Fortuner, Sahabat dan Alam

Berpetualang Bersama New Fortuner
Bersama New Fortuner

September. Saya tidak akan jalan-jalan setelah long trip Flores-Dili sampai akhir 2012. Alasan pertama, mau nabung buat nikah kalo ketemu jodoh (ehem). Kalo ga nemu jodohnya ya buat jalan-jalan lagi (tuing). Alasan kedua jatah cuti tinggal dua hari.

Namun godaan hadir di bulan Oktober. Siapa sih yang sanggup nolak trip share cost murah meriah ke Kakaban. Modal dua juta rupiah – termasuk tiket pesawat – sudah bisa berenang dengan ubur-ubur di danau payau Kakaban. Dan terpenting, ga pake cuti. Jadwal pas bener jadwal off duty.

Tuhan takkan memberikan cobaan di luar kemampuan umatnya. Bulan November godaan kembali datang. Dan saya mencoba untuk kuat (nahan napas). Fotokita.net mengundang berpetualang  ke Bandung bersama tim National Geography Indonesia. Kali ini bukan share cost tapi gratis. Hadiah lomba fotografi bertajuk “Petualangan Bersama Sahabat” disponsori oleh Toyota Astra Motor. Salah satu foto perjalanan di Desa Wae Rebo memenangkan kategori culture, dari tiga kategori yang ada. Perjalanan diadakan tanggal 3-4 November 2012, bertepatan jadwal on duty. Cuti dua hari satu-satunya cara memenuhi undangan lalu melarikan diri dari hutan.

(3/11/2012) Rencana pukul tiga sore kabur lebih awal ke bandara Sultan Thaha, Jambi. Perjalanan dari tempat kerja menuju bandara membutuhkan waktu 2 jam. Namun rencana “run away” gagal total , tiba-tiba bos datang ke lapangan. Mau tidak mau keberangkatan menuju bandara harus tepat pukul 16:00, usai jam kerja. Apa mungkin penerbangan terakhir ke Jakarta pukul 18:15 terkejar. Jika tidak,  pilihannya mengejar pesawat awal besok pagi dan tiket sore ini hangus.

Sepertinya mobil sudah dipacu kencang menuju bandara tapi jalanan licin tak bisa memaksanya bekerja lebih. Waktu menunjukan pukul 18:00 , saya masih terjebak di beberapa lampu merah  kota Jambi.  Tepat pukul 18:15 memasuki gerbang bandara, di landasan tak ada pesawat yang parkir. Sudah berangkat atau delay ya? Dengan tergopoh-gopoh menuju loket check in sepi tanpa aktivitas. Pasti pesawat sudah berangkat, kekhawatiran saya membuncah. Seorang petugas muncul dari balik meja ketika saya melongok lebih dalam. Dan terimakasih Tuhan, pesawat belum berangkat alias ada keterlambatan.

Malam menyapa di Ibukota, de ja vu. Baru dua minggu yang lalu saya berada di sini. Di Terminal Gambir, turun dari bus bandara menuju shelter busway. Berdesakan bersama kaum urban merayapi malam dan jalanan padat. Kontras dengan suasana kerja saya, jauh di pedalaman Jambi. Sebuah busway jurusan kota mengantar saya  ke kosan Erfin – rekan kuliah – di daerah Gajah Mada. Menumpang tidur beberapa jam saja.

Selamat Pagi. Hari ini merasakan weekend di Jakarta. Sebetulnya tak ada weekend dalam kamus  kerja saya. Kejam ya? Ga juga. Hanya polanya saja yang berbeda dengan libuar kebanayakan orang . Di akhir pekan jalanan Jakarta lebih ramah, tak terlalu macet tapi tetap butuh perjuangan ketika berada di busway. Pukul 6:30 saya sudah bergelayutan sambil menggendong backpack menuju markas Kompas Gramedia di Kebon Jeruk.

Tepat Pukul 07:30. Usai briefing singkat dari tim National Geographic Indonesia. New Fortuner yang kami kendarai melesat menuju Bandung. Saya duduk di samping juru kemudi, Mas Haris. Sedangkan Panji dan Qori – pemenang kategori Culiner dan Fortuner – duduk di jok belakang. Memasuki gerbang tol pertama kami langsung terlelap. Maklumlah cuaca Jakarta pagi ini mendung menghembuskan hawa dingin. Ooo maaf ini udara Air Conditioner.

Menjelang siang akhirnya sampai di kota kembang, Bandung. Mampir di kawasan Pasteur untuk menjemput Lola salah satu pemenang dari kategori Fortuner. Jalan Braga merupakan tujuan utama perjalanan kali ini. Ikon kota Bandung yang satu ini memang unik, disepanjang jalan berjajar kafe  dengan bangunan khas tempo dulu. Meskipun di beberapa ruas titik jalan terjadi kemacetan, acara hunting dan foto bareng cukup seru. Selanjutnya melewatkan makan siang di daerah Dago. Sebuah Resto berornamen tumbuhan pakis menjuntai   di rak besi persegi. Kesan tradisional dan homey sengaja diusung rumah makan “Cabai Rawit”.  Menunya cukup variatif tapi tetap andalannya masakan khas sunda. Dan pilihan saya jatuh pada paket nasi timbel komplit.

New Fortuner melesat menuju Kabupaten Bandung. Destinasi selanjutnya Taman Konservasi Masigit Cikareumbi. Berturut-turut melalui Cileunyi, Rancaekek, Parakanmuncang lalu berhenti didataran tinggi Cimanggung. Melihat keindahan sawah menghampar dan berfoto bersama New Fortuner putih. Perjalanan belum usai ,  melewati Curug Sinulang kondisi jalan mulai ekstrim menguji ketangguhan New Fortuner. Pohon pinus menjulang menyambut kami di (Taman Konservasi Masigit Cikareumbi) TKMC, dan lambat laun sinyal GSM ikut menghilang.

Teh Rini, pengurus TKMC menyambut kedatangan kami. Sang surya mulai tergelincir ke ufuk barat, jalanan hutan makin remang. Kami harus berjalan sekitar setengah kilometer menuju rumah pohon di tengah hutan. Suara hewan bergema mengiringi langkah, tak ada listrik hanya mengandalkan insting dan sedikit cahaya matahari yg tersisa.

Lima buah rumah kayu di tengah hutan pinus. Aroma segar alam menyeruak tajam, segar menenangkan. Tapi suara hewan malam terkadang membuat naluri kewasapadaan bangkit.  Sudah lama tidak merasakan  menyatu dengan alam bebas seperti ini.Teh Rini berkata bahawa,  Rumah kayu yang ada di sini dibangun tanpa menebang pohon. Jadi bahan bangunnya diambil dari pohon yang benar-benar tumbang alami. Benar-benar rumah pohon yang bersahabat dengan  alam.

Meskipun berada di tengah hutan fasilitasnya cukup lengkap. Lampu dan kompor gas sudah tersedia. Perlengkapan tidur seperti matras dan sleeping bag tersedia cukup banyak di lantai satu dan dua. Dan yang paling menyenangkan malam ini kami tidak perlu masak. Makan malam sudah tersedia dengan menu Sunda. Di bawah temaram lampu peteromak melewati makan malam bersama. Hidangan ikan goreng lengkap dengan sambal terasi dan lalapan terlalu sayang untuk dilewatkan. Tumis oncom makin menggugah selera makan di udara sedingin ini.

Menjelang pukul 20:00 Kang Oz bersama beberapa rekan dari TKMC memberikan materi singkat “Survival”. Bagaimana bertahan dan menghadapi alam, terutama di malam hari. Materinya dikemas gaya diskusi santai dan  praktek sambil mengelilingi api unggun. Dan selanjutanya satu persatu kami dilepas melakukan “night hiking’. Berjalan sendiri di tengah lebatnya hutan . Tujuan utamanya untuk mengasah intuisi  terhadap bahaya dan melatih rasa percaya diri. Bagi saya pribadi  yang paling sulit adalah mengalahkan sugesti diri terhadap rasa ketakutan. Melihat bayangan pohon di tengah malam, terkadang otak menterjemahkan sebagai figur menyeramkan.

Ternyata saya bisa tidur sangat nyenyak di rumah pohon. Pagi ini kami akan menuju air terjun Cisabuk. Tantangannya adalah trekking 3 jam melewati hutan berkontur ekstrim. Semua amunisi perjalanan sudah siap. New Fortuner putih mengantar kami ke perbatasan kabupaten Bandung dan Sumedang. Tepatnya di Dusun Sindulang Kecamatan Cimanggung. Sebelum memulai aktivitas kami mengawali perjalanan ini dengan doa. Memasuki kawasan permukiman penduduk jalan mulai menanjak , awal pemanasan yang baik. Napas sudah mulai terengah-engah bersama peluh mengalir bebas di dahi. Kebun kubis menjadi persinggahan pertama melepas lelah. Tapi harus semangat, tantangan perjalanan yang lebih sulit menghadang di depan.

Naik turun bukit serta menerabas semak belukar paket lengkap trekking kali ini. Rasa lelah terhapus menyaksikan keindahan alam Jawa Barat dengan keanekaragaman hayati. Tapi sayang tidak satupun hewan khas TKMC  kami jumpai. Hanya beberapa kupu-kupu aneka warna hinggap terbang di bunga liar. Tantangan terakhir ini menuruni tebing jalan curam menuju air terjun. Berpijak pada bebatuan dan tanah gembur serta berpegang pada  akar dan ranting pohon. Sesekali harus jalan sambil terduduk , menyeimbangkan kondisi badan yang mulai kelelahan. Lelah,  samar-samar suara curug membahana menebarakan harapan. Sudah tidak jauh lagi, tetap menyemangati diri sendiri dan beberapa rekan. Ternyata di bawah sana bukan curug tapi sungai kering dengan batunya yang terjal. Sekali lagi menapaki bukit kecil sampailah kami di curug Cisabuk.

Dua buah larik air terjun samar-samar terlihat. Keduanya tidak identik tapi sama-sama memuntahkan air pegunungan yang segar. Lalu  mengalir bersama turun ke sungai mengalunkan suara gemercik . Ah segarnya. Tahu begini tadi bawa pakaian untuk berenang. Sebuah pondok kayu sederhana berdiri tak jauh dari air terjun. Dulu tempat ini memang pernah menjadi kawasan wisata karena bisa dijangkau dari Sumedang dan Bandung. Namun tidak populer lagi seiring cerita mistis yang beredar di masyarakat tentang hilangnya pengunjung. Kondisi jalan ekstrim serta minimnya pengetahuan kondisi alam  bisa membuat siap saja tersesat di sinii. Oleh karena itu Teh Rini menyarankan membawa guide – penduduk setempat – jika ingin kemari dan menyusuri kawasan hutan TKMC.

Sinar matahari menerobos masuk di sela lebatnya hutan. Hangatnya tersamarkan oleh rindang pepohonan dan segarnya air pegunungan. Tidak terasa siang sudah lewat, saatnya kami kembali. Tidak ada jalan alternatif pulang menghindari bukit terjal dan lebatnya hutan. Semoga kami bisa sampai tepat waktu. Biasanya mental pengunjung akan turun ketika kembali  menyusuri jalan yang sama. Bayangan medan berat dan kondisi jalan becek serta cahaya  temaram ditinggalkan mentari merupakan ujian terberat. Jadi pesan utama sang guide , persiapkan fisik dan mental  serta perlengkapan yang akan dikenakan, terutama alas kaki. Pilih alas kaki yang memang dikondisikan untuk trekking, jangan pernah meremehkan alam. Banyak hal tak terduga bisa terjadi dan kita harus bersiap dengan segala kemungkinan.

Di tengah perjalanan  ada sedikit keganjilan. Sepertinya ada beberapa jalan yang tidak kita lalui sebelumnya.  Tapi kita tetap berpikir positif dan percaya 100 persen dengan sang guide. Sinar matahari menuntun kami ke arah pemukiman penduduk setelah melewati kebun kosong. Lega rasanya bisa sampai tepat waktu. Setelah beristirahat sejenak menikmati jajanan lokal kami kembali ke rumah TKMC .Mengunjungi rumah rusa sebelum kembali pulang ke rumah pohon.

Ingin tinggal berdampingan dengan rusa? Sebuah pondok kayu sederhana bergaya western lengkap dengan perapian hadir di TKMC. Bangunan ini disewakan kepada siapa saja yang ingin menikmati kehidupan khas peternakan. Sarana liburan sekaligus edukasi yang menarik buat anak-anak. Memberi makan hewan seperti rusa dan kuda hal yang menyenangkan buat mereka. Bangunannya cukup luas bisa menampung 20 orang. Tempat ideal melakukan acara gathering di akhir pekan.

Awan membumbung tinggi di angkasa, rasanya langit tak sanggup menahannya. Rintik hujan menyambangi Taman Nasional. Aroma khas hutan pinus makin menyeruak. Sayang sekali kami harus meninggalkan tempat ini. Usai berkemas kami melaksanakan sebuah ritual sederhana kepada alam. Mengadopsi sebuah pohon dengan menanamnya sendiri. Berharap pohon-pohon ini bisa terus berkembangan menjadi bagian dari paru-paru dunia. Senantiasa mengehembuskan oksigen bagi umat manusia.

Teh Rini bersama suami melepas kepulangan kami menuju Jakarta. Rasanya terlalu singkat berada di TKMC.  Berharap satu saat bisa kembali dan mencoba Jalur sepeda yang ada di sini. Tentu akan mengesankan bisa bersepeda sambil menikmati kekayaan hayati dan segarnya udara pegunungan. Senja makin tak terbendung, New Fortuner melaju ringan di antara jalan pedesaan. Lalu memasuki tol berbaur dengan kendaraan lain menuju kota kembang , Bandung. Kami harus berpisah dengan salah satu peserta,  Lola.

Selamat datang Jakarta. Perjalanan Bandung-Jakarta cukup lancar. Tapi memasuki ibukota negeri tercinta , kemacetan  akhir pekan menyambut. Seharusnya pukul 20:00 WIB  sudah tiba di markas Gramedia  Kompas , Kebun Jeruk. Tapi lewat dinihari Petualangan Bersama Sahabat Fortuner baru usai. Satu persatu rekan perjalanan dan kru NGI pulang. Saya memilih menuju bandara, sebab penerbangan pukul 5 pagi sudah menanti. Mengantarkan saya pada rutinitas pekerjaan di tengah hutan Jambi. Beruntung dalam perjalanan Bandung-Jakarta bisa tidur nyenyak  di  New Fortuner . Nampaknya malam ini berlanjut  dengan begadang di bandara Sukarno Hatta, seperti trip-trip sebelumnya.

Perjalanan kali ini sangat spesial. Menikmati sebuah petualangan singkat bersama tim National Geographic Indonesia dengan mengendarai New Fortuner. Menyelami keindahan dan keunikan alam Jawa Barat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Pengalaman batin yang  mendekatkan diri  pada alam. Alam tidak hanya untuk dikagumi  tapi harus didekati, disentuh dan  dimengerti . Agar tetap senantiasa bisa hidup berdampingan dengan  manusia.

Qori dan Lola di Jalan Braga Bandung
Qori dan Lola di Jalan Braga Bandung
Nasi Timbel Komplit - Menu di "Cabai Rawit"
Nasi Timbel Komplit – Menu di “Cabai Rawit”
Hamparan Sawah - Dataran Tinggi Cimanggung
Hamparan Sawah – Dataran Tinggi Cimanggung
Photo Session - Lola, Panji dan Qori
Photo Session – Lola, Panji dan Qori
Rumah Pohon -Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Rumah Pohon -Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Nasi Kuning - Sarapan di Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Nasi Kuning – Sarapan di Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Bersepeda di  Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Bersepeda di Taman Konservasi Masigit Cikareumbi
Persinggahan Pertama-Kebun Sayur
Persinggahan Pertama-Kebun Sayur
Curug Cisabuk
Curug Cisabuk
Curug Cisabuk
Curug Cisabuk
Kuda di Rumah Rusa
Kuda di Rumah Rusa
Memberi makan  rusa
Memberi makan rusa

5 pemikiran pada “Fortuner, Sahabat dan Alam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s