
Kabut tipis menyelimuti permukaan danau menebarkan rasa dingin yang teramat sangat. Ujung-ujung jari kaki saya pun mengeriput tanda kedinginan. Rasanya enggan menyambut pagi di danau terluas kedua di Sumatra. Tapi sayang meninggalkan momen yang belum tentu akan saya jumpai tahun depan. Melihat matahari pagi di tepi Danau Ranau.Ketika beberapa rekan masih terlelap di pondok kayu dan tenda, sayapun beringsut memburu sang fajar. Kemilaunya merahnya tidak seindah sunrise di tepi pantai tapi cukuplah untuk sebuah momen berharga.


Sebetulnya dermaga ini bukanlah view terbak untuk menikmati keindahan Danau Ranau di Lumbok. Namun karena semalam kita telat sampai di sini tidak memiliki banyak kesempatan untuk menentukan spot. Berdasarkan informasi penduduk Pondok Pemancingan Wisata yang berada di Pekon Kagungan merupakan tempat terbaik untuk menikmati keindahan alam.


Satu per satu rekan sayapun bangun diiringi cuaca yang semakin cerah kami menikmati sarapan di tepi danau. Menunya biasa saja hanya mie instant dan segelas kopi. Tapi pemandangannya yang luar biasa. Hamparan danau biru dengan latar belakang Gunung Seminung hijau membuat sarapan kali ini seperti breakfast di hotel berbintang.
Aktivitas warga Lumbok menjadi pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Nelayan mendayung jukung mencari ikan di tepi pantai atau wanita menjemur kopi Lampung yang terkenal. Di tengah danau sebuah karamba ikan terlihat samar tertutup kabut.

Rasanya belum puas jika pagi ini tidak menceburkan diri ke dalam danau. Usai sarapan satu persatu masuk ke dalam birunya air dengan beragam manuver. Ada yang loncat dari dermaga ataupun berenang dari tepian.
Belum puas rasanya bermain air di Danau Ranau namun wakktu sudah menunjukan pukul 09:00. Kami harus segera bersiap-siap melanjutkan perjalanan berikutnya menuju pantai Tanjung Setia.
Dalam hati saya berjanji akan kembali ke danau ini untuk menjelajah setiap sudut keindahan di sini.
