Kisah Kehidupan

TERLALU SEMPURNA

Aku sangat bersyukur dengan kehidupanku yang sangat sempurna. Tuhan memberikan hal-hal yang tak pernah kuduga sebelumnya. Perjalanan kehidupan percintaanku yang penuh liku ternyata berakhir dengan seseorang yang pernah mengenalkan arti cinta pertama kepadaku. Mas Adi, laki-laki yang aku kenal 10 tahun yang lalu di Sekolah Menengah Pertama . Tepat tiga bulan setelah aku menyandang gelar sarjana teknik kami bertemu kembali di acara reuni sekolah dan tepat tiga bulan berikutnya aku menetapkan hatiku untuk menjadi pendamping mas Adi. Banyak teman-teman kuliahku yang memprotes keputusanku untuk buru-buru menikah tanpa berpikir untuk berkarir terlebih dahulu. Namun aku sangat yakin dengan pilihanku ini. Tepat setahun pernikahan kami hadir buat cinta kami, Naila. Buah cinta yang sangat kami harapkan dan kehadirannya benar-benar membuat keluarga kecil ini semakin sempurna. Dan setahun kemudian hadir kemabli putri ke dua kami, Kaila. Aku benar-benar tak berhenti bersyukur kepada Tuhan atas kehadiran dua bidadari kecil ini. Walaupun beban ekonomi terasa berat memilik kedua orang balita aku tidak pernah mengeluh sedikutpun kepada kepada mas Adi. Hingga satu saat teman kuliahku Rina menawarkan aku untuk bergabung di perusahaan tempat dia bekerja. Ada rasa berat ketika harus meninggalkan anak-anak di rumah seharian bersama pembantu tapi di hati kecilku ada keinginan yang besar untuk membantu mas Adi menanggung beban ekonomi rumah tangga. Atas persetujuan mas Adi akhirnya aku memulai karirku sebagai Junior Sales Engineer di salah satu perusahaan asing. Sekali lagi aku benar-benar merasa sangat beruntung dikehidupan ini, Tuhan memberikan aku kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Dan satu yang terpenting, materi yang selama ini tidak terbayangkan olehku , kini mengalir tiap bulan ke rekening dan aku bisa membantu mas Adi menopang beban ekonomi keluarga bersama-sa,a. Benar-benar anugerah yang luar biasa , Tuhan benar-benar baik kepadaku

 

 

“Bunda nanti kita jalan-jalan ke Mall ya?” Celoteh si sulung Naila yang mulai berumur 4 tahun dari telepon selulerku…
“Ya…..Bun.”Terdengar si bungsu Kaila ikut-ikutan berteriak.
“Iya Nay.. Mama Janji.” Aku menjawab sambil membalas beberapa E-mail dari klien.
“Dah bunda….” Suara kedua putriku makin menggemaskan.
“Dah… muachhhhhh.” Tak sadar aku kucium telepon selulerku sambil membayangkan mereka.

Jalan-jalan, dahulu adalah hal yang paling jarang kami lakukan sekeluarga. Aku lebih memilih membeli susu untuk kedua buah hatikau daripada hanya untuk jalan-jalan di mall. Tapi sekarang aku bisa mengajak mereka bersenang-senang di mall dan membelikan apa yang mereka mau. Terbayang kejadian beberapa tahun yang lalu ketika harga susu naik, aku harus mati-matian mensiasati uang belanja dengan dan memangkas porsi makan kami berdua jadi setengah. Mas Adi protes sambil bercanda mengapa lauk telurnya menjadi setengah. Kondisi yang menyedihkan tapi tidak membuat aku dan mas Adi tetap bisa tertawa bahagia. Ternyata Tuhan benar-benar baik kepadaku.

“Twinkle-twinkle little star…….” Suara Naila dan Kaila bernyanyi yang kujadikan ringtone handphone membuyarkan lamunanku.
Ternyata Rina temanku menelepon dia bercerita bahwa ibunya mendapatkan serangan jantung mendadak dan dia harus pulang ke Surabaya sore ini.

“Ratna, plis tolong aku ya?” Pinta Rina tanpa basa-basi.
Dengan intonasi cepat dia menjelaskan bahwa nanti malem ada pertemuan penting dengan calon client besar. Dan aku di minta untuk menggantikan posisi dia menjadi negosiator. Aku sempat bingung dengan tugas ini. Selama ini aku hanya Junior Saler Engineer yang hanya memfollow up client-clinet lama dan belum pernah mendapat tanggung jawab sebesar ini.

“Wis lah, aku yakin kamu bisa.. yang penting jangan keluar dari 30%. Proposalnya sudah aku kirim ke E-mail kamu.” Rina menjelaskan dengan panjang lebar membuat aku main bingung.

Di tengah-tengah kebingunganku dengan tugas baru aku teringat janjiku dengan anak-anak. Tapi aku tidak bisa melepaskan kesempatan besar ini, kesempatan untuk belajar tugas dan tanggung jawab yang lebih besar sebagai seoarang Senior Sales Engineer. Akhirnya aku telepon mas Adi untuk membatalkan janji dengan anak-anak. Mas Adi tidak berkata terlalu banyak di telepon tapi aku tahu dari nadanya ada kekecewaan kepadaku. Tak lupa aku minta dukungan dan doa kepada mas Adi untuk menjalankan tugas besar ini

*************************

Hari sudah semakin larut tapi langakhku tak pernah lelah untuk segera sampai ke rumah dan kuayuhkan semakin bergegas. Rasanya tak sabar ingin membagi kebahagian ini kepada mas Adi dan anak-anak. Sesampi di rumah aku peluk dan cium mas Adi kencang-kanceng.

“Terimakasih mas atas doanya.” Aku berteriak tertahan tersadar suaraku akan membangunkan anak-anak.
Presentasi akhir dan negosiasi yang aku lakukan malam ini membuahkan hasil. Aku berhasil memenangkan tender besar yang nilainya mendeketi setengah trilyun. Sampai-sampai bos besar langung menyalamati aku melalui telepon malam ini, padahal beliau sedang berlibur dengan keluarganya di Singapur. Dengan penuh semangat aku ceritakan dengan sangat detail semua kejadian malam itu bagaimana aku meyakinkan bule-bule itu. Mas Adi mendengarkan semua ceritaku dengan penuh antusias walaupun aku dia sangat mengantuk karena semalaman menunggui aku. Tanpa tersadar akupun berbaring lelah di samping mas Adi tanpa tahu kapan aku mulai lelap tertidur karena malam ini tampak begitu indah. Karena aku tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan.

“Terimakasih Tuhan.” Aku lirih sambil tersenyum bahagia dalam mimpi. Mas adi menarik selimut dan menutupi tubuhku serta mengecup keningku dengan lembut

*************************

Lemari pakaian kuacak-acak rasanya tidak ada pakaian yang cocok untuk momen bersejarah ini.
“Rin…., aku pake apa ya?” Teriaku gemas menanggapi sikap Rina yang tidak pernah serius…
“Ratna, kamu tuh dah cantik. Pake apa aja pasti pantes… Dijamin ga ada yang nyangka bunturmu dah dua.” Suara Rini dari ponselku…
“Ya tapikan ini acara penting dalam hidupku. Tandatangan tender besar.” Suaraku makin panik dan serius
“Tapi kan semi formal Ratna… breakfast dan main golf. Coba degh kamu pakai kaos turtle neck lengan panjang warna birumu padu dengan celana panjang dan sepatu kets. Jangan lupa untuk jaga2 bawa blazer…” Suara Rini seolah-lah bagaikan konsultan mode dan aku mengangguk-angguk seolah mengerti

“Pagi-pagi, Hari libur keja juga Bun?” Suara mas Adi mengagetkan aku…
“Oh iya mas, Hari ini tanda tangan tendernya sambil sarapan dan maen golf” Jelasku sambil memilih pakaian yang disarankan Rina lalu aku berlalu ke kamar mandi.
“Ga apa-apa kan mas , hari ini aku tidak sampe sore.”Teriaku dari kamar mandi
“Oh engga jawab mas Adi tapi bagaiman janji dengan anak-anak?” Mas Adi mengingatkanku.
Aku keluar dari kamar mandi dan mendekati mas Adi.
“Janji mas aku ga sampe sore, nanti kita makan malam di luar bersama.” kuhampiri laki-laki itu dan kutatap matanya sambil menunjukan dua jari tanda berjanji.

***********************

Rencana hari benar-benar sempurna , tender besar sudah di tandatangai dan secara resmi bos besar mengangkatku sebagai Senior Sales Engineer dan mempercayakan aku proyek besar ini kepadaku. Kusandarakan tubuhku di salah satu sudut restoran cepat saji, menunggu mas Adi dan anak-anak.
“Bunda……….” Tiba-tiba dua anak kecil berusia 3 dan 4 tahun berhambur mengahmpiriku. Mereka tampak kangen dengan bundanya, karena sejak kemaren sore tidak bertemu dan mengobrol denganku. Dengan cekatan keduanya duduk mengapitku, mas Adi duduk di depanku sambil tersenyum puas.
“Aku mauuu ayam goreng kaya upin…”Teriak Naila…
“Aku juga…” Teriak Kaila.. ikut-ikutan. Mereka tampak sangat bahagia begitu juga mas Adi. Sedangkan aku tidak berehenti-hentinya bersyukur. Terimakasih Tuhan atas kehidupan yang semakin sempurna.

*********************

Tak terasa 6 bulan sudah aku menjalani tanggung jawab besar, masih tersisa setengah tahun lagi dari batas waktu. Kehidupanku benar-benar berubah, aku menjadi wanita super sibuk. Sepertinya tak ada waktu tersisa buatku, semuanya berjalan begitu cepat. Jika aku boleh meminta dengan Tuhan , aku mau sehari menjadi 36 jam agar aku punya waktu untuk mas Adi dan anak-anak.Tapi rasanya itu semua mustahil dan harus ada yang dikorbakan. Mungkin setahun ini aku menomorduakan keluarga dan memprioritaskan pekerjaan. Semua ini kulakukan demi kebahagiaan kami, aku ingin kemapanan ekonomi yang lebih sehingga aku bisa memberikan yang lebih bagi Naila dan Kaila. Aku ingin mereka mendapatkan kehidupan yang baik, pendidikan terbaik, faslitas terbaik dan semua yang terbaik.

“Bun, besok hari Kartini, Nai dan Kay ada acara karnaval di sekolahnya.” Mas Adi mengingatkan
“Iya mas, aku tahu. Aku sudah siapkan bajunya… Tadi aku dah bilang dengan bi Ijah.” Jawabku dengan malas
“Kalo buat aku mau dah siapkan..?”Mata mas Adi mengisyarakan sesuatu…
“Maaf mas aku ga bisa, aku benar-benar lelah.”Kubalikan badanku membelakngi mas Adi .

Belakangan ini aku merasa hubunganku dengan mas Adi kurang baik , terutama masalah komunikasi. Komunikasi yang kami lakukan tidak seperi dahulu setiap ada kesempatan, terutama sebelum tidur, kami selalu berdiskusi tentang kejadian satu hari. Sekarang kami tidak banyak waktu untuk itu dan aku cenderung memberikan solusi tercepat tanpa berdikusi panjang lebar. Seperti dua hari yang lalu ketika mas Adi mengeluh kalau dia sibuk dengan pekerjaan kantor dan merasa kerepotan untuk menjaga anak-anak. Langsung saja aku putuskan untuk menambah pengasuh baru. Energiku benar-benar sudah habis di kantor membuatku terlalu lelah untuk memikirkan detail urusan rumah tangga, termasuk kewajiban biologisku dengan mas Adi. Dia memang tidak pernah menutut lebih tapi aku lebih, sungguh suami pengertian. Tuhan memang baik kepadaku.

Tiga bulan terakhir ini urusan rumah tangga dan pengawasan anak-anak aku serahkan kepada seorang pembantu dan dua orang pengasuh. Kupantau mereka melalui telepon setiap jam, mungkin hal terbaik yang bisa lakukan sekarang. Sedangkan mas Adi ikut-ikutan sibuk dengan pekerjaannya, tak jarang kami berdua pulang lewat jam 11 malam. Dan rasanya semakin sedikit saja waktu kami sekeluarga untuk berkumpul berama. Hanya akhir pekan waktu kami untuk bersama dan biasanya aku habiskan dengan anak-anak jalan-jalan di mall. Dan mas Adi lebih memilih menunggu kami di foodcourt sambil mengotak atik laptop, benar-benar tidak waktu untuk berbicara dengan mas Adi.

Hari ini aku benar-benar gelisah setelah lebih 5 kali mencoba untuk menelepon rumah tapi tidak ada yang mengangkat. Kucoba untuk menelepon ke handphone pengasuhku tapi tidak aktif. Aku mulai panik selama 2 jam tidak bisa memantau rumah dan anak-anak. Kucoba buat menghubungi mas Adi tapi lagi-lagi handphoneya ikut-ikutan tidak aktif. Jam makan siang aku bergegas pulang untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Dan ternyata telepon rumah yang memang rusak , aku dapat bernapas lega. Aku sempat marah kepada pengasuhku yang tidak mengaktifkan handphonenya. Setelah kukencangkan kabel telepon, iseng-iseng aku coba menelpon mas Adi. Beberapa saat kutungga jeda nada panggil yang tidak diangkat, kuulang sekali lagi ternyata telepon diangkat. Tapi tak kudengar suara mas Adi, yang kudengar hanya suara napas dua manusia yang memburu dan mendesah. Aku tahu itu suara orang sedang apa? Aku mencoba untuk memanggil nama mas Adi berkali-kali tapi tidak terjawab. Rasanya tidak kuat mendengar suara itu terlalu lama Kubanting gagang telepon aku emosi dan berusaha untuk menangkan diri. Lima belas menit kemudian telepon rumah berdering kuangakat dengan sisa kesabaranku dan kucoba untuk mendengarkan.
“Hallo bi Ijah?, Ada apa bi? Yang tadi bibi kan? Jangan bilang-bilang ibu ya…” Suara mas Adi terdengar memburu dan cemas.
“Ini aku mas, Ratna.” Jawabku dingin membalas
“Hmm ha… hhu…, yang sebelumnya?” Suara mas Adi nampak gagap..
“Sudah mas, tidak perlu banyak bicara sekarang. Aku tunggu di rumah sekarang banyak hal yang perlu kita bicarakan.” Jawabku dingin mencoba tetap sabar.

Tepat setengah jam kemudian mas Adi sampai di rumah langsung kutarik dia ke kamar, ingin kulampaiskan semunya tapi tidak di depan anak-anak. Kutampar pipi mas Adi kuat-kuat tapi dia hanya diam saja. Dia berkata jujur bahwa tiga bulan ini memiliki hubungan khusus dengan wanita lain. Gilanya wanita itu masih berstatus siswi di salah satu Sekolah menengah Atas dekat kantornya. Dan yang lebih gila lagi wanita itu sekarang sedang dalam kondisi hamil. Aku benar-benar hampir kehilangan akal sehat mendengar pengakuan mas Adi yang terlalu jujur dan bodoh. Tapi untung aku dapat menguasai diri dengan baik, aku adalah wanita yang biasa bekerja di lingkungan laki-laki yang sangat mengutamkan logika bukan perasaan. Dengan tenang aku meminta mas Adi untuk pulang ke rumah orang tuanya dan menikahi pacarnya.
“Berikan aku waktu untuk berpikir dan menerima ini bukan mimpi.”Pintaku ke mas Adi dengan nada datar. Mas Adi memohon maaf tapi aku belum bisa menerima semuanya.

Aku mencoba untuk melupakan semua masalah keluargaku dan membenamkan diri ke dalam proyek yang mendekati deadline. Tepat sebulan dari kejadian memalukan itu aku memutuskan untuk pindah dari rumah ke Apartemen baruku yang jaraknya dekat dengan kantor. Biarlah aku kehilangan suami tapi aku tidak mau kehilangan anak-anak, aku ingin memiliki waktu lebih banyak dengan mereka. Pelan-pelan aku mulai memberi pengertian kepada anak-anak bahwa ayah dan ibunya tidak bisa bersama. Nampaknya si bungsu Kai yang agak susah menerima ini semuanya, tiap hari dia selalu menanyakan ayahnya dan puncaknya minggu kemaren badan Kai panas. Akhirnya aku memutuskan untuk mempertmukan anak-anak dengan ayahnya walupun hanya seminggu sekali.

Setelah melalui proses pengadilan yang panjang, hari ini putusan perceraian aku dengan mas Adi akan dibacakan. Aku memang menyerahakan semuanya kepada pengacaraku dan tidak pernah sekalipun datang ke pengadilan tapi untuk hari yang bersejarah ini aku wajib datang. Rencananya anak-anak akan kuajak untuk menyaksikan ini semua agar mereka bisa lebih menerima kenyataan yang terjadi tapi dengan alasan psikologis aku mengurungkan niatku.

Suara bel pintu aparetemen berbunyi, aku yakin itu Rina menjemputku, dia akan menemaniku untuk pembacaan putusan. Dengan cepat kuambil tas dan kukenakan sepatu lalu kubuka pintu tiba-tiba pandanganku menghitam dan aku tidak tahu apa-apa lagi.

“Rat… bangun rat..” Suara Rina membangunkanku. Pandanganku lambat laun mulai nomal , kulihat wajah Rina panik di hadapanku.
“Dimana aku?” Gumamku, semuanya tampak begitu asing. Ini bukan apartemenku
“Rat kamu tadi pingsan karena panik aku langsung bawa kamu ke klinik bawah…” Rini menjelaskan..
“Selamat ya bu…, Ibu hamil 4 bulan.” Suara dokter bagaikan petir di pagi hari. Mata Rina melotot memandangku kaget, aku tak kalah kaget.

Kondisi ini benar-benar membuatku makin kacau, aku tidak bisa menyelesaikan masalahku dengan mas Adi melalui secepatnya. Paling tidak aku harus menunggu anak ini lahir karena pengadilan agama tidak mengijinkan wanita hamil untuk dicerai. Hari-hari semakin berat bagiku tapi untung aku memiliki dua bidadari kecil yang lucu dan karir sebagai penawar beban hidup yang harus kujalani. Kehamilanku yang ketiga ini harus kulewati tanpa suami , ada rasa kerinduan tapi semua kubuang jauh-jauh. Aku harus kuat…

**************************

Tepat sembilan bulan aku melahirkan seoarang anak laki-laki yang membuat keluarga mas Adi bahagia, karena ini cucu laki-laki pertama bagi keluarga mereka. Tapi bagiku kelahiran ini biasa saja seperti kelahiran anak-anaku yang lain dan bulan depan aku kembali akan mengajukan tuntutan perceraian. Ibu mas Adi selalu menunggui aku dan bayiku di rumah sakit. Wanita tua itu tampak sangat bahagia, meskipun aku hampir menjadi mantan menantu tapi kasih sayang dan perhatian yang dia berikan seperti ibuku sendiri.
“Rin… kamu jadi bercerai?” Mertuaku bertanya penuh keraguan.
“Iya .”Anggukku sambil menyusui Haviz putraku..
Perempuan tua itu tampak tertunduk lemah lalu menangis.
“Bu haviz tetap cucu ibu walaupun kami bercerai dan ibu bisa menemui kapan saja.” Kucoba buat menenangkan ibu mertuaku.
“Tolong … ” Perempuan tua itu tiba-tiba mencium kakiku. Aku terdiam
“Maafkan Adi, ini semua kesalahan dia dan ibu yang tdak bisa mendidik anak ibu. Tapi ibu tidak mau cucu-cucu ibu tidak punya keluarga utuh” Tangis ibu semakin kuat.
Dengan perasaan ego kutarik kakiku.
“Maaf bu, jangan bikin posisi saya semakin susah. Semuanya sudah berlalu dan jangan berharap lebih. Ibu saya ijinkan untuk ada di sini sudah lebih dari cukup. Kalau ibu ingin berharap lebih baik tidak usah mengunjungi saya.” ujarku ketus.
“Saya juga bisa buat pengasuhan anak-anak jatuh ke tangan saya karena mas Adi tidak pernah memberi nafkah materi yang cukup kepada mereka.” Ancamku keras.
Wajahnya langsung memerah karena malu dan marah tapi tidak berkata apa-apa dan langsung berlalu pergi. Sebetulnya ada perasaan kasihan tapi rasa sakit hati atas semua pengkhinatan ini belum hilang.

Kupandangi gadis kecilku Naila, tak terasa putri kecilku yang dulu manja kini menjadi sosok anak yang mandiri. Tahun ini dia akan meninggalkan taman kanak-kanak dan masuk sekolah dasar. Tangan-tangan mungilnya menyusun buku dan kue yang ada di meja lalu di masukan ke dalam tas. Dengan cekatan dia mengenakan seragam. Naila memang lebih siap menerima kondisiku yang akan menjadi orang tua tunggal dibanding Kaila, yang sering sakit dan menanyakan Ayahnya. Seperti minggu ini karena rasa kangen Kai kepada Ayahnya aku harus merelakan dia tinggal di rumah orang tua mas Adi selama seminggu. Hanya itu cara yang bisa membuat Kai tetap sehat dan ceria.

“Bun sampai kapan adek di rumah Eyang.” Tanya Nai sambil memandang wajahku.
“Minggu depan.” Jawabku sekilas sambil mengganti popok Haviz
“Bun cerai itu artinya berpisah ya?” Pertanyaan Nai mengagetkan aku.
“Cerai itu artinya bunda dan ayah tidak bisa serumah tapi tetap berteman.”Jawabku bijak
“Seperti kamu dengan temanmu Fina, tetep berteman dan bersahabat tapi tidak tinggal bersama-sama.” Aku mencoba memberikan pengertian.
“Iya seperti, aku dan Kai… kami kakak adik tapi tidak tinggal bersama?” Pertanyaan Nai menyudutkan aku.
“Ya begitulah …. Kita tetap satu keluarga walaupun berjauhan.” Kugenggam tangan mungil nya sambil kupandang matanya untuk meyakinkan.
“Tapi apakah ayah dan bunda masih berteman? Nai liat ayah dan bunda tidak pernah saling bertemu dan bicara?” Pertanyaan ini makin menyudutkan aku. Aku terdiam sejenak….
“Bunda dan Ayah tidak ada waktu bertemua makanya kami hanya berbicara lewat telpon. ” Jawabku sekenanya…
Nai mencium tanganku berpamitan pergi sekolah. Aku mencium keningnya dan Nai berbisik kepadaku
“Bunda janji ya tetap berteman dengan Ayah.” Nai melepaskan tangannya lalu pergi ke sekolah di temani bi Ijah.

Kupandangi kamar Nai , tampak lukisan crayon menempel berjajar di dinding. Satu-satu kupandangi lukisan sederhana Nai bagai kisah keehidupan keluarga kami. Ada lukisan ketika sekeluarga masih bersama, ada lukisan aku bersama Nai dan Kai, ada lukisan aku dan Haviz. Terakhir kulihat Lukisan Kai dan mas Adi sedangkan lukisan aku, Nai, dan Haviz tergambar di kertas yang berbeda. Ternyata di balik sikapnya yang tegar ada satu ketakutan Nai akan keluarga ini.Aku merenung rasanya diriku terlalu kejam kepada putriku. Aku hanya menuruti rasa marahku dan dendamku, aku tidak pernah bertanya dan mau tahu apa yang dirasakan putriku. Apakah dengan perceraian aku bisa membuat hidupku menjadi sempurna. Menjadi perempuan single yang memiliki karir bagus dan mampu mengurus ketiga anak tanpa bantuan seorang laki-laki? Kupandangi bayangan diriku di depan kaca lalu aku bertanya , Ratna apa yang kamu inginkan sekarang? Kepuasan ego atau kebahagian anak-anakmu? Kuraih telpon di sudut ruangan, kutelpon pengacaraku untuk membatalkan semua tuntutan kepada mas Adi. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan esok atau lusa. Sekarang aku hanya anak-anakku memiliki ayah dan bunda seperti keluarga yang sempurna. Walaupun aku tahu ini semua tidak sempurna , tidak seperti cerita dalam dongeng atau sinteron. Aku mencoba bertahan dalam pernikahan yang tidak sempurna karena aku tidak mengharapkan apa-apa dari mas Adi, aku tidak mau membebani dia dengan tanggung jawab dan aku juga tidak ingin menginginkan hakku sebagi seorang istri. Yang kumau Nai, Kai dan Haviz tetap memiliki ayah dan Ibu walaupun aku dan Mas Adi bukan orang tua yang sempurna bagi mereka.

4 tanggapan untuk “TERLALU SEMPURNA”

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s