Refleksi Kisah Perjalanan

Akhir tahun saat yang tepat merenung dan intropeksi diri. Nampaknya sayapun harus melakukan hal yang sama. Mengingat semua perjalanan yang pernah dilakukan selama 2011.

Berawal dari kegiatan iseng-iseng, travelling menjadi hobi. Tanggal 20 Desember 2010 berkenalan dengan aktivitas backpacker melalui sebuah komunitas di dunia maya. Dari perjalanan seminggu mengelilingi Sulawesi sampai akhirnya bermuara ke kegiatan fotografi dan tulis menulis menimbulkan banyak inspirasi dan cerita. Jika menilik ke belakang banyak yang bisa dijadikan pelajaran.

Keserakahan Tidak Berbuah Manis

Berburu tiket pesawat seperti candu bagi backpacker rasanya. Ada kepuasaan ketika mendapat tiket murah dangan harga miring. Tapi keserakahan tidak berbuah manis.

Awal 2011 saya begitu bersemngat ketika mendapatkan tiket pp Jakarta-Jogja seharga 150 ribu rupiah. Namun sebulan sebelum keberangkatan maskapainya bangkrut dan tutup. Hingga detik ini tidak ada kabar refund dan penggantian tiket.

Bulan Oktober seharusnya melakukan perjalanan menuju negeri jiran. Paspor dan buget sudah dipersiapkan jauh jauh hari. Namun lagi lagi ketidak mujuran terjadi. Pekerjaan mendadak di saat libur membuyarkan liburan ke luar negeri.

Jauh di Pelupuk Mata

Pernah mendengar pribahasa , semut diujung lautan tampak tapi gajah dipelupuk mata tidak tampak? Begitulah apa yang saya jalani sekarang. Selalu trip ke tempat yang jauh tapi belum pernah melakukan perjalanan di kampung sendiri. Meskipun lahir di pulau sumatra namun saya belum pernah mengunjungi semua propinsi yang ada di pulau ini. Alasannya karena  tidak banyaknya komunitas backpacker di sumatra. Tapi akhirny penghujung tahun ini saya bergabung melakukan trip perdana dengan backpacker Medan mengekplorasi propinsi paling utara sumatra, Aceh.

Kutu Loncat Banyak Teman

Loncat dari satu komunitas backpacker satu ke komunitas backpacker lain menjadi pengalaman baru. Berkenalan dengan banyak orang dengan beragam latarbelakang ternyata menyenangkan dan membangun link pertemanan. Seperti hari ini,  pertama kali menjejakan kaki di kota Medan mendapatkan sambutan dari backpacker Medan.

Ketinggalan?

Ketinggalan atau ditinggal transportasi umum merupakan penglaman lumrah dalam perjalanan. Jika kita diburu waktu  penglaman ini akan menjadi mimpi buruk. Seperti tahun lalu penerbangan di trip pertama ketinggalan peswat, untung jadwal penerbangan delay. Atau perjalanan semalam menuju Medan ditinggal bus pelangi tapi untung dapet bis lain. Banyak hal yang tidak diinginkan dalalm perjalanan. So musti banyak banyak berdoa semoga perjalanan selalu dimudahkan.

Berjalan dan Berkarya

Awalnya menulis jadi kegiatan iseng setelah perjalanan, karena rasa sayang membuang semua kenangan dan foto. Dengan membagi melalui blog, sapa tau kisah perjalanan berguna bagi orang.

Meskipun tidak dihargai secara komersial alias dibayar dengan uang.  Cukup menyenangkan ketika tulisan tampil di majalah kantor. Atau tampil di web jalan jalan dan mendapatkan penghargaan berupa souvenir.

Murah Mahal

Setiap orang memiliki gaya jalan jalannya sendiri, tergantung buget. Menjalani beragam gaya jalan jalan memberikan hikmah bahwa setinggi apapun kehidupan kita sebetulnya kebutuhan dasar manusia hanya sandang dan pangan. Lainnya hanya memenuhi gaya hidup.

Miskin Materi, Kaya Pengalaman

Ada orang yang berpikiran bahwa sering jalan akan menguras kantong dan bikin bokek. Bener juga sih anggapan begitu. Tapi balik lagi ke gaya jalannya. Ada juga jalan jalan yang hemat. Untuk aktivitas ini saya tidak pernah mematok berapa bugetnya tiap bulan. Tapi sebetulnya buget itu bisa diambil dari alokasi rokok dan entertainment. Kebetulan saya tidak merokok , jadi buget 30 bungkus rokok sebulan bisa buat ongkos. Bayangkan kalo buget ini dikumpulkan selama 3 bulan. Cukup buat sekali trip.

Pengalaman dari setiap perjalanan tidak bisa dinilai dengan materi. Dari setiap cerita akan bertemu orang baru dan tempat baru. Jadi jangan pernah bandingkan sebuah pengalaman dengan materi.

Tidak Ada Perjalanan Sempurna

Membuat itinerary perjalanan merupakan kewajiban untuk memperkirakan buget dan jadwal. Terutama bagi yang memiliki keterbatasan waktu dan uang. Namun ketika di lapangan semuanya bisa meleset. Kita melewati beberapa spot atau hal yang paling buruk ketingalan jadwal keberangkatan bus, kapal bahkan pesawat.

Kondisi cuaca yang tidak bersahabat terkadang membuat kita hanya berdiam diri di kamar hotel atau tenda. Merasa hanya numpang tidur setelah melakukan perjalanan ratusan kilometer.

Beberapa orang tidak mudah menghadapi kenyataan perjalanan yang tidak sempurna. Perjalanan yang seharusnya menghadirkan kesenangan menjadi hari hari yang penuh keluhan.

Meskipun smuanya tidak sempurna cobalah untuk menikmati setiap proses perjalanan. Karena keluhan juga tidak akan membuat perjalanan menjadi sempurna.

Diterima Atau Ditolak

Pengalaman ekstrim backpacking akhir tahun di Aceh dengan bemodalkan tenda memberikan pengalaman berharga. Aceh merupakan propinsi di Indonesia yang menjalankan Syariah Agama Islam. Melakukan kegiatan oudoor camping di beberapa tempat wisata tidaklah mudah. Apalagi rombongan kami terdiri dari anggota yang berbeda janis kelamin (pria dan wanita).

Penolakan lebih sering kami terima, meskipun kami sudah meminta ijin secara formal dengan melampirkan dokumen resmi. Tapi ada juga yang bisa menerima keberadaan kami dan menyambut dengan tangan terbuka.

Terkadang penolakan timbul bukan karena alasan syariah tapi lebih ke gaya jalan “miskin”.  Rasanya bagi beberapa orang , akan sangat nyaman melihat bule membawa tas carielbesar keliling kota dibandingkan warga lokal.

Satu tempat di Sabang , tetua adat memberikan solusi agar para wanita yang ingin berkemah dipersilakan tinggal di rumah warga. Sedangkan yang pria bisa membangun tenda.

Apapun respon nya kita harus siap dengan segala konsukwensinya. Menghormati dan menerima keputusan warga lokal adalah kewajiban. Karena  seperti pepatah disitu bumi dipijak, disitu langit dijunjung

Berkaca dari semua kisah perjalanan selama satu tahun, berharap tahun depan diberikan rezeki, umur dan kesempatan untuk menjelajahi keindahan alam Indonesia. Terimakasih kepada semua rekan yang pernah jalan bareng.  salam ransel…

2 pemikiran pada “Refleksi Kisah Perjalanan

  1. Jelajah Aceh 2011 part 1 sampe 16 sudah dilalap habis. dan postingan ini mewakili identitas penulis dalam menjelajah keindahan negeri. sebenarnya saya sudah lihat rencana ngetrip bareng teman2 backpacker medan, ingin bergabung, hanya saja agendanya di peak season. dan tahu sendiri kan harga tiket pesawat di tanggal-tanggal tersebut. suatu saat ingin menjelajah pulau sumatera, tentu lebih asyik dengan tipe perjalanan seperti episod jelajah aceh di akhir tahun lalu. semoga satu saat bisa bergabung. salam….

    iman rabinata
    tarakan / kalimantan timur

    Suka

    1. Terimakasih sudah mampir…, saya sebetulnya malu sebagai orang yg lahir di sumatra baru bisa menjelajah bumi andalas…
      padahal beberapa waktu yang lalu sempat trip ke jawa sampai sulawesi. makanya agenda tahun ini ingin menjelajah sumatra.
      rencana bulan maret ingin keliling padang. berharap rekan bpm mengagendakan perjalanan ke nias serta mentawai…

      salam kenal dan ransel dari saya..
      Penulis

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s