Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time

treetop

Kerinduan hingar bingar musik dan makanan lezat membuncah setelah berhari-hari berkelana. Titel backapacker kami  letakan sejenak berganti menjadi traveller lalu menuju Treetop Seafood Restaurant.

Hanya aroma air laut menyakinkan sudah sampai di Labuan Bajo. Berharap sebelum matahari terbenam sudah sampai di sana. Menyaksikan sunset dari balkon atas Treetop Seafood Restaurant. Konon ini tempat terbaik menyaksikan mentari menuju peraduan di Labuan Bajo. Tapi kami tetap bersemangat menyambangi resto didominasi wisatawan mancangera. Beruntung tarifnya masih rupiah, kalau dollar atau euro mungkin berpikir ulang untuk nongkrong di sini.

Good food, good music, good looking… ehem. Maksudnya bulewan dan bulewati yang lalu lalang. Kata cewek-cewek , di sini rate Clement langsung anjlok maklum banyak yang lebih keren. Analoginya kaya ikan koi di aquarium terus dimasukin ke kolam besar. Tentu saja akan bersaing pamor dengan ikan koi-koi lain yang lebih “warna-warni”. Sedangkan saya dan Elyudien berasa seger banget bukan seger aja. Maklum lah yang model-model begini tidak banyak di perjalanan apalagi di dalam mobil (nengok kanan kiri).Walaupun warnanya cantik dan gerakan tubuhnya indah tetap ikan hias. Jadi tidak boleh dimakan, cuma boleh diliat aja .

Hotel Blessing , Jalan Kasim No 4 menjadi tempat singgah kami malam ini. Letaknya strategis dekat dengan fasilitas seperti tempat makan, atm dan kantor travel agents. Bangunannya mirip rumah biasa namun memiliki 15 kamar ( 4 deluxe dan 11 kamar) dengan rate antara 300 sampai 400 ribu termasuk pajak dan sarapan. Tapi malam ini kami dapat harga spesial banget alias zero kaya promo Air Asia.

Labuan Bajo awalnya desa nelayan kecil di ujung barat Flores, lambat laun menggeliat menjadi kota tujuan wisata. Hotel berbintang bermunculan di ibukota kabupaten Manggarai Barat, pemekaran kabupaten Manggarai sejak tahun 2003. Tercatat 43 hotel, home stay dan losmen bertarif dari Rp 15.000 (Losmen Kembang Ragi) sampai Rp 2 juta (Hotel Bintang Flores).

Posisinya langsung menghadap Taman Nasional Komodo (TNK) di perairan Selat Sape menjadi magnet bagi wisatawan. Apalagi setelah TNK dinominasikan menjadi New 7 Wonders. Seperti Bali, Labuan Bajo lebih didominasi wisatawan mancanegara dibandingkan domestik. Kota ini begitu bersahaja, kita masih bisa berjalan kaki tanpa diganggu kendaraan lalu lalang. Menikmati segarnya udara pantai sambil sesekali mendengarkan suara musik kafe atau resto di ujung jalan.

Matahari pagi menyapa hari kedua di Labuan Bajo, sinarnya menembus kisi-kisi jendela ruang makan Hotel Blessing. Aroma nasi goreng memaparkan kelezatan dari balik pantry bernuansa hijau. Evi dan Rosi sudah duduk terlebih dahulu menikmati secangkir teh manis. Bu Herlina dan Elyudien bergegas ke pelabuhan mencari kapal untuk hopping esok lusa. Hari ini rencannya kita akan menuju Pulau Kanawa tepat pukul 12 siang. Masih ada beberapa untuk jalan-jalan di Labuan Bajo.

Usai sarapan  Bu Herlina dan Elyudien muncul membawa belanjaan, logistik persiapan di kapal. Tampak Elyudien senyum-senyum  sumringah sambil mengacungkan dua jempol. Jujur kita  penasaran ingin tahu berapa harga sewa kapal untuk hopping. Ternyata  setengah yang ditawarkan operator lokal. Elyudien bercerita butuh perjuangan dan sedikit kesabaran, menyambangi satu persatu kapal di pelabuhan dan bernegosiasi mendapatkan harga terbaik. Termasuk membangunkan crew kapal yang masih terlelap tidur di kapalnya.

“Eh itu beneran , bukan harga mimpi atau lagi mabok laut nakodanya”, mata Rosi membulat menyakinkan.

“Ga tahu deh tapi tadi nakodanya masih bau -bau Sofi gitu , mungkin mabok beneran”,  Elyudien menjelaskan. Nah lho?

Tepat pukul 09:00 minibus putih datang, Frater Simon , rekan bu Herlina akan mengantar ke Goa Batu Cermin. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Labuan Bajo sekitar 4 kilometer. Goa Batu Cemin ditemukan pada tahun 1951 oleh Theodore Verhoven, seorang pastur sekaligus arkeolog berkebangsaan Belanda. Goa Batu Cermin dulunya berada di dasar laut , hal ini dibuktikan dengan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding goa.

Kedai sederhana menyambut pengunjung sebelum memasuki area wisata Goa Batu Cermin. Pemandu cilik mengantar kami menyusuri jalanan paving block sejauh 200 meter. Tumbuhan kering meranggas menjadi pemandangan biasa. Dominasi tumbuhan bambu mulai terlihat ketika mendekati mulut goa menjulang.

Setelah menuruni anak tangga kami menuju ruang-ruang rahasia . Satu persatu kami masuki, dari yang tertembus cahaya matahari sampaiyang tidak tersentuh cahaya dan menyisakan kegelapan. Merayap di antara dinding sempit atau stalaktit menjadi seni tersendiri menjelajah keunikan alam bawah laut yang tersisa . Menggunakan bantuan senter terlihat fosil kura-kura di dinding goa. Tapi hati-hati jangan sampai sinarnya mengganggu penunggu goa, sang kelelawar tidur siang.

Liku-liku jalan goa bagaikan labirin, penuh misteri . Ruang terbuka di antara dinding batu menjulang menjadi tempat ideal menghirup udara segar. Pohon tinggi menjulang seolah mencari sinar matahari, daunnya meranggas tapi tetap hidup. Rosi bersandar sejenak melepas lelah. Elyduien asik mengobrol bersama Frater Simon asal India. Rupanya dua pria ini pecinta film asal Hindustan. Pohon,batu, goa, matahari seolah membangkitkan imajinasi keduanya. Tanpa ragu El meminta Frater Simon yang baru di Indonesia setahun ini untuk bernanyi lagu india. Sepenggal bait lagu Kuch Kuch Hota Hai dilantunkan.

“Dimanakah letak cerminnya?”, saya penasaran .  Karena setelah berputar-putar hampir satu jam belum mengerti mengapa goa berbatu menjulang dinamakan goa Batu Cermin. Pemandu menjelaskan di atas  goa ada sebuah celah sempit tempat sinar masuk. Jika hujan, genangan air di bawahnya akan berkiluan. Memantulkan sinar matahari dan reflekesi bayangan kita seperti cermin.

Hujan? Oh jangan hari ini . Rasanya jika hujan benar-benar turun Elyudien akan berputar-putar menari di antara pepohonan lalu berlari hilir mudik bersembunyi di  goa-goa.  Menari ala india melengkapi lantunan merdu Kuch Kuch Hota Hai ala Frater Simon.

El sadar kamu bukan Sharuk Khan dan aku bukan Kajol . Huaaaaaaaaaaaa

sunset and treetop
sunset and treetop
alcohol rule :p
alcohol rule :p
makan malam , makan besar, makan enak
makan malam , makan besar, makan enak
hotel blessing
hotel blessing
dapur hotel nuansa hijau
dapur hotel nuansa hijau
breakfast Blessing Hotel
breakfast Blessing Hotel
selamat datang di Goa Batu Cermin
selamat datang di Goa Batu Cermin
jalan menuju Goa
jalan menuju Goa
bagian dalam goa
bagian dalam goa
Labuan Bajo
Labuan Bajo

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

36 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s