dalam film ini adalah : Ledakan dan menghilang, Tembakan, darah muncrat, tanah terkena tembakan, dan air muncrat saat membelah Dugan.

Q : Proses pemubuatannya sendiri bisa diceritakan?
A : Jatisariku menggunakan kamera DSLR Nikon D7000 dengan tambahan rig buatan sendiri supaya Kamera lebih stabil. Beny baru pertama kali ini menjadi kameramen, kamera ini tidak memiliki auto focus, sehingga focus dilakukan dengan manual, hasilnya ada beberapa scane yang blur.

Pada tanggal 15 Okrober 2011 Saya mengundang beberapa mahasiswa Teknik Elektro untuk casting sebagai actor JFB (Jatisari First Blood), saat itu siapa saja yang berani akting maka langsung diterima sebagai aktor JFB. Crew memulai syuting jam 16:00 di areal persawahan Kampung Jatisari, kampung saya di Lampung Selatan, karena hanya ada satu Kamera maka dalam sebuah adegan bisa diulang sampai beberapa kali untuk mendapatkan angle yang berbeda.

Properti yang kami gunakan adalah peralatan pertanian konvensional seperti arit, Bogem, Gergaji, Golok, Gunting, Kampak, Gergaji tangan, dan gergaji besar

Tim mengalami kesulitan dalam mengajarkan akting kepada para aktor, karena semua aktor Pemula, beberapa kali harus diulang ”shoot”nya hingga mendapatkan ekspresi yang agak Lumayan, hingga akhirnya syuting selesai pada saat Azan Magrib berkumandang.

Setelah film selesai, Siro memberikan VFX pada beberapa scane dengan menggunakan software Adobe After Effect 5, VFX yang dihadirkan adalah Ledakan lalu menghilang, Tembakan, darah muncrat, tanah terkena tembakan, dan air muncrat saat membelah Dugan. Proses penambahan effect tersebut bisa berlangsung selama seminggu, setelah VFX selesai, lalu teman saya Beny baskoro Jatisari menyusun scene demi scene menjadi sebuah alur cerita sesuai script dengan menggunakan Software Sony Vegas Pro. Beberapa sound effect dan soundtract di tambahkan agar film ”kampungan ini benar2 bisa ”hidup”, siro menambahkan credit di akhir film lagi-lagi bertujuan agar film kampungan ini tampak seperti film sungguhan. Akhirnya pada tanggal 27 Oktober 2011 film ini kami rilis  di Youtube dan bisa ditonton di seluruh dunia.

Untuk mengundang pemirsa agar menonton film tersebut, maka tim jatisariku menggunakan sosial media seperti Kaskus, Twitter, Facebook, bahkan SMS sebagai sarana Promosi, untuk saat ini, alhamdulillah, viewer berjumalah 2.300-an Viewer.

Q : Anda sendiri dalam membuat film ini terinspirasi siapa?
A : Terus terang, kami terinspirasi Rambo dan Frediew, Frediew banyak mengembangkan film-film pendek bernuansa VFX tembakan, dan setelah kami searching ternyata film Rambo juga berjudul First Blood, mohon maaf kami jarang sekali menonton film, jadi tidak paham dengan judul-judul film, sebelummnya kami tidak tahu ada film Rambo yang berjudul First Blood, Judul First Blood adalah ide Siro, supaya terkesan Kampungan maka di tambahkan Jatisari di depannya.

Q : Apa film favorit anda yang menginspirasi anda sangat ingin bikin film?
A : kami sangat gemar sekali menonton film-film action tembakan, dan film yang jadi inspirasinya adalah “Saving Private Ryan”.

Q : JFB akan dibuat sekuel.kenapa harus ada sekuel?
A : Setelah kita release di youtube banyak pemirsa yang menanyakan maksud film ini, banyak yang mengeluhkan bahwa film ini ceritanya tidak jelas, terutama maksud si aktor membawa kompas, sebenarnya apa yang dicari aktor.

Oleh karena itu kami mencoba menyusun script ”Jatisari First Blood Reloaded” sebagai kelanjutan Film ini. Di JFBR akan mencoba menerangkan kepada penonton sebenarnya apa sih yang di cari si Aktor., Syuting JFBR sudah diselesaikan pada 27 November 2011, sekarang sedang tahap editing, semoga 21 April 2012 kita bisa menayangkan film JFBR di youtube, mohon doanya dari teman-teman semuanya.

Q : Akan seperti apa sekuelnya JFB?
A : Jatisari First Blood Reloaded sebagai sequel JFB akan menjelaskan ”pencarian” si Aktor, dan akan lebih ”Berdarah-darah” dari JFB. Akan banyak VFX-VFX baru di sini, termasuk beberapa VFX yang baru dipelajari siro diantaranya yaitu ”Time Freeze” akan coba kami suguhkan di Jatisari First Blood Reloaded. Kami sedang tahap editing, jika nanti sudah release akan langsung kami upload Full Version-nya di youtube, sehingga pemirsa bisa melihatnya.

Sebenarnya script Sequel yang ketiga sudah saya buat  jika kelak sequel ketiga ini bisa direlease maka penonton akan tau siapa Aktor,  dan kenapa aktor membelah Dugan, dan jika ketiga Squel ini disatukan maka akan tercipta film Action dengan Durasi 30 menitan.

Pimpinan Jatisariku pernah membayangkan: jika JFB bisa diangkat ke Layar Lebar maka ini ”sesuatu banget” bagi kami. Namun kami tidak tahu apakah sanggup merelease Sequel yang ketiga ini, karena Gita Muhammad sebagai camera Property sekarang sudah berada di Jogjakarta, Beny sudah Lulus Wisuda dan siap mencari kerja, sementara Siro sedang sibuk skripsi dan target dia wisuda adalah Juni 2012. jadi yang tersisa tinggal saya yang kesehariannya sibuk sebagai karyawan Swasta. Tapi jika ada dukungan dari komunitas lain yang bisa membantu Jatisariku dalam merelease Sequel ketiga, maka tim Jatisariku siap menggarapnya.

Jatisariku tidak mendapatkan fee apapun dari instansi lain, kami menjalaninya karena hobi dan idealisme dalam membuat sebuah film. Tim tau untuk sekarang ini kegitan kami tidak menghasilkan, tetapi Pimpinan tim yakin dikemudian hari film-film kami akan membantu ”mensejahterakan” seluruh anggota tim.

Q : Ada rencana membuat film bergenre drama?
A : Untuk Drama kami kurang tertarik karena jatisariku tidak memiliki aktor atau aktris yang mumpuni untuk adegan dialog, kami masih da;am tahap belajar. Selain Sequel JFB, saya  juga sudah menulis beberapa script Film Pendek tentang ”Jembatan”, Script-script Film Komedi Singkat, dan beberapa script ”Belajaran” lainnya.

Q : Coba berikan contoh ide cerita yg sudah ada di benak anda dan siap untuk difilmkan!
A : Di Jatisari ada Jembatan yang sudah 6 tahun rusak, saat ini jembatan tersebut menggunakan batang pohon kelapa, belum ada tindakan kongkret dari pemerintah, dari kasus tersebut saya terinspirasi ingin membuat film tentang Jembatan, dimana dalam film tersebut saya akan coba tunjukkan kepada pemerintahan Desa, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi dan Negara Kondisi Jembatan tentang kondisi Jembatan tersebut, dan mencoba ”memohon” kepada pemerintahan tersebut agar memperbaikinya.

(Aji Aditya, 17 April 2012)

sumber:

http://simplemovie.blogspot.com

https://dananwahyu.wordpress.com/2010/02/26/pip/

2 pemikiran pada “Nostalgia PIP di Star FM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s