Kartini Ibuku

kartini Kugenggam kuat  tangan mas Beno ketika dokter mengatakan bahwa putri tunggal kami positif menderita Leukemia Limfositik Akut , ada banyak rasa kegetiran dan bersalah di dalam hatiku. Rasanya semua pencapaian karir sebagai manajer di sebuah bank swasta  tak ada artinya lagi, satu peran penting dalam kehidupan ini terasa terabaikan.

“Bagaimana dengan cangkok sumsum tulang belakang?” Tanyaku panik kepada dokter .

“Bisa saja, tapi semuanya butuh proses.” Dokter menjelaskan. “Untuk menjalani cangkok sumsum diperlukan donor yang tepat bagi pasien dan keduanya  harus melalui  serangkain tes dan ini  membutuhkan waktu yang lama. Sedangkan tindakan paling cepat  yang bisa dilakukan sekarang adalah kemoterapi sebelum fisik Amanda benar-benar menurun.”

Mendengar kata kemoterapi terbayang betapa beratnya proses pengobatan yang harus Amanda putri kami yang baru berusia tujuh tahun .

“Mas, aku tidak mau Amanda melewati semua ini sendiri mas, aku harus  ada disampingnya.”Ujarku lirih kepada Mas Beno.

“Bagaimana dengan karirmu dan Ibu?” Tanya mas Beno mengingatkanku akan seseorang. Seorang perempuan yang sangat terobsesi dengan tokoh Kartini dan dengan pemahaman konsep emansipasi wanita   yang sangat kental dikehidupannya. Sehingga kami putri-putrinya  tidak pernah diijinkan untuk tidak berkarir atau tidak menempuh pendidikan setinggi-tingginya.

“Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya” (Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Teringat kejadian delapan  tahun yang lalu ketika aku berniat untuk berhenti bekerja dan turut ke Sumatra untuk mendampingin mas Beno. Dengan keras dan tegas ibu menentang keputusanku  yang membuat aku dan mas Beno harus menjalani hubungan jarak jauh selama bertahun-tahun. Berat rasanya ketika dihadapkan pada pilihan menuruti ambisi  ibu atau menjalani kewajiban sebagai seoarang  istri. Melalui pertimbangan dan proses perdebatan panjang antara ibu dan keluarga mas Beno akhirnya aku tetap memilih tinggal di Jakarta untuk bekerja.  Beruntung aku  bersuamikan mas Beno, seorang pria jawa keturunan ningrat namun berpikiran radikal yang bisa menerima semua keputusanku dan keinginan ibu dengan bijaksana.

“Bagi saja ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya.” (Surat Kartini kepada Nona Zeehander, 18 Agustus 1899)

Sore itu langit jakarta begitu mendung, hempasan titik hujan seolah berpacu menjajaki buminya yang makin berjejal di antara hutan beton. Sengaja kujemput ibu di stasiun Gambir sendirian agar aku dapat kesempatan berdua lebih banyak  dengan beliau. Ibu melambaikan tangannya dari kejauhan, kulihat  wanita tua berkebaya brokat dan kain batik motif parang . Kuhampiri Ibu , kusambut senyuman khasnya dengan ciuman dan pelukan. Ada rasa kerinduan yang tak tertahankan kepada wanita ini. Wanita yang berperan sebagai ayah dan ibu semenjak bapak berpulang 25 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih berusia delapan  tahun sedangkan adikku Rukmini dan dan Kardina masih berusia enam dan tiga tahun. Rasanya tidak percaya wanita tua pedagang batik di pasar Bringharjo  ini yang membawa kami bertiga menjadi sarjana dan wanita-wanita mandiri. Wanita yang mandiri dalam kemapanan karir dan materi serta dapat menolong diri sendiri dikondisi tersulit

“Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. “ (Surat Kartini kepada Nyonya Abendadon, 12 Desember 1902)

Sepanjang perjalanan aku dan ibu tidak banyak bicara karena semuanya sudah aku tumpahkan lewat percakapan di telepon tadi pagi .Satu yang belum aku ungkapkan yaitu tentang keinginanku untuk berhenti bekerja dan ini rasanya berat untuk dikatakan.

“Enek opo to nduk?”Suara ibu membuyarkan lamunanku.

“Oh engga bu…” Jawabku berbohong seraya membuang pandanganku jauh ke depan. Ibu memang selalu tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan putri-putrinya , nampaknya akan sangat sulit berbohong di hadapan beliau. Dengan terbata aku sampaikan maksudku untuk berhenti bekerja dan mendampingi Amanda putri tercintaku melewati hari-harinya menjalani kemoterapi. Ibu terdiam matanya menatap jalanan Jakarta yang semakin penuh sesak dan batinku ikut-ikutan  menjadi sesak menunggu reaksi ibu.  Mata ibu memandangku dengan dalam bukan  pandangan   delapan  tahun yang lalu ketika aku memutuskan untuk berhenti bekerja.

“Kamu tahu  tidak arti emansipasi?” Ibu bertanya kepadaku lirih. Itulah kata yang selalu diucapkan ibu ketika memberikan semangat kepada putri-putrinya di setiap waktu. Kata yang menginspirasi ibu untuk menjadikan putri-putrinya seperti pahlawan perempuan asal  kota Rembang dan menamaiku dengan julukan Kartini. Aku mengangguk seolah mengerti tapi sebenarnya aku sudah lelah dengan kata itu. Aku bukan Kartini satu abad lalu yang memperjuangkan emansipasi keluhku dalam hati.  Tapi aku tetap menunjukan rasa hormatku dengan tidak memotong perkataan beliau.

“Emansipasi tidak hanya sejajar dengan kaum pria atau bisa berdiri sendiri. Bagi perempuan yang telah berkeluarga sepertimu emansipasi adalah keseimbangan untuk menjalankan peran sebagai ibu, istri dan individu yang mandiri secara  berimbang.” Ujar ibu dengan suara mantap.

“Jika dulu ibu melarangmu untuk berhenti bekerja dan turut suamimu ke Sumatra, ibu tidak bermaksud mengahalangimu untuk menjalani kodratmu sebagai wanita bersuami. Ibu hanya ingin mengenalkan peran-peran ganda yang harus kamu jalani sebagai seorang perempuan dan berharap satu saat kamu bisa memilih dan menjalani peran apa yang terbaik untuk dirimu.” Suara ibu terdengar semakin bijak.

Tiba-tiba tangan ibu mengenggam erat tanganku.

“Tentukan  peran yang akan kamu jalani karena sekarang ada peran yang sangat penting di kehidupanmu .” Bisik ibu dengan lembut.

“Sekarang tugas ibu untuk membimbing kartini ibu sudah selesai, dan kini waktunya tugas dirimu untuk membimbing kartinimu, Amanda”

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa, hanya ada sedikit penyeselan mengapa aku tidak pernah mengerti apa yang diinginkan ibu. Tak terasa air mataku jatuh membasahi  pipi  merasakan kekaguman kepada  perempuan yang telah melahirkan ke dunia dan menjadikan aku seorang Kartini. Mungkin inilah arti emansipasi yang sebenarnya…

“Jika saja masih anak-anak ketika kata-kata “Emansipasi” belum ada bunyinya, belum berarti lagi bagi pendengaran saya, karangan dan kitab-kitab tentang kebangunan kaum putri masih jauh dari angan-angan saja, tetapi dikala itu telah hidup didalam hati sanubarai saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri.” (Surat Kartini  kepada Nona Zeehandelaar, 25 Mei 1899).

3 pemikiran pada “Kartini Ibuku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s