Keindahan Tak Berujung di Ujung Barat

“Banyak kok spot snorkling yang deket dari Lampung, ga usah jauh-jauh ke Sulawesi. Kamu sudah ke Ujung Kulon?” Itulah pertanyaan dan pernyataan yang cukup menyentil dari rekan kuliah saya.  Ada benarnya juga, dengan mempertimbangkan waktu dan budget Ujung Kulon menjadi tujuan trip kali ini sebelum memasuki bulan Ramadhan di bulan Agustus.

Memulai perjalanan dari terminal Rajabasa, saya memutuskan untuk naik bisa ekonomi Jurusan Bakauheni. Sekitar pukul 11:00 WIB sampailah saya di pelabuhan Bakauheni dan perjalanan dilanjutkan dengan kapal cepat menuju Merak.

Berdasarkan informasi dari adik tingkat yang berasal dari Pandeglang. Untuk bisa mencapai Labuan ada dua cara. Cara pertama dengan menggunakan angkutan umum kecil. Dari Merak kita bisa menumpang angkot Cilegon berwarna merah lalu berhenti di simpang dan berganti dengan angkot jurusan Anyer. Setelah sampai Anyer perjalanan bisa dilanjutkan kembali dengan menggunakan angkot Jurusan Labuan. Namun cara cukup rumit dan beresiko karena kendaraan tidak tersedia sampai malam.

Meskipun agak memutar saya memilih alternatif perjalanan kedua. Dari pelabuhan Merak saya menuju Terminal Pakupatan. Dari Terminal Pakupatan saya naik Bis Asli Prima Kalideres-Labuan. Berdasarkan informasi yang saya peroleh bis ini tersedia sampe Pukul 12 malam.

Pukul 07:00 WIB saya sampai di pasar Labuan dan langsung menuju warung yang menyediakan seafood. Perjalanan Lampung-Labuan cukup menguras energi. Akhirnya saya memutuskan untuk istirahat sebentar di sebuah warnet di labuan dengan mengambil paket beberapa jam. Sambil menunggu group jalan-jalan “bababayu” dari Jakarta sayapun melelapkan mata sejenak dipojokan bilik warnet.

Sekitar pukul 02:00 rekan-rekan saya datang dan perjalanan dilanjutkan menuju sumur  menuju kampung sumur. Mulai memasuki daerah Tama n Jaya kontur jalanan menjadi lebih ekstrim. Tanjakan dan turunan membuat kami yang berada di dalam bis tidak bisa tidur nyenyak. Dalam kondisi gelap supirpun harus lebih berhati-hati melewati jalan berbatu yang berliku-liku.

Thanx GOD, jam enam pagi kamipun sampai di kampung Sumur. Aroma laut sudah tercium tapi ini bukan tujuan terakhir masih ada perjalanan panjang yang harus kami lalui. Setelah sarapan di rumah penduduk kamipun menyebrang dengan menggunakan kapal menuju pulau Peucang.

Satu jam pertama perjalanan pertama kami di suguhkan pemandangan Bagan nelayan bagaikan villa kecil di tengah lautan. Satu jam berikutnya adalah ketegangan di mana ombak mulai tinggi dan pecahannya menghantam lambung kapal membuat perjalanan ini semakin seru. Satu jam terakhir adalah kejutan dan keindahan ketika tiba-tiba segerombolan ikan terbang berterbangan melintas di samping kapal. Tampak dari kejauhan Ujung Barat pulau jawa menghijau terbingkai indah pantai pasir putih yang bersih. Dan samar-samar terlihat dermaga kecil di sebuah pulau dengan garis pantai panjang .  Lambat laun terlihat gradasi warna biru dan hijau di lautan membuat Peucang terlihat sangat cantik.

Pulau Peucang merupakan bagian Taman Nasional Ujung Kulon. Pulau dengan luas 3 hektar ini berada di Selat Panaitan kabupaten Pandeglang. Di pulau Peucang terdapat fasilitas penginapan dengan rate antara Rp 150.000 sampai Rp 800.000. Letak penginapan mengelilingi sebuah lapangan rumput yang luas tempat rusa dan lutung bermain. Jadi tidak heran jika banyak satwa berkeliaran di sekitar penginapan seperti babi yang selalu mengendus dan berkeliling mencari sisa makanan. Jika beruntung pengunjung juga dapat menyaksikan merak hijau atau banteng Jawa.

Setelah  makan siang perburuan keindahan bawah laut Ujung Kulon dimulai dengan menyusuri beberapa spot snorkling. Sampai di titik pertama tempat snorkling Cikuya, kamipun langsung disambut rombongan ikan kembung yang berenang lincah. Meskipun terumbu karang tidak terlalu jelas karena air laut keruh akibat hujan di pagi hari , spot pertama ini tidak terlalu mengecewkan.

Lanjut ke spot kedua yang berada di pulau Peucang. Awalnya kami agak ragu karena tiba-tiba ombak terlihat semakin membesar. Tapi karena spot ini tidak terlalu jauh dari pantai kamipun masuk kembali ke dalam air. Ternyata terumbu karang di sini tambah lebih jelas dibandingkan spot pertama. Tampak beberapa ikan “keeper” belang hitam putih melintas terumbu karang.  Tampak juga beragam biota laut seperti bunga tumbuh subur di atas terumbu karang.

Spot terakhir adalah Citerjun sebagai spot pamungkas untuk hari ini. Dengan kedalaman terumbu karang yang cukup dangkal, di sini terlihat terumbu karang lebih berwarna dan biota laut yang lebih beragam. Rasanya tidak ada puasnya menyaksikan keindahan bawah laut Ujung Kulon dengan bersnokling. Sayapun jadi penasaran seindah apakah laut dalam Ujung Kulon bila di ekplore dengan menyelam.

Usai bersnorkling kamipun mengelilingi pulau Peucang dan tepat di sebelah utara dapat menyaksikan karang Copong, sebuah karang mati yang berlubang. Tapi kami tidak bisa berlama-lama di peraiaran ini, ombak semakin besar dan awak kapal berkata jika berlama-lama di atas ombak seperti ini kita bisa mabuk.

Menjelang sore kamipun kembali ke penginapan. Awalnya kami berniat untuk treking melalu jalan darat menuju karang Copong untuk berburu sunset.  Tapi melihat ramainya satwa yang bermain di lapangan rasanya berfoto dengan satwa jauh lebih mengasikan.

Sorepun menjelang Peucang, walau kami tidak bisa menyaksikan sang surya tenggelam di ufuk barat tapi Peucang tetap indah dengan kilau redupnya langit. Berlahan-lahan sang surya tergantikan dengan bulan bundar berwarna putih. Membuat pesta barbekyu malam ini menjadi begitu indah. Tiba-tiba dua ekor babi hutanpun  menghampiri kami karena mencium aroma makanan. Rasanya Peucang bukanlah tempat yang cocok untuk berpesta di outdoor apalagi malam hari… nguik nguik (suara babi

Selepas subuh seharusnya kami trekking menyusuri pulau Peucang untuk melihat kekayaan flora seperti pohon Ara yang katanya unik dan indah. Tapi sayang beberapa rekan belum bangun. Akhirnya saya sendiri berkeliling pulau Peucang dengan menyusuri pantai. Sebetulnya agak sedikit was-was, takut bertemu dengan binatang berbahya seperti ular ataupun biawak. Makanya ketika menemukan jejak basah kaki Merak hijau  di atas pasir sayapun tidak berani masuk ke hutan  ketika jejak tersebut mengarah ke semak.

Sepertinya pagi ini saya benar-benar beruntung, ketika akan kembali ke penginapan tiba-tiba terlihat semburat kuning di awan. Wow ternyata sunrise dapat terlihat dari sini. Momen indah ini berlangsung tidak lama kira-kira hanya 15 menitan matahari terlihat sangat cantik di Peucang.

Setelah sarapan pagi kamipun langsung bergegas ke dermaga untuk melanjutkan trekking di Ujung Kulon. Sesampai di dermaga lagi-lagi dikejutkan oleh keindahan Pulau Peucang.  Awalnya saya mengira warna kehitaman di bawah kapal adalah karang atau rumput laut. Tapi ternyata ribuan ikan selar yang menghampar luas bergerak kian kemari.

Tanjung Layar adalah wilayah paling barat Ujung Kulon , untuk mencapai wilayah ini dibutuhkan 15 menit pelayaran dari Pulau Peucang. Dengan ombak besar dan tanpa dermaga kapal, kami harus menggunakan boat kecil dari perahu menuju pantai Tanjung Layar.

Setelah puas berfoto-foto di papan nama Ujung Kulon, trekking pun di mulai. Menyusuri jalan setapak di tengah lebatnya hutan berharap bisa bertemu dengan penghuni Ujung Kulon yaitu badak Jawa. Tapi sayang sepertinya sang badak adalah binatang yang pemalu. Karena sang pemandu bercerita sangat sulit untuk menjumpai hewan berbobot 3 ton. Jejak terakhir badak  yang sempat terekam oleh Jagawana, jejak badak bulan April. Dengan populasinya yang hanya 60 ekor dan sifatnya yang pemalu agak susah untuk menemukan penghuni asli Ujung Kulon yang satu ini.

Sekitar satu jam trekking menyusuri hutan tropis akhirnya sampailah kami di wilayah Mercusuar Tanjung Layar kami dapat melihat birunya Samudra Hindia dengan gugusan pantai dan pulau karang. Saya agak terkejut melihat mercusuar yang ada di sini. Yang ada di dalam bayangan saya, mercusar di sini terbuat dari bangunan beton menjulang tinggi. Tapi ternyata mercusuar di sini lebih mirip dengan tower BTS yang terbuat dari rangkaian besi baja. Di area sini juga terlihat beberapa alat pendeteksi gempa.

Setelah mengunjungi mercusuar perjalanan dilanjutkan mengunjungi beberapa pantai di Tanjung Layar dengan berjalan kaki. Pantai pertama menyuguhkan pemandangan bebatuan besar dengan ombak besarnya. Selanjutnya mengunjungi sebuah sabana luas dengan bukit karang menjulang, di ujung sabana ada pantai dengan batuan terjal yang indah. Terlihat hempasan ombak samudra menghantam liar dinding karang. Rasanya belum puas kalau belum mendapatkan gambar dengan pecahan ombak yang besar.

Puas ber-trekking ria kamipun kembali ke posisi di mana kapal ditambatkan dan bersiap kembali ke desa sumur. Hari ini benar benar berkeringat dan berpeluh tapi puas rasanya melihat keindahan Ujung Barat pulau Jawa. Selama dua hari di sini rasanya tidak henti-hentinya dibuat kagum dengan keindahan yang tak berujung di Ujung Kulon.

Rincian Biaya:

Bus Ekonomi Lampung-Bakauheni : 17.000

Kapal Cepat Bakauheni-Merak : 30.000

Bus Merak-Pakupatan : 10.000

Bus Pakupatan-Labuan : 10.000

Makan siang dan Malam Perjalanan : 30.000

Patungan Transport-Kapal-Akomodasi : 280.000

Sewa Alat Snorkling : 70.000

Total : 447.000

NB: thanx buat Baharudin Abu Bakar atas foto underwaternya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s