Setelah tertidur kurang lebih 2 jam akhirnya kami tiba disatu kota, duh sumpah ga tahu apa nama kota ini. Yang jelas sebelum sampai di kota ini jalannya agak hancur tapi agak terhibur dengan pemandangan yang indah. Sepanjang jalan di suguhkan pemandangan pantai di sebelah barat dan pegunungan di sebelah timur. Setelah melewati Maros dan sampai di Barru matahari sudah mulai nampak walaupun hujan mulai mengguyur. Sekitar pukul 08:00 pagi akhirnya sampai di kota Pare Pare dan di UMPAR (Univeristas Muhamadiyah Pare Pare) sudah menanti salah satu rekan asal Banjarmasin. Ide perjalanan ini berasal dari obrolan di sub forum salah satu forum internet terbesarIndonesia. Setelah melalui obrolan panjang, akhirnya terkumpul 7 backpackers asal jakarta , 1 backpakers asal lampung , 1 backpackers asal lampung, serta 1 orang backpakkers asal Makasar yang belakang tidak bisa bergabung karena kesibukan pekerjaan.
Setelah berputar putar di kota Pare Pare dan mengisi perut dan mencari ATM, perjalanan ke Toraja dilanjutkan. Setelah melewati kota Pare Pare kami tidak lagi disuguhkan pemandangan pantai dan pegunungan. Tapi jalanan berbukit dan berkelok kelok yang cukup curam kami lalui. Perjlanan serasa semakin seru ketika memasuki kabupaten Enerkang, hamparan pegunungan dan langit biru seolah menyambut kedatangan kami. Sekitar pukul 12 siang kami istirahat di Kedai yang masih berada di kabupaten Enerkang. Kedai dengan ornamen spanduk kata selamat datang dalam beragam bahasa ini menjadi pilihan wisatawan mancanegara dan lokal untuk beristirhat . Selain menjual makanan dan beragam sayuran serta rempah rempah kedai ini memiliki view sebuah gunung yang indah. Dari balkon atas dan atas kedai ini kita dapat melihat pemandangan sebuah gunung yang hijau lengkap dengan aliran sungai dan awan birunya. Orang biasa menyebutnya dengan “Gunung Nona” , memang sekilas tampilan gunung ini mirip payudara wanita. Menikmati secangkir kopi dan ditemani pemandangan indah membuat kami hampir lupa untuk melanjutkan perjalanan ke Toraja yang tinggal 2 jam lagi.
Ada yang unik cerita dari Pak Latief tentang pemilik kedai yang berusia 35 tahunan. Pak Latief bercerita bahwa wanita pemilik kedai ini menguasai hampir semua bahasa asing. Walaupun hanya sebatas percakapan sehari hari , saya kira itu adalah hal yang luar biasa. Pak Latief pun bercerita dia sudah menjadi supir travel sejak tahun 1976 dan kedai ini sudah berdiri dan dikelola oleh ibu pemilik kedai sekarang. Saya sempat tertarik untuk membeli rempah rempah kiloan seperti cengkeh, kopi dan kayu manis yang tertata apik , tapi perjalnan masih sangat jauh dan panjang. Inget ini backpack bukan travel jadi tepis dulu acara belanja….

6 tanggapan untuk “South Celebes Trip (part 3): Angkut Satu Lagi dari Pare Pare”