Sumatra Barat Travelling

Dragon Boat Festival: Tradition, Beauty and Glory

12

(8/6/2013), Lengan-lengan kekar mengayuh kuat berirama tanpa henti menembus kanal. Tubuh  berpeluh berkilau di bawah mentari melesat bagai naga air

Menyaksikan International Dragon Boat Festival sebetulnya tidak termasuk rencana perjalanan kali ini. Seharusnya tadi pagi kapal kami merapat di pelabuhan Carocok lalu bersiap berangkat ke Kerinci untuk mendaki Danau Gunung Tujuh. Ternyata jadwal kapal maju sehari  dan kami  bisa sampai di kota Padang lebih awal.

Sumatra Barat memang sedang gencar mempromosikan pariwisata. Tour De Singkarak 2013 masih berlangsung , Festival Perahu negara pun digelar. Dua acara bertaraf internasional belangsung  dalam waktu bersamaan, luar biasa . Sontak kota Padang menjadi super padat dan sibuk, apalagi tadi pagi jalur TDS melalui kota Padang. Meskipun terjadi kemacetan karena beberapa ruas jalan ditutup, kondisinya masih kondusif dan nyaman bagi wisatawan.

Pukul tiga sore  kami menuju Banjir Kanal Gor H Agus Salim. Udara panas tidak menyurutkan antusian penonton. Payung, kacamata hitam, topi menjadi perlengkapan wajib menghindari sinar matahari. Tidak lupa tabir surya ber-SPF tinggi dioleskan di kulit.

International Dragon Boat Festival XI melibatkan peserta dari 10 negara dengan hadiah total hadiah 250 Juta Rupiah. Event yang digelar selama 4 hari tidak hanya mempromosikan pariwisata Sumatra Barat, tapi juga merupakan pertandingan persahabatan melalui   alkuturasi budaya. Merunut sejarahnya  perahu naga berakar pada budaya China.

Di Cina  Dragon Boat Festival merupakan perayaan untuk mengenang kematian Qu Yuan, seorang menteri yang dikenal jujur dan loyal pada jaman kerajaan Chu (475-221 SM). Konon Qu Yuan melompat ke sungai Milou untuk memprotes perilaku korup pejabat istana. Meski beberapa nelayan  mencoba menolong dan menyelamatkannya, tapi jasad Qun Yuan keburu hilang dibawa arus. Sejak kematian Qu Yuan, pamor kerajaan Chu berangsur-angsur surut dan akhirnya ditaklukkan Kerajaan Qin.

Mengenang kematian  Qua Yin dan semangat anti korupsi masyarakat Chu memberikan makan bagi arwah Qu Yuan dengan melempar beras ke sungai setiap tanggal 5 bulan 5 . Namun, setelah beberapa tahun,  arwah Qu Yuan muncul ke permukaan dan memberitahukan bahwa seekor reptil raksasa di sungai telah mencuri beras yang diberikan masyarakat Chu. Arwah tersebut kemudian menasihati agar beras tersebut di bungkus dengan kain sutera dan diikat menggunakan benang lima warna yang disebut zong zi.

Akhirnya setiap hari raya Pecun ada tradisi membuat dan memakan zong zi – ketan dibungkus daun – mirip bacang. Dan perlombaan perahu naga sebagai simbolisasi dari semangat masyarakat Chu dalam mencoba menyelamatkan dan menemukan jasad Qu Yuan. Budaya ini akhirnya berkembang seiring menyebarnya para perantau Cina.

“Perahu naga ternyata unik , kombinasi tradisi dengan sentuhan modern “, ujar Mira – traveller asal Jakarta  – menyaksikan serombongan atlit berlari melintas melakukan pemanasan. Meskipun Festival Perahu Naga berakar budaya tradisional tapi tampilan atlitnya tetap modern. Celana pendek  dan kaos tanpa lengan  menjadi seragamnya. Tidak lupa  sunglasses dan topi sebagai atribut tambahan dikenakan, membuat atlit terlihat  makin keren.

Melihat perahu nagar di pinggir kanal teringat foto karya Arfa Aksa bertajuk “Sampan” salah satu 24 foto  Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia. Perahu kecil  alat transportasi air bermetamorfosis menjadi perahu panjang berukir cantik, lengkap dengan ekor dan kepala. Fungsinya pun berubah , menjadi tunggangan adu kecepatan di atas air.

Dari arah laut tiga perahu bersiap berlomba. Lambat laun terlihat makin besar menuju jembatan Banjir Kanal. Riuh seru penonton memberi semangat seirama dengan tabuhan drum. Dua puluh lelaki mendayung bersama  dengan wajah menegang bagai prajurit di medan perang. Penabuh  tak kalah garang berteriak sekuat tenaga sampai urat lehernya terlihat. Persaingan makin ketat takala perahu saling mendahului bagai naga berpacu di antara riak samudra. Seru dan makin memanas.

Pertandingan demi pertandingan berlalu begitu cepat. Tidak terasa matahari bergerak ke barat bersama lembayung senja. Suasana menjadi lebih dramatis takala sinar magenta berpendar di muara. Siluet perahu-perahu itu makin mirip naga air  yang berjuang mencapai supremasi tertinggi . Sang Juara!

***

Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indoenesia. Inspirasi foto bertajuk ”Sampan” oleh Arfa Aksa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

11 komentar

  1. tanggal 20 september nanti ada di banjarmasin pas ulang tahun kota, malamnya yang pakai lampu2 gitu, di sepanjang sungai. Saya kebetulan akan datang, siap2 liat atlet kekar kalau gitu (minta digetok fiance)

    Suka

Pembaca kece selalu meninggalkan jejak berupa komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.