Kisah Kehidupan

Istri ke dua

poligami

Sekali lagi aku memandangi tetesan air yang jatuh membasahi kaca mobil travel  Jambi-lampung dan membuyarkan lamunanku. Pikiran ku kembali ke 3 hari yang lalu ketika 3 orang bertubuh besar menyeretku untuk keluar dari bandara. Mereka orang-orang suruhan keluarga besar yang tidak mengijinkan aku pergi meninggalkan kota ini untuk mengunjungi suami tercinta yang ada di seberang pulau sana.

Kembali ke 3 tahun yang lalu. Awal pertemuanku dengan mas Heri yang tidak lain dan bukan adalah bosku di salah satu perusahaan di kota kelahiranku. Kedekatanku diawali ketika dia menjadi pimpinan di perusahaan kami dan aku mendampinginya menjadi sekretaris pribadinya. Aku tidak berpikir bahwa kedekatan kami bakal menjadi sebuah cinta dan berakhir ke jenjang pernikahan. Karena ternyata mas Heri sudah punya istri dan anak di kota lain. Tapi dengan kekuatan cinta dan komitmen untuk menjalani satu hubungan sakral aku menikah dengan mas Heri dan menjadi istri kedua. Mungin hubungan kami mendapatkan pertentangan dari banyak pihak terutama keluarga dan istri mas Heri. Tapi dengan niat baik akhirnya kami bisa meyakinkan semua orang bahwa hubungan kami di dasari oleh cinta dan logika bukan sekedar nafsu. Kami tetap  berjalan di jalur syariah agama, kami tidak ingin berzinah. Walaupun berat akkhirnya ayah dan ibu memberikan restu pernikahan kami. Istri mas heri pun memberikan ijinnya sehingga pernikahan kami menjadi syah di mata hukum dan agama. Mas heri sangat bisa berlaku adil, walaupun adil tidak selalu sama tapi bisa memberikan hak yang sama sesuai dengan kebutuhan masing-masing istrinya. Aku tidak selalu menuntut lebih dari mas Heri walaupun secara finansial dia sangat mapan. AKu hanya mengnginkan perhatian dan cintanya….

Kembali ke 13 bulan yang lalu. Kala itu hujan mulai membasahi kota Jambi aku mendapat kabar mas Heri pindah ke Jakarta dan harus meninggalkan kota ini. Berat rasanya ketika harus ditinggalkan oleh orang yang aku sayangi tapi aku tidak bisa meninggalkan kota ini dan pergi bersama mas Heri. Aku punya kehidupan di sini , aku punya karir yang bagus dan aku punya keluarga besar yang tidak mengijinkan aku meninggalkan kota ini. Dengan berat hati akhirnya aku dan mas Heri menjalani Long Distance Relationship meskipun secara rutin dia mengunjungi aku beberapa kali dalam sebulan. atau ketika mas Heri sibuk aku yang mengunjunginya. Mungkin bagi orang lain hubungan kami sangat tidak normal karena mas heri harus membagi waktu antara pekerjaan dan istri-istrinya sehingga tidak bisa mendampingi aku 100%. Tapi aku tidak keberatan dengan semua ini, aku merasa cukup dengan perhatian, cinta dan nafkah yang diberikan oleh mas Heri. Hari-hariku aku isi dengan fokus ke pekerjaan dan sekolah lagi yang membuat aku tidak pernah merasa kesepian. Hubungan aku dan mas Heri sangat baik walaupun hanya bisa lakukan dengan telepon dan internet. namun 3 bulan belakangan ini keluarga besarku tidak bisa menerima hubungan yang kami jalani. Mereka menginginkan aku melupakan dan berecerai dengan mas Heri. Mereka pernah bilang ke mas Heri kalau mereka menginginkan mas Heri menceraikan istri pertamanya. Namun mas Heri menjawab dengan tegas dia tidak bisa karena dia sangat mencintai istri2nya dan anak dari istri pertamanya. Tekanan untuk meninggalkan mas Heri semakin besar , tiap hari ibu, bapak , tante, om, dan kakakku selalu mendoktrin aku untuk melupakan mas Heri dan mereka menginginkan aku hidup nornal dengan menikah dengan pria single. Aku semakin bertanya dengan diriku. Apa yang salah dengan hubungan ini? Aku mencintai mas Heri dan dia mencintaiku. Istri mas Heri pun menerima hubungan ini dan kami sangat baik. Hampir hampir tidak ada masalah di antara kami dan aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri.

Masalah baru datang lagi membuat hubungan kami semakin terasa berat. Secara kebetulan rival kerja mas Heri menjadi atasanku di kantor. Aku tidak tahu apakah tindakan bos baruku ini kebetulan atau memang disengaja. Terkadang dia memberikan tugas-tugas kantor yang berlbihan sehingga aku harus pulang kerja sampai larut malam. Entah itu pekerjaan di office atau pekerjaan di luar kantor yang membuat aku harus mendampingi dia hingga larut malam. Terkadang berpegian terlalu malam dengan bos membuat pandangan miring di antara rekan-rekan kerja dan membuat mas Heri cemburu. Apalagi bos baruku jauh dari istrinya, kondisi nya mirip ketika mas Heri pindah ke kota ini. Aku makin bingung dan capek tudingan perebut suami orang nampaknya menjadi gosip hangat di kantor. Aku berpura-pura untuk tidak menghiraukan namun aku manusia yang punya hati. Dengan segudang masalah di kantor dan di rumah ingin rasanya aku masuk ke dalam perut bumi dan tidak keluar-kaluar lagi.

Hari ini aku meyakinkan diri bahwa aku harus pergi meninggalkan semuanya, pekerjaan dan keluarga. Aku ingin pergi bertemu mas Heri , aku ingin hidup damai di sampingnya walaupun aku hanya bisa jadi bayangan dia yang ke dua. Dengan segenap kekuatan akhirnya aku berhasil lari dari rumah untuk pergi ke Lampung berjanji dengan mas Heri untuk bertemu di sana. Keputusan lewat jalan darat aku ambil karena aku sudah trauma dengan kejadian penyeretan di bandara oleh orang-orang suruhan keluargaku. Sepanjang perjalanan mas Heri memantau posisiku , ternyata dia sudah sampai lebih dahulu di Lampung. Pikiranku melayang penuh dengan kata seandainya… seandainya aku tidak bertemu dengan mas Heri… seandainya aku tidak pernah jatuh cinta dan menikah dengan dia… seandainya aku bisa menjadi anak yang berbakti dengan selalu menuruti kata-kata orang tua…  Tiba-tiba suara supir travel di sampingku menyadarkan ku “Mbak nangis?” . “Oh tidak mas jawabku lirih” sambil tersenyum dan menghapus air mata. Tapi nampakanya senyuman ini tidak bisa berbohong. Akhirnya sepanjang perjalanan Palembang-Lampung aku berecerita kepada sang supir. Karena kebetulan penumpang hanya aku berdua bersama seaorang lelaki muda yang tidur terlelap di bangku belakang.

Akhirnya sepanjang perjlanan kami bertiga mengbrol dari masalahku sampai cerita poligami di pandang dari beragam sudut. Apakah aku korban poligami? Aku rasa tidak.. Mas Heri selalu adil memberikan nafkah dan kami menikah syah secara agama dan hukum negara. Tapi mungkin pernikahanku yang menjadi masalah untuk keluarga ku. Mereka tidak ingin anaknya menjadi wanita kedua. Tapi sekali lagi ini adalah pilihan hidupku mencintai laki-laki yang sudah memiliki istri. Namun ada satu pertanyaan sang supir yang menggugah pikiran dan perasaanku. Mbak bagaimana jika nanti mbak sudah memutuskan untuk meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk ikut suami tapi ternyata satu hari suami mbak berpaling ke perempuan lain?… Aku tidak bisa menjawab aku terdiam… berharap itu tidak pernah terjadi…

Catatan Perjalanan Jambi-Lampung RIP 17 Maret 2010

3 tanggapan untuk “Istri ke dua”

  1. Hidup adalah pilihan. Apa dan bagaiman kita tergantung dari apa yang kita pilih, dan selalu ada konsekuensi dari pilihan itu. Satu hal yang pasti, Allah SWT akan selalu menyertai kita. Amin

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s