Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi

Pagi di desa Renggarasi
Pagi di desa Renggarasi

Air terjun kembar Murusobe merupakan spot pamungkas perjalanan kali ini. Konon untuk mencapainya harus berjalan kaki selama 3 jam lebih dari  Wolofeo. Tapi berdasarkan informasi dari internet kendaraan roda empat sudah bisa sampai desa Poma dan dibutuhkan waktu untuk trekking ke air terjun sekitar 45 menit.

Melihat geografis desa Poma yang terpencil, sebelum melanjutkan perjalanan kami belanja logistik  untuk makan malam dan buah tangan bagi penduduk yang akan kami tumpangi. Menjelang sore mobil bergerak ke arah Ende melewati wilayah Lekebai . Setelah melewati jembatan panjang kira-kira 10 meter belok ke arah kanan. Inilah jalur menuju Wolofeo atau Feondari. Jarak pertigaan ini dari kota Maumere kira-kira 36 km.

Jalanan aspal berangsur-angsur menjadi jalanan berbatu kasar, di beberapa titik sempat terputus karena melewati sungai kecil . Tapi untung avanza yang kami kendarai masih bisa lewat. Sempat beberapa kali bertanya kepada warga ternyata desa Poma masih jauh. Padahal hari sudah malam, beberapa kali mobil kami terpuruk karena penerangan minim dan jalan berbatu. Tepat di pertigaan Loke pasar dekat Situmage mobil yang kami kendarai terpuruk dan hampir tak bisa bergerak. Untung beberapa warga membantu dan menyarankan untuk tidak melanjutakn perjalanan ke Poma karena kondisi jalan lebih ekstrim dan tidak ada penerangan jalan. Setelah berdiskusi kami memtuskan untuk bermalam di kompleks Paroki Wolofea.

Romo Anis dan para suster menerima kami di kediamannya dan menjamu kami layaknya  tamu besar . Makan malam bersama dengan menu khas nasi jagung lalu ditutup dengan minum kopi bersama khas Ende. Bersama beberapa warga beramah tamah sambil menonton televisi.  Kedatangan kami malam ini menjadi begitu spesial, biasanya generator padam pukul 10 malam . “Tapi karena ada tamu jauh, listrik kita padamkan jam 12”, ujar Romo Anis. Membuat warga senang karena mendapat kesempatan menonton acara televisi lebih malam. Begitu juga Afong – anjing putih penjaga  – menyalak senang sambil menggoyang-goyangkan ekornya. Malam ini mendapat teman baru , Elyudien. Entah kenapa Afong mengingatkan Elyudien kepada Snappy , anjing penjaga di kesusteran St Elisabeth, Taibesi Dili. “Guk-guk”

Tepat pukul 6 pagi lonceng di gereja kecil berdentang, tanda Misa Pagi dimulai. Saya dan Elyudien berjalan menyusuri jalan menikmati pagi di Renggarasi. Keramaian pasar menghampar dekat pertigaan kami terpuruk tadi malam.

Senyum manis para mama berhiaskan merah pinang tersungging ramah , ketika menyisir pasar yang berda di jalanan. Tak sulit bagi kami membaur dengan masyarakat lokal, rasanya setiap orang di pasar ini sangat akrab. Sapa khas selamat pagi , bagi siapapun lazim diucapkan, sebuah kearifan lokal yang sulit dijumpai di kota besar. Pria dan wanita terbalut dalam kain tenun ikat khas Flores, terkadang kepala hingga kaki dibenamkan ke dalam sarung panjang untuk membunuh hawa dingin pegunungan. Sesekali wajah ramah menyembul dari balik sarung, sekali lagi menebarkan senyuman hangat.

Lapak kecil berjajar di sisi jalan menawarkan beragam kebutuhan sehari-hari mulai dari panganan kecil, sayur-mayur hingga barang pecah belah. Semuanya ditawarkan dengan harga bersahabat, tidak ada tawar menawar yang terlalu sengit. Kebanyakan barang yang dibeli di sini akan di jual kembali. Tak heran jika pasar mingguan ini disambangi para pedagang dari Ende dan Maumere. Terkadang mereka harus melalui perjalanan puluhan kilometer untuk bisa bertransaksi di pasar yang hanya buka pada hari selasa, dari pukul lima pagi hingga dua siang.

Beragam jenis tenun khas Flores digantung rapi dekat bangunan semi permanen di sisi kiri jalan. Tenun motif khas Sikka tampak mendominasi sedangkan ada sedikit motif khas Ende bergaya Eropa. Harganya pasti lebih murah dibandingkan di art shop karena pangsa pasarnya penduduk lokal bukan wisatawan. Untuk kain sarung panjang bermotif sederhana dikenai harga Rp 200.000 saja.

Bagi masyarakat setempat memberikan pinang dan kapur sirih kepada tamu atau orang asing merupakan salah satu bentuk penghormatan. Bibir dan gigi kami memerah atas jamuan spesial oleh beberapa pedagang. Mama Liana bersama saudarinya terkekeh melihat kami kepedasan mengigit buah pinang. Tak ada jarak antara penjual dan pembeli, rasa kekeluargaan membaur menjadi satu dalam proses transaksi dan sosialisasi. Inilah keunikan pasar tradisional Indonesia , bukan hanya tempat jual-beli tapi sebagai ajang silaturhami. Hal yang tak mungkin kita jumpai di pasar swalayan, apalagi Mall.

Matahari semakin tinggi, kami harus melanjutkan perjalanan menuju Poma dan meninggalkan desa Renggarasi . Terimakasih kepada  takdir yang menuntun kami menuju Paroki Wolofea dan pasar Situmage. Merasakan kearifan lokal di tanah Flores.

Kompleks Paroki Wolofea
Kompleks Paroki Wolofea
Gereja di komplek Paroki Wolofea
Gereja di komplek Paroki Wolofea
Nasi jagung kuliner khas Flores
Nasi jagung kuliner khas Flores
pedagang singkong (kiri) ; mama Liana dan saudarinya (kanan)
pedagang singkong (kiri) ; mama Liana dan saudarinya (kanan
Elyudien membeli jajan pasar di Situmage
Elyudien membeli jajan pasar di Situmage
Pasar Situmage pertigaan Loke
Pasar Situmage pertigaan Loke
beragam jajan pasar tersedia di pasar Situmage
beragam jajan pasar tersedia di pasar Situmage

Explore Timor-Flores 2012 (part 1): Tawaran Menggiurkan
Explore Timor-Flores 2012 (part 2): Dari Barat Ke Timur
Explore Timor-Flores 2012 (part 3): Sejengkal Waktu di Kupang
Explore Timor-Flores 2012 (part 4): Jejak Sasando
Explore Timor-Flores 2012 (part 5): Lintas Negara 12 Jam
Explore Timor-Flores 2012 (part 6): Jalan Tanpa Snappy
Explore Timor-Flores 2012 (part 7): Kampung Alor, Kampung KD
Explore Timor-Flores 2012 (part 8): Mengais Cinderamata Pasar Tais
Explore Timor-Flores 2012 (part 9): Sholat di Masjid An Nur
Explore Timor-Flores 2012 (part 10): Senyum Kunci Masuk Istana
Explore Timor-Flores 2012 (part 11): Nge-Mall di Timor Plasa
Explore Timor-Flores 2012 (part 12): Bonus Keindahan Di Cristo Rei
Explore Timor-Flores 2012 (part 13): Hampir Malam di Dili
Explore Timor-Flores 2012 (part 14): Rosalina Pulang
Explore Timor-Flores 2012 (part 15): Friend, Fotografi , Food
Explore Timor-Flores 2012 (part 16): Pantai Pertama Flores, Kajuwulu
Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi
Explore Timor-Flores 2012 (part 18): Petualangan Mendebarkan, Murusobe
Explore Timor-Flores 2012 (part 19): Life Begin At Forty
Explore Timor-Flores 2012 (part 20): Clement on Kelimutu
Explore Timor-Flores 2012 (part 21): Kenangan Desa Wologai
Explore Timor-Flores 2012 (part 22): Green Green
Explore Timor-Flores 2012 (part 23): Riang Nga-Riung di Riung
Explore Timor-Flores 2012 (part 24): Hot dan Cold Trip
Explore Timor-Flores 2012 (part 25): Kampung Bena
Explore Timor-Flores 2012 (part 26 ): Ruteng, Sofi dan Pesta
Explore Timor-Flores 2012 (part 27 ): Lingko, Spiderweb Rice Field
Explore Timor-Flores 2012 (part 28 ): Dintor dan Ide Si Mami
Explore Timor-Flores 2012 (part 29 ): Firasat Wae Rebo
Explore Timor-Flores 2012 (part 30 ): Labuan Bajo Time
Explore Timor-Flores 2012 (part 31 ): Kanawa The Love Island
Explore Timor-Flores 2012 (part 32 ): Hopping S.O.S.
Explore Timor-Flores 2012 (part 33 ): Ini Komodo Bukan Omdo
Explore Timor-Flores 2012 (part 34 ): Caca Marica Pulau Rinca
Explore Timor-Flores 2012 (part 35 ): Drama Happy Ending

4 pemikiran pada “Explore Timor-Flores 2012 (part 17): Kearifan Lokal Renggarasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s